Koki

Social Distancing dan Corona

Oleh: Zaenal Aripin

Senin 16 Maret 2020 dua provinsi, Jawa Barat dan DKI Jakarta mulai memberlakukan kebijakan social distancing (menjaga jarak sosial). Guna mencegah penyebaran corona virus disease 2019 (Covid-19) semakin meluas.

Data pemerintah RI hingga Minggu 15 Maret 2020, tercatat ada 117 kasus Corona di Indonesia. Delapan pasien sembuh. Lima orang meninggal dunia. Naik 21 kasus dari hari sebelumnya.

Data John Hopkins University mencatat, saat ini jumlah pasien yang terkonfirmasi virus Corona di seluruh dunia mencapai 156.296 orang. Tersebar di 142 negara. Artinya, tiga perempat atau 72,8 persen dari total 195 entitas negara di dunia sudah melaporkan adanya Covid-19.

Menilik data ini, posisi Indonesia naik ke peringkat 35 dunia. Sebelumnya, Indonesia berada di peringkat ke-42 dari total 142 negara di dunia yang mengonfirmasi adanya infeksi virus ini di wilayahnya.

Soal angka kematian, kasus corona di Indonesia terhitung mencemaskan. Ini karena perbandingan angka kematiannya terhitung tinggi dibandingkan total kasus yang terkonfirmasi. Rasio kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 4,3 persen atau lebih tinggi dari China yang 2,8 persen.

Maka, pemberlakuan social distancing di Jakarta dan Jawa Barat salah satu kebijakan tepat mencegah Covid-19. Meski ada pula yang menginginkan diberlakukan lockdown.

Di dunia pendidikan, kebijakan belajar siswa di rumah berlaku hingga akhir bulan ini. Bahkan, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat memastikan untuk menunda pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun 2019-2020 dan Ujian Akhir Sekolah (UAS).

Di dunia kerja, agar diberlakukan kebijakan bekerja dari rumah (work from home).

Di area publik, disarankan untuk menghindari kerumunan. Lokasi yang membuat orang berdesak-desakan dalam satu tempat. Jabat tangan. Dan kontak fisik lainnya. Sejumlah tempat rekreasi ditutup. Ancol, Monas, Ragunan dan Museum, clossed.

Ironinya, di media sosial, berseliweran foto-foto antrean warga di stasiun kereta dan MRT, halte Transjakarta dan sejumlah terminal. Mereka yang berada dalam antrean itu, merasa santai saja berada dalam kerumunan. Sesuatu yang seharusnya patut dihindari hari-hari ini.

Sejumlah kantor dan perusahaan masih memberlakukan kebijakan seperti hari-hari normal. Karyawan wajib absen. Datang ke kantor. Dan mengerjakan segala urusan pekerjaan di kantor.

Bisa jadi ada kantor dan perusahaan yang belum semua siap menerapkan work from home (WFH). Atau ada pekerjaan yang memang tidak bisa dikerjakan dari rumah. Sesuatu yang dinilai sangat ‘aneh’ di tengah gembar-gembor revolusi industri 4.0 yang dibangga-banggakan para milenial.

Sejatinya, kebijakan social distancing  ini tidak akan berhasil tanpa penerapan kebijakan serupa di sektor lain. Juga hanya akan melahirkan ekonomi egois. Anak-anak diminta belajar di rumah. Para orangtua justru beredar di luar rumah mencari nafkah.

Prediksi ekonom, Jakarta memang jadi urat nadi perekonomian nasional. 70 persennya bergerak di Jakarta. Jika ekonomi Jakarta tersendat. Prediksi resesi, mungkin tidak bisa dihindari.

Resesi ekonomi bukan kiamat. Kecuali, mereka yang terlilit utang. Yang terpenting siapkan diri hadapi guncangan. Badai, eh Corona pasti berlalu. (*)

Tags
Close