Berita Bekasi Nomor Satu

Parsadaan Simbolon Bekasi Punya Pengurus Baru, Siap Perkuat Persaudaraan hingga Buka Peluang Kerja

KOMPAK: Peserta membawa papan nama Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi Raya saat prosesi pelantikan pengurus baru di Graha Sintesa, Rawalumbu, Kota Bekasi, Minggu (19/7). FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi Raya resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Di bawah kepemimpinan Omsron Lasman Simbolon, organisasi kekerabatan tersebut menargetkan tidak hanya menjadi wadah pelaksanaan adat, tetapi juga berperan dalam meningkatkan pendidikan serta membuka peluang kerja bagi warga Simbolon di Bekasi Raya.

Ketua Parsadaan Simbolon Bekasi Raya, Omsron Lasman Simbolon, mengatakan pembentukan kepengurusan baru bertujuan mengakomodasi warga Simbolon yang jumlahnya terus bertambah di Bekasi Raya.

Menurutnya, organisasi tersebut menjadi wadah untuk menyalurkan aspirasi sekaligus mempererat tali persaudaraan.

“Parsadaan Simbolon ini menjadi wadah untuk menampung dan mengakomodasi seluruh warga Simbolon yang ada di sekitar sini. Apa yang ada di hati dan pikiran bisa disampaikan di sini. Nilai-nilai Dalihan Na Tolu juga bisa kita jalankan bersama,” ujar Omsron, usai deklarasi kepengurusan baru di Graha Sintesa, Rawalumbu, Kota Bekasi, Minggu (19/7).

Omsron menegaskan, berdirinya organisasi baru bukan karena selama ini warga Simbolon belum terakomodasi. Menurutnya, jumlah warga Simbolon di Bekasi Raya yang cukup besar membuat diperlukan wadah tambahan agar seluruh anggota dapat terjangkau.

“Sebetulnya bukan karena kurang terakomodasi. Warga Simbolon di Bekasi jumlahnya sangat banyak. Dengan semakin banyak organisasi, semakin banyak juga warga yang bisa kita jangkau dan layani,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kepengurusan yang baru memiliki target agar Parsadaan Simbolon tidak hanya dikenal sebagai perkumpulan yang aktif saat kegiatan adat atau kedukaan. Organisasi ingin memiliki peran lebih luas dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

“Selama ini perkumpulan identik dengan acara adat. Itu memang penting dan menjadi hal yang fundamental. Tapi kami punya target memajukan warga Simbolon, baik di bidang pendidikan maupun ketenagakerjaan. Kami akan menjalin kerja sama dengan pemerintah dan pihak swasta agar program itu bisa berjalan,” jelasnya.

Saat ini, Parsadaan Simbolon Bekasi Raya menaungi sekitar 150 kepala keluarga (KK) yang tersebar di wilayah Bekasi Raya. Omsron menilai keberadaan beberapa organisasi Simbolon bukan menjadi persoalan. Menurutnya, semakin banyak wadah yang terbentuk justru akan semakin memudahkan seluruh warga Simbolon untuk terakomodasi.

Sementara itu, Penasehat Parsadaan Simbolon Bekasi Raya, Argilaus Simbolon, mengajak seluruh warga mendukung penuh kepengurusan baru agar program-program yang telah disusun dapat berjalan.

“Kami mengucapkan selamat kepada pengurus baru dan harus mendukung penuh seluruh program yang dijalankan. Kami tidak membeda-bedakan Simbolon karena organisasi. Kita tetap satu saudara,” katanya.

Argilaus menegaskan bahwa persaudaraan antarsesama marga harus tetap menjadi prioritas. Menurutnya, organisasi hanyalah wadah yang mempermudah komunikasi, sedangkan hubungan kekeluargaan tidak boleh terputus hanya karena berada di perkumpulan yang berbeda.

“Perkumpulan bisa saja berubah, tetapi rasa persaudaraan tidak boleh hilang. Dalam adat Batak, yang menjalankan adat adalah marga, bukan organisasinya. Karena itu jangan sampai berbeda perkumpulan membuat hubungan menjadi renggang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga falsafah Dalihan Na Tolu, yakni menghormati hula-hula, menyayangi boru, dan saling menghargai sesama dongan tubu, sebagai dasar menjaga persatuan warga Batak, khususnya marga Simbolon.

“Jangan sampai karena berbeda perkumpulan rasa persaudaraan menjadi renggang. Kami ingin seluruh warga Batak, khususnya Simbolon di Bekasi Raya, semakin solid dan tetap bersatu,” pungkasnya. (rez)