RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di tengah kehidupan yang semakin materialistis, harta sering kali ditempatkan sebagai ukuran keberhasilan seseorang. Rumah yang besar, kendaraan yang mewah, pekerjaan dengan penghasilan tinggi, hingga gaya hidup yang ditampilkan di media sosial seolah menjadi simbol kesuksesan. Tidak sedikit orang yang akhirnya berlomba-lomba mengejar kekayaan demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Bahkan, ada yang rela mengorbankan waktu, kesehatan, hubungan keluarga, hingga prinsip hidup demi mendapatkan harta yang lebih banyak.
Tidak seorang pun yang tidak cinta kepada hartanya. Harta memang dibutuhkan untuk memenuhi berbagai keperluan kehidupan. Dengan harta seseorang dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya, memperoleh pendidikan, menjaga kesehatan, serta membantu orang lain. Karena itu, memiliki harta bukanlah sesuatu yang tercela. Persoalannya adalah ketika kecintaan kepada harta menjadi berlebihan sehingga seseorang menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama kehidupan.
Islam memandang bahwa harta memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung kehidupan seorang muslim. Ia berfungsi sebagai penyempurna pelaksanaan ibadah. Karena beberapa ibadah memerlukan harta yang cukup dalam pelaksanaannya, seperti membayar zakat, berinfak, bersedekah, berangkat ke tanah suci untuk ibadah umrah atau haji, dan lain sebagainya. Dengan demikian, Islam tidak melarang umatnya memiliki harta yang banyak. Yang dilarang adalah ketika kecintaan kepada harta membuat seseorang lalai terhadap kewajiban kepada Allah SWT dan melupakan kehidupan akhirat.
Harta seharusnya menjadi sarana, bukan tujuan utama kehidupan. Ketika harta ditempatkan sebagai tujuan, seseorang dapat terjebak pada keinginan untuk terus mengumpulkan kekayaan tanpa memperhatikan cara mendapatkannya. Padahal, Islam mengajarkan bahwa keberkahan harta tidak hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dari sumbernya dan bagaimana harta tersebut digunakan.
Harta merupakan amanah dari Allah SWT, sehingga siapa pun yang diberi titipan harta, kelak akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: umurnya, untuk apakah ia habiskan, jasadnya, untuk apakah ia gunakan, ilmunya, apakah telah ia amalkan, hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan.” (HR. Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi).
Hadis tersebut mengingatkan bahwa persoalan harta bukan hanya tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi juga dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa dibelanjakan. Harta yang diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kebaikan dapat menjadi jalan menuju keberkahan. Sebaliknya, harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar dan membuat seseorang melupakan kewajiban justru dapat menjadi beban pertanggungjawaban di akhirat.
Semua harta hanyalah titipan dari Allah SWT. Maka, setiap muslim harus menyadari bahwa suatu saat nanti harta tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Terkait dengan hal ini, Ibnu Mas’ud ra. pernah mengatakan, “Semua orang di dunia ini adalah tamu, sedangkan harta seluruhnya adalah titipan. Semua tamu pasti pergi, sedangkan titipan itu harus dikembalikan kepada pemilik.”
Begitulah hakikat dunia. Kehidupan dan segala yang kita miliki pada akhirnya akan ditinggalkan. Karena itu, sudah sepatutnya seorang muslim tidak mencintai harta secara berlebihan. Memiliki harta boleh, bahkan dapat menjadi sarana untuk beribadah dan membantu sesama. Namun, jangan sampai harta menguasai hati. Sebab, ketika harta menjadi tujuan, manusia dapat kehilangan arah; sementara ketika harta menjadi sarana kebaikan, ia dapat menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.(*)
*)Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum Bekasi, Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Kepala SMPIT Baitul Halim Bekasi











