RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pasangan pengantin berinisial F dan R menjadi korban dugaan penipuan oleh wedding organizer (WO) MCS yang berkantor di Jakarta Timur.
Akibatnya, pasangan tersebut terpaksa menggelar pernikahan tanpa resepsi dan hanya melangsungkan akad nikah sederhana di Aula KH Noer Ali Islamic Centre Bekasi, Sabtu (23/5). Resepsi gagal digelar setelah sejumlah vendor rekanan WO, seperti dekorasi, katering, videografer, hingga hiburan, tidak hadir pada hari pelaksanaan.
F mengaku awalnya tidak menaruh curiga. Sebab, seluruh biaya paket pernikahan all in, mulai dari dekorasi, rias pengantin, hingga katering, diklaim telah dilunasi kepada pihak WO sejak April 2026.
Kecurigaan mulai muncul beberapa hari menjelang acara. Pihak pengelola gedung menghubunginya untuk menanyakan pelunasan pembayaran yang ternyata belum diterima.
“Saya pikir semuanya sudah clear, tinggal TM (technical meeting,red) saja,” ujar F dalam sebuah video.
Memasuki H-7 acara, pihak gedung terus menghubungi dirinya terkait pembayaran yang belum masuk. Saat dia konfirmasi ke pihak WO, mereka meyakinkan bahwa pelunasan akan segera dilakukan.
“Dari H-7 saya terus menghubungi pihak Marwah, tapi mereka bilang akan dilunasi,” katanya.
Pihak pengelola gedung bahkan memberikan kelonggaran waktu hingga H-2 acara, meski aturan semestinya mewajibkan pelunasan dilakukan H-14 sebelum pelaksanaan.
Pihak gedung menegaskan, apabila pembayaran tidak diselesaikan, akses masuk bagi dekorasi maupun katering tidak dapat diberikan.
“Karena kalau misalkan tidak dilunasi pada H-7, harusnya jadwalnya H-14, cuman ini dikasih dispensasi H-2, kalau misalkan tidak dilunasi, kita tidak bisa masuk venue, tidak bisa dekor juga,” tuturnya.
Khawatir resepsi gagal, pasangan tersebut akhirnya mencari langsung keberadaan WO sehari sebelum acara. Mereka mendatangi galeri WO di Jakarta Timur, namun lokasi itu telah kosong. Berdasarkan informasi warga sekitar, pihak WO disebut pindah ke lokasi lain berupa gudang.
Di lokasi itu, pasangan sempat bertemu dengan suami istri yang disebut sebagai pemilik WO. Dalam pertemuan tersebut, pihak WO kembali menjanjikan pembayaran venue akan dilakukan sore hari dengan alasan dana belum cair.
F bahkan sempat membuat surat pernyataan bermaterai terkait kesanggupan pengembalian uang apabila WO gagal memenuhi kewajibannya pada hari acara. Namun tak lama kemudian, pasangan pemilik WO meminta izin keluar sebentar dan tidak kembali lagi.
“Saya menunggu sampai malam, mungkin sekitar jam 7 di sana, cuma jam 7 jam 8 tetep enggak balik-balik juga. Saya berpikir, ‘Oh, ini kayaknya kabur nih’,” ujarnya.
Menyadari resepsi kemungkinan besar tidak dapat terlaksana, keluarga akhirnya memutuskan tetap menggelar akad nikah secara sederhana tanpa resepsi. Mereka juga menghubungi satu per satu tamu undangan untuk menyampaikan permintaan maaf atas pembatalan acara resepsi.
“Dari situ saya berkumpul dengan keluarga, ini maunya gimana? Kita memutuskan tidak mengadakan resepsi dan kita menghubungi tamu-tamu yang sudah kita undang, dan kita kabari, mohon maaf kalau acara resepsi ini tidak dapat berlangsung,” tuturnya.
Meski dalam kondisi terpukul, F mengaku masih bersyukur karena sejumlah vendor lain seperti MUA, hairdo, MC, dan etayer tetap bersedia membantu jalannya akad nikah. Akad akhirnya tetap berlangsung sederhana tanpa dekorasi dan tanpa hidangan catering seperti yang sebelumnya telah direncanakan.
Hingga kini, pasangan tersebut masih syok dan belum dapat merinci total kerugian akibat dugaan penipuan tersebut. (rez)











