RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pesona dataran tinggi Dieng seolah tidak pernah ada habisnya. Salah satu permata indahnya dapat ditemukan di Desa Wisata Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Desa ini menyimpan harmoni antara keindahan alam dan ketulusan budaya lokal. Destinasi menakjubkan di lereng gunung Prau ini kini resmi diperkenalkan sebagai desa wisata binaan terbaru Bakti BCA.
Komitmen desa dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan keselamatan wisatawan membawa desa ini masuk ke dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Tidak tanggung-tanggung, Desa Wisata Patakbanteng menyabet Juara 1 kategori Resiliensi pada penghargaan tersebut.
Selepas penghargaan ADWI 2024, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kemudian bermitra dengan Kemenparekraf, untuk melakukan pembinaan lanjutan kepada Desa Patakbanteng. Hal ini selaras dengan komitmen BCA dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Indonesia, khususnya lewat program Bakti BCA.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan bahwa Desa Patakbanteng memiliki potensi besar. “BCA berkomitmen untuk meningkatkan daya tarik wisata dan mengakselerasi perekonomian lokal secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kami senantiasa mendorong setiap Desa Bakti BCA untuk menonjolkan karakteristik uniknya. Melalui strategi pendampingan menyeluruh, mulai dari pembinaan, peningkatan kapasitas SDM, hingga perluasan akses pasar, kami ingin memastikan seluruh desa binaan dapat naik kelas menjadi komunitas yang unggul dan berdaya,” kata Hera.

Tahun ini, Desa Patakbanteng juga dipilih menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program Genera-Z Berbakti 2026. Program ini merupakan call for proposal untuk kelompok mahasiswa/i melakukan pengabdian masyarakat di lokasi desa binaan Bakti BCA. Sepanjang bulan Juli 2026, salah satu tim mahasiswa yang menjadi pemenang program akan melakukan live in dan mengimplementasikan inovasi sosial demi kemajuan desa.
Menikmati Matahari Terbit dari Jalur Pendakian
Berlokasi di kaki Gunung Prau pada ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Wisata Patakbanteng menawarkan pengalaman wisata yang autentik dengan suguhan pesona alam pegunungan dan kekayaan budaya lokal yang masih terjaga. Karakter geografisnya yang dikelilingi oleh Gunung Pakuwaja, Dataran Tinggi Dieng dan Gunung Sumbing, serta Gunung Sindoro, membuatnya memiliki udara sejuk yang berkisar antara 15℃ hingga 25℃.
Akses mudah dan sajian pemandangan golden sunrise yang memukau membuat Desa Wisata Patakbanteng menjadi jalur favorit pendaki gunung. Saat musim liburan panjang, kunjungan wisatawan dapat mencapai lebih dari 25.000 orang, menjadikannya salah satu desa wisata paling ramai di kawasan Dieng. Pada tahun 2025 saja, desa Patakbanteng mencatatkan jumlah lebih dari 122.000 pengunjung lokal dan mancanegara.
Untuk mengakomodasi minat wisatawan, desa Patakbanteng menawarkan fasilitas yang lengkap dan memenuhi kenyamanan pendakian, mulai dari penginapan, penyewaan peralatan outdoor, serta toko-toko yang bisa dikunjungi pendaki untuk makan atau membeli oleh-oleh. Untuk memaksimalkan kunjungan di desa Patakbanteng, berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan wisatawan:
-
Mendaftar di basecamp
Sebelum mendaki, wisatawan wajib melakukan registrasi di basecamp pendakian Gunung Prau yang menjadi pusat informasi jalur, penyewaan perlengkapan, dan titik istirahat sebelum pendakian dimulai.
-
Menginap di homestay lokal
Untuk menikmati pengalaman yang lebih imersif, wisatawan dapat menginap di salah satu dari sekitar 13 homestay atau cabin yang dikelola masyarakat setempat. Harga menginap berkisar Rp250.000–Rp1.000.000 per malam, tergantung fasilitas yang tersedia.
-
Mencoba atraksi wisata beragam
Desa Patakbanteng menyediakan berbagai paket wisata, seperti Banteng Jeep Adventure (wisata off-road menelusuri medan berbukit dengan panorama Dieng), Wisata Edukasi Carica (mengenal budidaya dan pengolahan buah carica, komoditas khas dataran tinggi Dieng), hingga Festival Gunung Prau yang digelar setiap Agustus dan menampilkan kesenian serta budaya lokal.
-
Mempersiapkan perjalanan dari Jakarta
Desa Patakbanteng dapat dicapai melalui penerbangan Jakarta–Semarang ataupun Jakarta–Yogyakarta, dan dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 3–3,5 jam. Alternatif lain, wisatawan dapat menggunakan kereta api menuju Stasiun Purwokerto dan melanjutkan perjalanan darat sekitar 3,5–4 jam.
Menyaksikan Tradisi dan Kearifan Lokal Desa Patakbanteng
Di balik keindahan alamnya, Desa Patakbanteng menyimpan kekayaan budaya yang masih hidup dan dilestarikan masyarakatnya. Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah Baritan Terang Bulan, upacara adat yang digelar setiap bulan Suro pada malam ke-10 dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa untuk keselamatan dan kesejahteraan desa.
Desa ini juga merawat Tari Patak Lengger, sebuah tarian tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Tarian ini rutin ditampilkan dalam berbagai acara adat dan festival budaya sebagai ekspresi kegembiraan dan rasa syukur, dan mencerminkan nilai kebersamaan dan spiritualitas yang kuat dalam komunitas Desa Patakbanteng.
Tidak lengkap rasanya mengunjungi Patakbanteng tanpa membawa pulang representasi cita rasa lokal hasil olahan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Dengan memanfaatkan kesuburan komoditas vulkanik Dieng, para pelaku usaha lokal sukses meramu buah endemik pepaya gunung (carica) menjadi manisan segar yang mendunia.
Selain itu, udara dingin lereng Gunung Prau juga melahirkan kreativitas minuman herbal tradisional yang terbuat dari tanaman purwoceng (Pimpinella pruatjan). Minuman yang tersohor dengan julukan “Ginseng Jawa” ini berkhasiat penghangat tubuh, meningkatkan vitalitas, serta melancarkan peredaran darah.
Terakhir, Dieng memiliki komoditas unggulan yakni kentang yang diolah menjadi produk camilan. Kentang kuning dari dataran tinggi ini berkadar air rendah dan bertekstur pulen. Berkat kualitasnya yang tidak mudah hancur saat dimasak, kentang ini sangat ideal diolah menjadi keripik, perkedel, kentang mustofa, maupun camilan khas lainnya. (bps/*)











