RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Kegagalan Timnas Korea Selatan di ajang Piala Dunia 2026 berbuntut panjang. Mantan pelatih Timnas Korea Selatan, Hong Myung-bo, dikabarkan menjadi sasaran amarah publik setelah Taegeuk Warriors gagal melangkah ke babak 32 besar turnamen bergengsi tersebut.
Timnas Korea Selatan harus mengakhiri perjuangannya lebih cepat usai kalah bersaing di Grup A. Kekalahan tipis 0-1 dari Timnas Afrika Selatan menjadi penentu yang membuat langkah Korea Selatan terhenti. Hasil tersebut memicu kekecewaan besar di kalangan pendukung sepak bola Negeri Ginseng yang menilai pencapaian tim jauh dari harapan.
Tekanan yang terus meningkat akhirnya membuat Hong Myung-bo mengambil keputusan besar. Pada Minggu, 28 Juni 2026, ia resmi mengundurkan diri dari kursi pelatih kepala Timnas Korea Selatan. Namun, pengunduran diri tersebut ternyata tidak langsung meredam kemarahan sebagian publik.
Menurut sejumlah laporan media, Hong Myung-bo bahkan menjadi target ancaman pembunuhan setelah kepulangan skuad Korea Selatan dari Amerika Utara. Dikutip dari media Belanda, De Telegraaf, seorang anonim disebut menuliskan ancaman di sebuah forum daring dan mengaku akan membunuh sang pelatih ketika tiba kembali di Korea Selatan.
Situasi itu membuat aparat keamanan mengambil langkah serius. Pengamanan di sekitar Bandara Incheon, yang menjadi pintu masuk utama ke Korea Selatan, diperketat. Kepolisian juga meningkatkan prosedur keamanan selama proses kepulangan para pemain dan staf tim nasional guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Gelombang kritik terhadap Hong Myung-bo juga terjadi di berbagai lini. Tidak hanya di media sosial, beberapa stasiun televisi Korea Selatan dikabarkan sampai mengaburkan wajah sang pelatih ketika menayangkan liputan terkait kegagalan tim nasional di Piala Dunia 2026. Tindakan tersebut menjadi simbol kuat besarnya kekecewaan yang dirasakan publik terhadap hasil yang diraih Taegeuk Warriors.
Di media sosial X, beredar pula unggahan yang menunjukkan sejumlah pemilik toko dan kafe memasang peringatan agar Hong Myung-bo tidak memasuki tempat usaha mereka. Bahkan saat kembali ke tanah air, mantan pelatih tersebut disebut sempat mendapat teriakan bernada marah dari sejumlah suporter yang menunggu kedatangannya.
Baca Juga: Byun Yo Han, Ha Yun Kyung, dan Ahn Jae Hong Bersatu di Film Misteri Baru, Ceritanya Bikin Merinding!
Sorotan atas kegagalan Korea Selatan juga sampai ke tingkat pemerintahan. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, mengaku sangat terpukul dengan hasil yang diraih tim nasional. Melalui akun media sosial pribadinya, ia menyampaikan rasa kecewa sekaligus meminta investigasi menyeluruh terkait penyebab kegagalan tersebut.
“Saya tidak hanya dibuat terpukul dengan hasil yang di luar dugaan ini, saya juga benar-benar tak bisa berkata-kata,” kata Presiden Lee di akun X pribadinya, dikutip Rabu (1/7/2026).
Presiden Lee menegaskan bahwa pemerintah telah memberikan dukungan besar, termasuk melalui anggaran yang bersumber dari pajak masyarakat, untuk mendukung partisipasi tim nasional di Piala Dunia.
Karena itu, ia meminta Kementerian Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata melakukan penyelidikan mendalam guna mengidentifikasi akar masalah, mengevaluasi dampak yang ditimbulkan, serta merumuskan solusi konkret agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Selain itu, Lee juga mengisyaratkan adanya dorongan reformasi dalam tata kelola olahraga nasional Korea Selatan. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pembinaan dan manajemen sepak bola di negara tersebut setelah kegagalan yang dianggap mengecewakan banyak pihak.
Sebelum resmi meninggalkan jabatannya, Hong Myung-bo sempat menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Korea Selatan. Ia mengaku keputusan mundur bukanlah hal yang mudah, namun merasa langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab atas hasil yang diperoleh tim nasional.
Dalam pernyataannya, Hong mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan refleksi mendalam selama dua tahun terakhir. Ia menilai pengunduran diri merupakan keputusan terbaik demi masa depan sepak bola Korea Selatan.
Menurutnya, setiap keputusan yang diambil selama menangani tim nasional, mulai dari pemilihan pemain hingga strategi pertandingan, selalu dilakukan dengan tujuan membawa Korea Selatan meraih hasil terbaik.
Meski telah memilih mundur dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, kontroversi yang menyelimuti Hong Myung-bo tampaknya belum mereda. Ancaman, boikot, hingga kemarahan suporter menjadi gambaran besarnya tekanan yang harus dihadapi sang pelatih setelah kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026. (mna)











