Berita Bekasi Nomor Satu

Jalan CBL di Cibitung Ambles, Akses Mobil Terputus

PUTUS AKSES RODA EMPAT: Kondisi Jalan CBL yang ambles di Desa Kertamukti, Cibitung, Kamis (21/5). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kondisi ruas Jalan Cikarang Bekasi Laut (CBL) di Desa Kertamukti, Kecamatan Cibitung, kian memprihatinkan. Jalan penghubung antarwilayah Babelan, Tambun Utara, Tambun Selatan, hingga Cikarang itu tak lagi dapat dilalui kendaraan roda empat karena ambles parah sejak Rabu (20/5).

Amblesnya jalan terjadi secara bertahap dalam beberapa waktu terakhir. Namun, pada Rabu siang, rekahan tanah melebar dan semakin dalam. Celah yang terbentuk menyisakan jalur sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor secara bergantian.

Sejumlah warga tampak berjaga di sekitar lokasi untuk mengarahkan pengendara. Mereka juga memasang pembatas darurat menggunakan ban bekas dan batang pohon guna mencegah kendaraan terperosok ke area jalan ambles yang berbatasan langsung dengan saluran drainase.

Kondisi tersebut dikeluhkan para pengguna jalan, terutama pengemudi kendaraan roda empat yang terpaksa mencari jalur alternatif lebih jauh. Seorang sopir mobil pikap, Mulyadi (42), mengaku kecewa karena tidak ada papan pemberitahuan di persimpangan sebelumnya yang menginformasikan jalan sudah tidak bisa dilalui.

“Saya tidak tahu kalau amblesnya sudah separah ini. Tadi dikira masih bisa lewat, ternyata lubangnya dalam sekali dan badan jalan sudah miring. Mau tidak mau harus putar balik lewat jalan perkampungan, itu pun jauh muternya dan jalannya sempit,” ujar Mulyadi kepada Radar Bekasi di lokasi, Kamis (21/5).

Sementara itu, warga sekitar, Anen (47), mengatakan amblesnya jalan CBL bukan kali pertama terjadi. Tahun lalu, titik yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi saat ini juga sempat mengalami kerusakan serupa dan telah diperbaiki.

Ia menduga amblesnya jalan dipicu rembesan air dari saluran irigasi di sisi jalan. Terlebih, kondisi tanah di kawasan tersebut dinilai labil.

“Ambles ini baru kemarin Rabu, panjangnya ada 20 meter lebih. Air dari kali irigasi kan sempat naik terus rembes ke tanah dibawa jalan, jadinya ambles. Kalau gak ambles jalan ini juga sering tergenang air,” kata Anen.

Menurutnya, warga sekitar berinisiatif menjaga lokasi dan mengatur lalu lintas agar sepeda motor tetap bisa melintas bergantian. Ia khawatir kerusakan akan semakin meluas dan memutus total akses jalan jika tidak segera ditangani.

“Denger-denger alat berat udah mau turun, tapi dari kemarin gak turun-turun. Kalau jalan ini udah diancurin, mungkin baru bisa dilalui mobil walaupun rusak,” tambahnya

Sementara itu, Kepala Bidang Pembangunan Jalan pada Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDA-BMBK) Kabupaten Bekasi, Dede Chairul, mengatakan perbaikan permanen jalan idealnya membutuhkan anggaran sekitar Rp20 miliar per kilometer.

Pada tahun anggaran 2026, pihaknya telah menggeser fokus anggaran untuk menangani tiga titik jalan CBL yang mengalami kerusakan darurat. Salah satunya ruas jembatan Desa Muktiwari–Pulo Puter dengan alokasi pelebaran jalan sekitar Rp2 miliar.

Selain itu, rekonstruksi ruas Desa Kertamukti juga disiapkan dengan anggaran Rp2,1 miliar untuk pemasangan struktur bore pile di tebing longsor sepanjang 50 meter.

Tak hanya itu, pemerintah daerah juga menyiapkan dana taktis darurat sebesar Rp4 miliar guna menyisir titik-titik rawan di sepanjang koridor CBL. Saat ini, proses penyusunan Detail Engineering Design (DED) tengah dimatangkan agar pengerjaan di lapangan berjalan lebih presisi dan permanen.

“Termasuk kami juga bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai untuk memperkuat sisi jalan agar badan jalan lebih aman. Lalu nantinya harus ada pembatasan kendaraan besar yang melintas,” tandasnya. (ris)