RADARBEKASI.ID, BEKASI – Adakalanya kekalahan bukan menjadi akhir sebuah perjalanan. Justru dari sana, tekad untuk kembali bangkit semakin menguat. Begitulah perjalanan Yanceu Herliyanti, perempuan kelahiran Sukabumi, 22 Juni 1984, yang akhirnya kembali merebut kepercayaan masyarakat Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan.
Laporan : Karsim Pratama
Tambun Selatan
Ungkapan “comeback I gen” terasa pas menggambarkan perjalanan Yanceu. Setelah pernah memimpin Desa Lambangsari periode 2012-2018, langkahnya sempat terhenti ketika kalah dalam Pilkades 2018. Namun, delapan tahun berselang, perempuan jebolan Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya itu kembali ke arena yang pernah membesarkan namanya.
Kali ini, Yanceu datang bukan sekadar sebagai mantan kepala desa. Ia membawa pengalaman panjang setelah sempat malang melintang di panggung politik Kabupaten Bekasi. Perjalanan itu dimulai setahun setelah kekalahannya pada Pilkades 2018.
Pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Yanceu mencoba peruntungan sebagai calon anggota DPRD Provinsi Jawa Barat melalui Partai Hanura. Namun, langkah tersebut kembali terhenti setelah Partai Hanura tidak memperoleh kursi legislatif di tingkat provinsi.
Tidak berhenti di sana. Seiring perjalanan waktu, Yanceu memilih berlabuh ke Partai Golkar. Pada Pileg berikutnya, ia kembali bertarung memperebutkan kursi DPRD Kabupaten Bekasi dari daerah pemilihan (Dapil) III Tambun Selatan.
Kali ini pun hasilnya belum berpihak. Yanceu hanya mampu finis di posisi kedua.
Dua kali gagal dalam pertarungan politik ternyata tidak membuat langkahnya padam. Ibarat api yang terus menyala, keinginan untuk kembali mengabdi kepada masyarakat justru semakin kuat.
Hingga akhirnya Pilkades serentak Kabupaten Bekasi 2026 menjadi momentum bagi Yanceu untuk kembali pulang. Ia memutuskan maju sebagai calon kepala Desa Lambangsari dan menghadapi petahana Pipit Haryanti, sosok yang sebelumnya mengalahkannya dalam Pilkades 2018.
Pertarungan berlangsung ketat. Namun, kali ini hasil akhirnya berbeda.
Kepercayaan masyarakat kembali berada di tangan Yanceu. Ia berhasil memenangkan Pilkades Lambangsari 2026 sekaligus mengakhiri perjalanan panjangnya dalam mencari jalan kembali menuju desa.
BACA JUGA : Pj Kades Diminta Netral, Jangan Beda-bedakan Warga karena Pilihan Politik
“Sekarang Yanceu Herliyanti comeback I gen Lambangsari. Pastinya bersyukur, ada senang, haru, bangga. Ternyata masyarakat hari ini sudah cerdas dan Alhamdulillah saya kembali diberikan kepercayaan, amanah sama masyarakat. Insya Allah akan saya jaga delapan tahun ke depan,” ujar Yanceu kepada Radar Bekasi dengan nada penuh semangat.
Bagi Yanceu, kemenangan tersebut bukan sekadar kemenangan dalam kontestasi politik. Ada kerinduan yang membawanya kembali ke tempat ia pernah mengabdikan diri.
“Ternyata memang jiwa raga saya adanya di desa, dan saya harus kembali ke desa. Ini atas dorongan dan dukungan dari masyarakat yang menginginkan saya kembali lagi ke desa,” katanya dengan wajah sumringah.
Selama delapan tahun meninggalkan kursi kepala desa, Yanceu mengaku banyak mendapatkan pengalaman dari dunia politik. Pengalaman tersebut kini menjadi bekal untuk kembali membangun Lambangsari.
BACA JUGA : KRL Berasap di Stasiun Cikarang, Ternyata Gara-gara Ada Sampah Dekat Pantograf
Ia berjanji kepercayaan masyarakat tidak akan disia-siakan. Sejumlah persoalan yang selama ini menjadi keluhan warga akan menjadi perhatian utama, terutama pelayanan pemerintahan desa.
“Intinya saya akan membenahi apa yang perlu saya benahi. Pertama itu tentang pelayanan yang harus dimaksimalkan. Selain itu ada peningkatan ekonomi masyarakat. Kemudian saya juga ingin membenahi wisata desanya,” jelasnya.
Menurut dia, Lambangsari memiliki potensi wisata yang bisa dikembangkan. Salah satunya Danau Ciberem yang menjadi salah satu ikon wilayah tersebut.“Desa Lambangsari mempunyai ikon Danau Ciberem. Walaupun itu punya pusat, tapi kita bisa mengelolanya,” ujarnya.
Jika ditarik jauh ke belakang, keputusan Yanceu mencalonkan diri sebagai kepala desa pada 2012 ternyata berawal dari pengalaman sederhana ketika mengurus administrasi kependudukan.
Sebagai warga yang sebelumnya tinggal di Kota Bekasi dan kemudian pindah ke Lambangsari, ia mengaku terkejut melihat rumitnya proses pelayanan administrasi. Pengurusan KTP dan dokumen lainnya dinilai membutuhkan proses panjang dan biaya yang cukup mahal.
Pengalaman itu kemudian memantik kegelisahan. Yanceu merasa ada sesuatu yang harus diubah.“Saya ada panggilan jiwa, ini harus dirubah. Kebetulan setelah saya pindah KTP, pindah KK, ada pemilihan kepala desa, dan saya langsung mencalonkan diri,” ungkapnya.
Ia pun turun langsung menemui masyarakat. Dari rumah ke rumah, Yanceu memperkenalkan diri sekaligus meminta dukungan.“Saya tidak melihat orang seperti apa. Semua saya datangi dengan cara door to door, memperkenalkan diri, mohon doanya, saya minta dukungannya. Alhamdulillah 2012 akhirnya terpilih,” tuturnya
Meski saat itu dirinya berstatus sebagai warga pendatang dan sempat menghadapi penolakan, Yanceu memilih bertahan. Baginya, status sebagai pendatang bukan alasan untuk tidak memberikan manfaat.
“Walaupun ada rintangan, saya punya moto, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dimana kita berdiri, di situ kita harus bermanfaat,” katanya.
Moto itu pula yang menjadi pijakan ketika ia membangun sistem pelayanan desa pada periode pertamanya. Pelayanan yang sebelumnya dianggap rumit berusaha dibuat lebih sederhana.
“Saya akhirnya membentuk sistem yang dibikin mudah, murah, dan cepat. Jadi dasarnya saya mencalonkan diri karena sistem pelayanan yang susah,” pungkasnya.(*)










