Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

Semuanya Serba Naik

Kadisperindag Kota Bekasi, Tedi Hafni

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Masyarakat mengaku hampir semua komoditas atau barang dagang saat ini naik, termasuk bahan pokok. “Hati-hati dengan ini,” adalah peringatan yang berulang diucap oleh Presiden Joko Widodo dalam satu kali sesi bicara, menggambarkan ketidakpastian pasar. Kemarin di Bekasi, sejumlah bahan pokok di pasar tercatat naik mulai dari daging sapi sampai teri Medan, ditambah dengan naiknya harga bahan bakar.

“Sudah buka semua, cuma harga masih naik. Harga penjualan 135 sampai 140 ribu per kg. Dulu paling mahal Rp120 ribu,” kata salah satu pedagang daging di Pasar Baru, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Fadil (40). Terpantau pedagang daging sudah mulai membuka lapak dagangan dan kembali beraktivitas setelah mogok, Kamis (3/3).

Daftar harga kebutuhan pokok di pasar menunjukkan beberapa harga kebutuhan pokok naik, cabai yang sebelumnya sempat stabil di harga Rp30 ribu per kg, saat ini kembali naik hingga Rp40 sampai Rp68 ribu sesuai jenisnya. Tidak berhenti pada harga kebutuhan dapur, bahan bakar juga baik, gas LPG non subsidi di Bekasi tercatat naik Rp20 sampai Rp25 ribu, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi untuk kendaraan juga naik.

Pada saat memberikan arahan Rapat Pimpinan (Rapim) TNI-POLRI, Presiden Joko Widodo menyampaikan harga komoditi akan mengalami kenaikan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Ketidakpastian situasi dipicu oleh pandemi Covid-19, belum selesai pandemi ditambah dengan perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.

Presiden merinci beberapa kendala perdagangan, yang pertama kelangkaan kontainer, membuat pengiriman barang terganggu. Kedua, kelangkaan pangan, sudah terjadi di beberapa negara, sehingga memicu kenaikan harga pangan, bahkan di beberapa negara kenaikannya diatas 30 persen.

Ketiga, inflasi lantaran kenaikan harga komoditi, situasi ini menyebabkan beban masyarakat untuk membeli kebutuhan semakin tinggi.

“Hati-hati, di Amerika itu tidak pernah namanya inflasi itu diatas 1 persen, sekarang sudah diatas 7 persen,” katanya, belum lama ini.

Keempat, kelangkaan energi, sebelum perang antara Rusia dan Ukraina bergejolak sudah terjadi kenaikan, perang memperparah situasi ini. Harga batubara disampaikan sudah diatas 100 US Dollar, sebelumnya berkisar 50 sampai 60 US Dollar.

Semua faktor ditutup dengan kenaikan harga di tingkat produsen lantaran tingginya harga untuk membeli bahan baku, hingga bahan baku pembantu.”Semua negara sekarang ini harga BBM naik semuanya, harga LPG naik semuanya. Hati-hati dengan ini,” tambahnya.

Situasi ini mengharuskan pemerintah Indonesia untuk mentransformasikan ekonominya. Merubah tumpuan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi menjadi produksi, solusinya hilirisasi, industrialisasi.

Presiden membeberkan sudah 400 tahun Indonesia mengirimkan bahan baku untuk dijual ke luar negeri.”Itu yang sekarang harus kita stop. Baik itu nikel, tembaga, bahan pertanian, bahan perkebunan, kita tidak dapat apa-apa,” tegasnya.

Hal ini menjadi latar belakang tahun 2020 lalu Presiden Jokowi menyampaikan stop mengimpor bahan mentah nikel. Impor harus bahan setengah jadi, kemudian bertahap ditingkatkan menjadi bahan jadi.

Pola semacam ini akan diperluas pada komoditas lain. Industri hijau menggunakan sumber energi ramah lingkungan menjadi solusi selanjutnya untuk memulai hilirisasi, salah satunya menggunakan pembangkit listrik tenaga air, ada 4.400 sungai di Indonesia untuk memfasilitasi itu.

Pengamat ekonomi STIE Mulia Pratama, Mediati Sa’adah memprediksi naiknya harga komoditi satu per satu akan meningkatkan angka inflasi, termasuk di Bekasi. Dinamika global membuat harga komoditi cenderung terus naik.

“Memang awalnya itu terjadi kenaikan suku bunga di Amerika, karena terjadi inflasi. Kita tahu, kalau terjadi inflasi, maka suku bunga dinaikkan,” paparnya.

Inflasi yang terjadi di Amerika berdampak pada negara-negara yang selama ini mengimpor barang dari Negeri Paman Sam, Indonesia termasuk di dalamnya. Naiknya suku bunga akibat inflasi membuat harga barang impor dua kali lebih tinggi, pasalnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar turun.

“Harga kedelai dijual pakai Dolar. Sudah di Amerika harganya naik, kemudian harga Dolar (nilai tukar rupiah) naik, kenaikannya bisa lebih tinggi lagi, pemakaian rupiahnya lebih tinggi,” tambahnya.

Perang juga memberikan sumbangsih, pasalnya dua negara yang tengah berkonflik adalah pemasok gandum dan minyak bumi. Fenomenanya, harga BBM yang sudah naik satu bulan lalu, kembali mengalami kenaikan dewasa ini.

Disepakati bahwa hilirisasi bisa menjadi solusi jangka panjang Indonesia. Disamping ada efek berganda atas industrialisasi, diantaranya tenaga kerja, perusahaan pemasok, hingga UMKM.

Harga macam-macam komoditas diprediksi turun mengikuti perkembangan ekonomi di Amerika dan perang yang tengah terjadi. Inflasi di Bekasi diprediksi terus naik jika harga komoditas tidak kunjung turun.

“Kemungkinan besar akan naik, karena harga cabai sekarang sudah mulai naik, harga minyak, gas meskipun yang subsidi tidak, BBM,” tukasnya.

Tidak banyak intervensi yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kota Bekasi. Pasalnya, harga komoditi khususnya gas LPG naik secara keseluruhan, tidak hanya di Kota Bekasi.

Harga gas non subsidi naik Rp20 sampai Rp25 ribu per tabung. “Harga gas LPG yang naik non subsidi, 12 kg dan 5,5 kg. Naik antara Rp20 sampai Rp25 ribu. Yang awal gas 12 kg itu Rp175 ribu jadi sekarang Rp200 ribu” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bekasi, Tedi Hafni.

Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Bekasi untuk melakukan pengawasan terhadap distribusi gas LPG. Antisipasi perlu dilakukan agar distribusi gas LPG bersubsidi tepat tepat sasaran. Pengguna gas LPG non subsidi tidak beralih ke LPG bersubsidi.

Ia meminta kepada masyarakat Kota Bekasi membeli bahan pokok termasuk gas LPG sesuai kebutuhan, tidak sesuai dengan keinginan. Kebijaksanaan konsumen semacam ini dinilai perlu dalam situasi saat ini.

“Karena orang antri, kehabisan, itu salah satunya karena orang yang tidak perlu banget, beli banyak,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD kota Bekasi, Sardi Effendi menyampaikan bahwa pemerintah harus bisa mengintervensi pasar untuk menstabilkan harga. Terbukti intervensi pasar bisa menurunkan harga minyak goreng yang sempat melesat tinggi.

Ditekankan bahwa pemerintah memiliki kewenangan mengatur regulasi perdagangan. Harga bahan pokok terutama, harus dipastikan terjangkau mendekati bulan ramadhan.

“Penurunan harga ini penting buat Masyarakat. Terutama harga-harga barang pokok ya yang dibutuhkan oleh masyarakat itu betul-betul harganya terjangkau, apalagi sebentar lagi menjelang ramadhan,” tegasnya. (Sur)