Berita Bekasi Nomor Satu

Satu Desa di Kabupaten Bekasi Mulai Kekeringan, Warga Kesulitan Air Bersih

ILUSTRASI: Warga memompa air di Serangbaru, beberapa waktu lalu. Satu desa di Kabupaten Bekasi mulai mengalami kekeringan akibat musim kemarau. FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Satu desa di Kabupaten Bekasi mulai mengalami kekeringan akibat musim kemarau. Kondisi tersebut memicu krisis air bersih bagi warga.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, mengatakan Desa Nagasari di Kecamatan Serangbaru sudah mengalami kekeringan. Selain itu, sejumlah desa di empat kecamatan lain juga masuk kategori rawan kekeringan.

“Baru satu desa yang mengalami kekeringan. Namun seperti tahun sebelumnya, yang rawan wilayah selatan, seperti Bojongmangu, Cibarusah, Serang Baru, Cikarang Pusat sebagian,” ucap Dodi saat dikonfirmasi, Kamis (11/6).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September. Kondisinya diperkirakan lebih kering dibanding tahun sebelumnya.

Meski titik rawan kekeringan saat ini berada di wilayah selatan, BPBD meminta masyarakat di kawasan utara Kabupaten Bekasi tetap waspada. Dodi berkaca pada pengalaman kemarau 2024 yang menyebabkan dampak kekeringan meluas hingga wilayah utara akibat menurunnya kualitas sumber air.

“Kejadian 2024 meluas sampai ke wilayah utara. Karena di sana air sungai sudah terkontaminasi air laut. Jadi tidak bisa dikonsumsi masyarakat. Waktu itu kan sampai tanggap darurat kekeringan,” ujarnya.

Dodi mengatakan warga Desa Nagasari telah mengajukan permohonan bantuan air bersih pada Selasa (9/6). BPBD kemudian mendistribusikan 10 ribu liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan 30 kepala keluarga atau sekitar 90 jiwa di dua titik, yakni Kampung Tegal Badak RT 009/005 dan Kampung Pasir Kupang RT 002/001.

Meski baru satu desa yang terdampak secara langsung, BPBD mengklaim telah melakukan berbagai langkah mitigasi dan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan kekeringan.

Menurut Dodi, masyarakat di empat kecamatan rawan diminta segera melakukan langkah antisipasi. Pemerintah desa diminta mengajukan surat permohonan bantuan air bersih kepada BPBD apabila mulai terjadi kekeringan, disertai data titik koordinat, jumlah warga terdampak, dan nomor kontak penanggung jawab.

Selain itu, warga juga diminta menyiapkan sarana penampungan air secara kolektif di lokasi yang mudah dijangkau kendaraan tangki.

“Di lokasi yang berpotensi terdampak bencana kekeringan agar disiapkan bak penampungan air (masjid, musala, toren, bak terpal, dll) di lokasi yang mudah diakses armada mobil tangki,” terang Dodi.

Menurut Dodi, penyediaan toren maupun bak penampungan komunal penting untuk mempercepat distribusi bantuan air bersih.

“Tujuannya untuk efektivitas mempercepat proses pendistribusian air bersih, selanjutnya warga bisa ambil air di penampungan air tersebut dan mobil tangki bisa ambil air lagi di cabang PDAM terdekat,” ucapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja melalui Surat Edaran Nomor BC.03.02/SE-58/BPBD/2026 tentang Peningkatan Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan dalam Mitigasi Musim Kemarau 2026 menyebut musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan lebih kering dibanding kondisi normal.

Menghadapi kondisi tersebut, Asep mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, serta menjaga kebersihan lingkungan. Petani juga diminta menyesuaikan pola tanam dengan menggunakan varietas yang lebih tahan kekeringan dan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air.

“Langkah-langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kekeringan dan memastikan ketahanan air serta pangan,” tutup Asep. (ris)