RADARBEKASI.ID, BEKASI – Langkah kaki saya terasa pelan saat berjalan menuju Jamarat di Mina. Lautan manusia tampak bergerak perlahan di antara lorong-lorong bertingkat yang dipenuhi jemaah dari berbagai negara. Matahari Arab Saudi siang itu begitu menyengat. Suhu mencapai hampir 47 derajat celsius. Angin panas menerpa wajah tanpa henti, sementara petugas terus mengingatkan jemaah agar menjaga tenaga dan tidak memaksakan diri.
Di tengah panas yang membakar dan tubuh yang mulai lelah, hati saya justru dipenuhi rasa haru. Selama ini saya hanya melihat prosesi lempar jumrah melalui layar televisi. Kini, saya sendiri berdiri di tempat itu, menjadi bagian dari jutaan tamu Allah yang datang dari seluruh penjuru dunia.
Hari Rabu menjadi pengalaman pertama saya melempar Jumrah Aqabah. Di tangan saya tergenggam tujuh butir batu kecil. Batu-batu itu tampak sederhana, tetapi terasa begitu berat ketika saya mulai melangkah mendekati lokasi pelemparan.
Lantunan takbir terdengar bersahutan. Doa-doa dipanjatkan dengan suara lirih. Saat batu pertama terlempar, dada saya mendadak bergetar. Saya mencoba memahami makna dari ritual yang sudah berlangsung sejak zaman Nabi Ibrahim itu.
Ternyata yang dilempar bukan sekadar batu ke sebuah tiang. Lebih dari itu, saya sedang mencoba melempar segala hawa nafsu dalam diri. Rasa iri, amarah, kesombongan, kebencian, dan berbagai sifat buruk yang selama ini sering sulit dikendalikan.
“Makna pelemparan jumrah adalah tentang mengusir segala bentuk godaan dan sifat buruk dalam diri kita,” ujar Ketua Kloter JKS 22, Arif Rahman, saat memberikan pengarahan kepada jemaah.
Kalimat itu terus terngiang di kepala saya selama berada di Mina.
Usai melempar Jumrah Aqabah, saya melanjutkan tahalul dengan memotong rambut. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi hati. Rasanya seperti baru saja melewati satu perjalanan batin yang panjang. Bukan hanya tubuh yang lelah, tetapi hati juga seperti sedang dibersihkan sedikit demi sedikit.
Keesokan harinya, saya kembali berjalan menuju Jamarat bersama jutaan jemaah lain untuk melempar tiga jumrah, yakni Ula, Wusta, dan Aqabah. Masing-masing dilempar dengan tujuh batu.
Agar terhindar dari cuaca ekstrem, rombongan kami memilih berangkat setelah subuh. Udara pagi terasa sedikit lebih bersahabat. Saat kembali ke tenda sekitar pukul 08.30 waktu Arab Saudi, matahari mulai terasa menyengat.
Kebijakan pembatasan waktu yang diterapkan Pemerintah Arab Saudi benar-benar terasa manfaatnya. Jemaah dilarang keluar tenda pada pukul 10.00 hingga 14.00 WAS demi menghindari risiko kepadatan dan cuaca panas ekstrem.
Meski begitu, banyak jemaah tetap tampak kelelahan. Ada yang harus menggunakan kursi roda, ada pula yang hanya bisa duduk bersandar sambil mengatur napas. Jemaah lanjut usia dan yang memiliki risiko kesehatan tinggi bahkan tidak diperkenankan melempar jumrah sendiri.
Di regu saya, ada seorang jemaah lansia yang kondisinya sudah sangat lemah. Akhirnya saya membadalkan lempar jumrahnya. Saat menggenggam batu-batu kecil miliknya, hati saya terasa berbeda. Saya membayangkan betapa besar keinginannya untuk bisa melempar sendiri, tetapi tubuhnya sudah tak lagi kuat berjalan jauh.
Momen itu membuat saya sadar, ibadah haji bukan hanya tentang hubungan seorang hamba dengan Allah. Di dalamnya ada kepedulian, kebersamaan, dan saling membantu di antara sesama jemaah.
Hari-hari Tasyrik akhirnya berlalu. Mina yang beberapa hari terakhir dipenuhi jutaan manusia perlahan mulai ditinggalkan. Tenda-tenda putih masih berdiri rapat, tetapi satu per satu jemaah mulai bersiap meninggalkan tempat penuh sejarah itu, termasuk saya yang dijadwalkan meninggalkan Mina pada Jumat siang.
Entah mengapa, ada rasa sedih yang tiba-tiba datang ketika saya menatap Mina untuk terakhir kalinya. Tempat yang dipenuhi doa, air mata, perjuangan, dan penyesalan itu perlahan harus saya tinggalkan.
Dalam hati saya berdoa pelan.
“Ya Allah, mampukan saya kembali ke Mina suatu hari nanti. Izinkan saya kembali melempar jumrah di tempat ini.”
Sebab saya akhirnya mengerti, yang sebenarnya dilempar di Mina bukan hanya batu kecil, melainkan seluruh hawa nafsu yang selama ini mengotori hati manusia. (*)











