B Fenomena El Niño diperkirakan kembali berkembang mulai pertengahan 2026 setelah sistem iklim global berada dalam fase netral pada awal tahun.
Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) menyebut peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik khatulistiwa menjadi sinyal awal munculnya fenomena tersebut.
Berikut 5 hal penting yang berkaitan mengenai potensi El Niño 2026 dan dampaknya terhadap kondisi iklim dunia, seperti dilansir dari laman resmi WMO, dikutip dari Jawapos, Senin (18/5/2026).
BACA JUGA: Antisipasi El Nino, Petani Disarankan Tanam Palawija
1. El Niño Diperkirakan Mulai Berkembang Pertengahan 2026
WMO memprediksi fenomena El Niño mulai terbentuk antara periode Mei hingga Juli 2026. Indikasi tersebut terlihat dari meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur. Para ahli iklim menilai peluang kemunculan El Niño cukup tinggi setelah berakhirnya fase La Niña pada awal tahun.
Meski demikian, tingkat kekuatan fenomena tersebut masih terus dipantau karena prakiraan iklim musiman memiliki tantangan tersendiri pada awal tahun.
2. El Niño Berpotensi Memicu Kenaikan Suhu Global
Fenomena El Niño umumnya menyebabkan peningkatan suhu rata-rata di berbagai wilayah dunia. Kondisi ini terjadi karena pemanasan laut di Samudra Pasifik dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer secara global. WMO memperkirakan suhu permukaan daratan pada periode Mei hingga Juli 2026 cenderung berada di atas normal di sebagian besar kawasan dunia. Dampak pemanasan diperkirakan paling terasa di beberapa wilayah seperti Amerika Utara bagian selatan, Eropa, hingga Afrika Utara.
3. Curah Hujan Berpotensi Berubah di Berbagai Wilayah
Kemunculan El Niño biasanya mengubah pola hujan di banyak negara dengan dampak yang berbeda-beda. Sejumlah wilayah diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan, sementara daerah lain justru menghadapi ancaman kekeringan lebih tinggi.
Negara seperti Indonesia dan Australia secara historis sering mengalami musim yang lebih kering ketika El Niño berlangsung. Sebaliknya, beberapa wilayah di Amerika Selatan dan Afrika Timur cenderung menerima hujan lebih banyak dibanding biasanya.
4. Risiko Cuaca Ekstrem Diperkirakan Meningkat
El Niño sering dikaitkan dengan meningkatnya peluang terjadinya cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Suhu laut yang lebih hangat dapat menyediakan energi lebih besar bagi pembentukan gelombang panas, hujan lebat, hingga badai tertentu. Dalam musim panas belahan bumi utara, pemanasan laut Pasifik juga dapat memengaruhi aktivitas badai tropis. Karena itu, banyak negara mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan dampak cuaca yang lebih tidak menentu.
5. Sektor Pertanian hingga Energi Diprediksi Terdampak
Prakiraan El Niño menjadi perhatian penting bagi berbagai sektor yang sensitif terhadap perubahan cuaca. Bidang pertanian, pengelolaan air, kesehatan, hingga energi diperkirakan perlu menyesuaikan strategi menghadapi kemungkinan perubahan iklim musiman.
Pemerintah dan organisasi kemanusiaan biasanya menggunakan prediksi ENSO untuk menyusun langkah mitigasi lebih awal. Dengan adanya prakiraan sejak sekarang, berbagai negara diharapkan memiliki waktu lebih panjang untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi El Niño 2026. (rbs)











