Berita Bekasi Nomor Satu

Perubahan Skor Seleksi Sekolah Maung SMAN 1 Kota Bekasi Bikin Orangtua Kaget

DATANGI SEKOLAH: Sejumlah orangtua siswa mendatangi SMAN 1 Kota Bekasi, untuk mempertanyakan perubahan skor saat melihat nama anaknya tersingkir dari klasemen seleksi sekolah Maung, Kamis (4/6). FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Orangtua siswa dibuat terkejut saat melihat nama anaknya tersingkir dari klasemen seleksi sekolah Manusia Unggul (Maung) SMAN 1 Kota Bekasi, Kamis (4/6) pagi. Sejumlah orangtua pun langsung mendatangi sekolah untuk mempertanyakan perubahan skor tersebut.

Salahsatu orangtua siswa, Ade Kumala Sari (43) mengaku terkejut perubahan skor anaknya yang tengah berjuang di jalur pendaftaran kompetensi nonakademik dengan berbekal pengalaman kepemimpinan sebagai pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

“Yang saya keluhkan itu ada perubahan nilai dari 368,08 pagi ini menjadi 317,08,” katanya.

Perubahan nilai tersebut membuat anaknya terlempar dari klasemen sesuai kuota yang tersedia pada jalur pendaftaran tersebut. Sementara itu, sejumlah pendaftar lain yang berasal dari sekolah yang sama justru kembali memiliki peluang diterima setelah peringkat mereka naik karena tidak mengalami perubahan skor.

Ade sangat menyayangkan peristiwa ini terjadi di seleksi pendaftaran sekolah Maung yang digadang-gadang menjadi satuan pendidikan unggulan.

Informasi yang ia terima dari pihak sekolah, server SPMB sedang dalam perbaikan. Seharusnya, kata dia, pemerintah memastikan sistem atau server benar-benar siap digunakan sebelum masa pendaftaran dimulai.

“Kalau memang sistem itu belum siap kenapa harus dilaunching?, harusnya kan ada Trial and Error dulu sebelum sistem itu benar-benar siap, dan kenapa Maintenance itu di detik-detik akhir bukan di awal,” ungkapnya.

Ade mengatakan sebagian besar orangtua yang datang ke sekolah mengalami persoalan serupa dan mendaftarkan anak mereka melalui jalur kompetensi nonakademik.

Sesuai jadwal, proses verifikasi berkas berlangsung pada 29 Mei hingga 2 Juni, sedangkan pengumuman hasil akhir dijadwalkan pada 8 Juni mendatang. Ia bersama para orangtua lainnya mendesak agar penyebab perubahan skor disampaikan secara transparan.

Mereka juga meminta jaminan bahwa klasemen akan kembali seperti semula apabila perubahan tersebut memang disebabkan oleh pemeliharaan sistem.

“Kalau sekarang saya jujur merasa dirugikan terlepas anak saya diterima atau tidak di sekolah ini,” tambahnya.

Wali murid lain, Ivan (35) juga datang ke sekolah dengan pertanyaan yang sama. Padahal, skor pada Kamis dini hari sekira pukul 01.00 WIB anaknya masih ada di dalam klasemen.

“Pas jam 4 pagi subuh itu tiba-tiba angka poin anak saya itu berubah dari 375 menjadi 352, sehingga anak saya keluar dari pada kuota,” ungkapnya.

Ivan mengaku tidak mengetahui penyebab perubahan skor tersebut. Padahal, menurutnya, mekanisme penilaian sudah memiliki aturan yang jelas.

“Terjadi perubahan ini juga saya tidak tau, kenapa bisa ?, makanya kita butuh penjelasan dari pihak sekolah atau pihak terkait,” ucapnya.

Ia menceritakan, tahapan yang dilalui untuk melengkapi persyaratan seperti legalisir dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pusat cukup melelahkan. Peristiwa ini membuat ia merasa dipermainkan, padahal sebelumnya telah diverifikasi hingga mendapatkan skor untuk bersaing menjadi siswa sekolah Maung.

“Harus kita selidiki bareng-bareng ada apa sebenarnya,” tegasnya.

Pantauan di lapangan, sejak pagi sejumlah orangtua siswa masih bertahan hingga siang hari untuk mendapatkan penjelasan dari pihak sekolah maupun Kantor Cabang Dinas Pendidikan (KCD) wilayah III.

Wakil Kepala SMAN 1 Bekasi, Sukiman membenarkan kedatangan orangtua ke sekolah menanyakan perubahan skor yang terjadi pada Kamis pagi. Ia menyebut pihak sekolah telah menerima keluhan dari sejumlah orangtua.

Sukiman menjelaskan bahwa pendaftaran, verifikasi, hingga proses seleksi dilaksanakan menggunakan sistem online yang dikembangkan oleh panitia tingkat Provinsi Jawa Barat. Sementara sekolah memiliki akun untuk dipergunakan dalam proses verifikasi data pendaftar.

“Bahwa perubahan skor yang terjadi pada hari ini  4 Juni 2026 pada pagi hari itu kami juga sudah konfirmasi ke panitia provinsi dan sudah dapat jawaban bahwa sistem dalam maintenance,” ungkapnya.

Terkait dengan nasib pendaftar yang mengalami perubahan skor dan terlempar dari klasemen, ia berharap kondisi akan segera kembali seperti semula setelah proses perbaikan selesai.

Ia menjelaskan, proses verifikasi di SMAN 1 Kota Bekasi berakhir pada 3 Juni pukul 21.00 WIB. Perpanjangan waktu verifikasi dari 2 Juni menjadi 3 Juni dilakukan berdasarkan rekomendasi panitia SPMB tingkat provinsi.

Diketahui, jumlah pendaftar di SMAN 1 Kota Bekasi merupakan yang terbanyak di Jawa Barat, yakni mencapai lebih dari 2.000 pendaftar.

Sukiman juga meminta maaf atas keresahan yang terjadi dan menegaskan bahwa perubahan skor bukan dilakukan oleh panitia sekolah.

“Mohon maaf kalau ada anggapan-anggapan ini dilakukan oleh panitia SMAN 1 Bekasi, sama sekali tidak betul, kami tidak punya akses untuk ke sistem, akses kami untuk memverifikasi data pendaftar,” tambahnya. (sur)