RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sepekan lebih berjuang melawan Covid-19, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Kota Bekasi, Kamaruddin Askar harus berpulang. Para Nakes di Kota Bekasi merasa kehilangan sosok yang dianggap sebagai pemimpin panutan, sejawat, hingga orang tua sendiri..
Laporan : Surya Bagus
BEKASI SELATAN
“Hari ke 3 perjuangan melawan Covid 19,” kabar terakhir Kamaruddin Askar melalui Instagram pribadinya @puang_askar pada 28 Juni lalu. Keterangan yang diunggah bersama dengan foto dirinya terbaring di tempat tidur Rumah Sakit (RS) Primaya Bekasi Barat mendapat balasan komentar dari rekan-rekan berupa suntikan semangat hingga doa agar ia dapat segera pulih, memenangkan pertarungan melawan virus.
Berdasarkan unggahan terakhir dalam akun instagramnya, Kamaruddin Askar terkonfirmasi sejak 26 Juni 2021, lantas ia menjalani perawatan medis di RS Primaya Bekasi Barat. Radar Bekasi sempat berkomunikasi, kabar yang diterima ketua IDI cabang Kota Bekasi tersebut sedang berada di ruang ICU, berjuang melawan virus pada 29 Juni lalu.
“Lagi di ICU karena Covid,” demikian informasi yang ia berikan terakhir kali kepada Radar Bekasi, disusul saling mendoakan untuk dapat melewati situasi darurat pandemi yang telah mengurung kehidupan masyarakat sejak tahun 2020 lalu.
Tepat sepakan komunikasi terakhir Radar Bekasi dengan Kamaruddin Askar, kabar duka tersiar dari beberapa media komunikasi, ungkapan duka cita datang dari berbagai pihak. Kamaruddin Askar dinyatakan meninggal dunia pukul 07:43 WIB di RS Primaya Bekasi Barat.
Dalam akun Instagram IDI cabang Kota Bekasi, rekan sejawat datang untuk melepas kepergian sosok yang selama beberapa tahun ini mengayomi seluruh dokter di Kota Bekasi. Jenazah disalatkan sebelum dibawa pergi menuju Al-Azhar memorial garden Karawang untuk dimakamkan, jenazah diberangkatkan dari lobby RS pukul 12:30 WIB.
Bagi para dokter, baik pengurus IDI cabang Kota Bekasi, maupun anggota, Askar adalah orang tua, senior, sejawat, guru, bahkan pemimpin yang sangat mumpuni. Sebagai pemimpin para dokter di Kota Bekasi, ia dinilai sebagai pribadi yang sangat bijaksana, dan apa adanya.
“Luar biasa bijaknya dan apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi, baik kehidupan pribadinya sendiri. Orangnya sangat sederhana nggak neko-neko,” kata Bendahara Umum IDI cabang Kota Bekasi, Librianti mengenang sosok Kamaruddin Askar, Selasa (6/7).
Kepergian dokter senior di usia 60 tahun ini merupakan duka bagi dunia kesehatan di Kota Bekasi, beberapa dokter mengaku sangat kehilangan sosok Askar. Selain ketua IDI cabang Kota Bekasi, ia juga merupakan dewan pembina Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi), wakil ketua IDI Wilayah Jawa Barat, dan anggota Pengurus Besar (PB) IDI.
Sementara bagi dokter yang tergabung sebagai anggota IDI cabang Kota Bekasi, Eko Nugroho menilai Kamaruddin Askar sebagai sosok yang menaruh perhatian tidak hanya pada dokter se Kota Bekasi sebagai anggotanya untuk diayomi, ia bahkan memberikan porsi yang sama bagi kesehatan masyarakat, terutama pada masa pandemi Covid-19. Ia menilai Askar sebagai sosok yang amanah selama menjabat sebagai ketua IDI cabang Kota Bekasi, periode ini adalah periode kedua Askar sebagai ketua IDI cabang Kota Bekasi.
“Boleh dibilang beliau ini ketua IDI yang rajin menurut saya, dimana dia selalu datang ke kantor, menyelesaikan tugas-tugasnya. Kalau secara profesional saya sebagai ketua ARSSI, dan beliau ketua IDI, selama ini banyak sekali bersinggungan dalam beberapa kegiatan,” ungkap pria yang juga sebagai Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Kota Bekasi.
Kolaborasi keduanya berlangsung sebagai bentuk tanggung jawab bagi dunia kesehatan di Kota Bekasi, termasuk bekerja bersama dengan pemerintah Kota Bekasi. Sigap dan cepat, ini adalah sifat yang dikagumi dari sosok Askar, karena sifatnya ini koordinasi yang pernah dilakukan oleh IDI dan ARSSI dapat berjalan dengan baik, sekaligus menjadi panutan bagi sosok pemimpin.
Sejauh ini, Eko mengenal Askar sebagai dokter yang selalu menunjukkan kondisi badan yang segar, prima, bugar, hal ini adalah satu dari sekian banyak perangai yang membuat Eko terkagum. Sedikit yang ia ketahui, Askar memiliki riwayat penyakit gula darah cukup tinggi, riwayat penyakit ini diduga ikut memperparah kondisi kesehatan Askar saat berjuang melawan Covid-19, terlebih di usia yang sudah tidak lagi muda.
“Jadi dokter Askar inj selalu tampil bugar, prima, beliau tidak pernah merasakan sakit. Tidak, saya tidak sakit, saya baik-baik saja, sambil dia terus mengendalikan penyakit gulanya yang saya tahu,” kenang Eko.
Situasi sulit mulai mengintai saat pandemi Covid-19, Askar diceritakan bergegas membentuk tim mitigasi, bekerjasama dengan ARSSI untuk memastikan seluruh anggotanya mendapatkan keamanan pada saat menjalankan tugas. Meskipun tidak pada masa pandemi pun, fokus yang selalu diucapkan adalah menjaga agar seluruh anggota IDI dapat berpraktik dengan nyaman, sesuai dengan ketentuan hukum, dan terlindungi.
Satu masukan dan terobosan yang berguna pada masa awal pandemi, Kota Bekasi bisa saja melakukan Pembatasan Berskala Besar (PSBB), lalu pasien tidak lagi harus dirawat di RS, melainkan dengan cara menyediakan tempat-tempat perawatan pasien lain, salah satunya memanfaatkan gedung sekolah. Hingga akhirnya, opsi pada pertengahan pandemi tahun 2020 lalu, pemerintah Kota Bekasi memutuskan Stadion Patriot Candrabhaga difungsikan sebagai RS darurat.
“Ini menunjukkan beliau punya konsen yang sama juga terkait kesehatan masyarakat, tidak hanya kepada para dokter,” tukasnya.
Di usia yang tidak lagi muda, dengan riwayat penyakit yang dimiliki, Askar tahu betul bahwa ia adalah kelompok yang beresiko terpapar. Namun, selama perjalanan masa-masa sulit ini, ia tetap aktif berkoordinasi di lapangan bersama dengan IDI Jawa Barat, PB IDI, bahkan ia selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan untuk membahas kesehatan. (*)











