Begini Cara Pemulung TPST Bantargebang Rayakan Lebaran 2022

Tono (52) (kiri) dan Ozi (65) (kanan) pemulung di TPST Bantargebang saat sedang menikmati kopi di warung di depan TPST milik DKI itu, Selasa (3/5).

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perayaan Lebaran 2022 atau Idulfitri 1443 H dilalui umat Islam Indonesia dengan berbagai cara. Tidak terkecuali, mereka yang hidup sehari-hari sebagai pemulung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi.


Pantauan Radarbekasi.id, Selasa (3/5), tidak ada aktifitas di TPST Bantargebang milik Pemprov DKI itu. Sesekali hanya terlihat truk sampah lewat dan beberapa warga sedang menikmati kopi di warung kecil sekitar sana.

Tono (52) pria asal Banten yang sudah menetap di sekitar TPST Bantargebang hampir puluhan tahun sebagai pemulung. Ia lebih memilih berdiam di tempat kerjanya dibandingkan harus pulang ke rumahnya untuk bertemu keluarga guna merayakan Lebaran.


“Saya disini aja lah. Lebaran nggak ada yang berubah. Lebaran ya tetap aja sama seperti tahun sebelumnya,” ujarnya Tono saat ditemui di lokasi, Selasa (3/5).

Ditemui dengan hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek di salah satu warung dekat pintu TPS Bantargebang dengan rekannya, Tono lebih menikmatinya dibandingkan harus pulang ke kampung halaman.

“Lebih enak disini dari pada pulang, intinya istri udah dikasih uang aman,” ujar bapak tiga anak ini.

Ia pun merayakan Salat Idulfitri di masjid dekat TPST Bantargebang dengan baju koko dan sarung bekas tahun lalu.

Adapun Ozi saputra (75) pria asal Banten yang sudah menetap di TPST Bantargebang dari tahun 1993 ini lebih memilih berdiam diri di sana.

“Buat apa mudik, sudah nggak ada orangtua juga, istri pun nggak punya, makanya disini aja,” ujarnya.

Ozi pun memaknai Lebaran tahun ini sama seperti Tono, tak ada yang berbeda hanya sama seperti tahun- tahun sebelumnya. Ia lebih baik berdiam diri dari pada harus pergi.

“Mendingan di sini nggak menghabiskan duit, daripada pergi ke mana,” tuturnya.

Adapun berapa warga yang menetap di sekitar TPST Bantargebang, hampir setengahnya warga pendatang. Setelah pemerintah membolehkan mudik tahun ini, sebagian warga yang tinggal disana mudik ke kampung halamannya. Hanya tersisa beberapa warga yang menatap.

Miris memang melihatnya. Masih banyak orang yang tidak bisa menikmatinya makna lebaran, baik dari pengalamannya atau ekonomi yang membuat mereka seperti itu. Namun tak bisa disalahkan juga, karena mereka memiliki cara tersendiri menikmati Lebaran. (cr1)