Pendidikan

Lulusan SLB di Kota Bekasi

Penderita Tuna Grahita Sulit Dapat Kerja

SLB
ASYIK BERCANDA: Sejumlah siswa SLB Negeri Bekasi Jaya Kota Bekasi, asyik bercanda di halaman sekolah saat jam istirahat. Dewi Wardah Radar Bekasi

Radarbekasi.id – Lulusan sekolah luar biasa (SLB) di Kota Bekasi tak banyak bisa melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi karena keputusan orang tua mereka. Saat ini, sebagian lulusan anak berkebutuhan khusus itu memilih untuk bekerja.

Kepala SLB Kembar Karya Kota Bekasi Sumiyati mengaku, tak banyak anak didiknya setelah lulus sekolah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun bekerja.

”Sebagian besar tidak bekerja, juga tidak melanjutkan perguruan tinggi,” ujar Sumiyati kepada Radar Bekasi, Kamis (13/2).

Padahal, kata dia, para orang tua berharap anaknya bisa langsung bekerja setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Sumiyati cukup menyayangkan anak dirinya yang menganggur.

”Sampai saat ini yang bekerja paling di gudang Alfamart, itu juga kebanyakan dari lulusan tuna rungu. Kalau tuna grahita cukup sulit, paling bisa di pencucian mobil atau salon,” imbuhnya.

Menurutnya, banyaknya tuna rungu yang bekerja karena secara fisik tidak terlihat berbeda. Mereka masih dapat diajak untuk berfikir untuk menangani pekerjaan.

“Beda dengan tuna grahita yang mungkin sedikit agak sulit,” ucapnya.
Secara soft skill maupun hard skills kata dia, lulusan SLB cukup menguasai. Tentunya, setiap anak memiliki kemampuan serta keahlian yang berbeda-beda. Selama di sekolah, mereka dibekali dengan keahlian sesuai dengan minat dan bakat.

”Sekolah mengajarkan secara merata kepada siswa, (misalnya,red) bagaiman cara berwirausaha dengan baik agar setidaknya mereka memiliki bekal serta ilmu untuk membuka usaha sendiri,” katanya.

Sementara, Kepala SLB Negeri Bekasi Jaya Kota Bekasi Suherman mengatakan, anaknya didiknya tak banyak yang melanjutkan jenjang perguruan tinggi setelah lulus sekolah. Selama ini, alumni banyak yang memilih bekerja maupun membuka usaha sendiri.

”Kalau melanjutkan pendidikan tinggi sedikit, bisa dihitung dengan jari, paling 2-3 orang. Banyaknya bekerja di perusahaan, itu juga kebanyakan dari lulusan tuna rungu. Kalau untuk tuna grahita mereka memutuskan untuk berwirausaha,” tuturnya.

Ia berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian secara merata kepada lulusan SLB. Dengan demikian mereka bisa lebih mudah untuk bekerja, kuliah maupun membuka usaha.

”Pemerintah sudah melakukan perhatian khusus, tapi memang belum dilaksanakan secara merata. Saya harap itu semua bisa dilaksanakan secara merata kepada seluruh siswa SLB,” pungkasnya. (dew)

Tinggalkan Balasan

Close