Koki

Makam Abah

Oleh: Zaenal Aripin

Ustad dan santri berdoa di pusara KH Noer Muhammad Iskandar SQ, Ahad (13/12/2020) malam.

AHAD siang 13 Desember 2019. Pesan WhatsApp Grup (WAG) berantai di ponsel berdering-dering. Mengabarkan berita duka: Innalilahi wa innaa ilaihi roojiuun. Mohon maaf segala kesalahan murobbi ruuhina DR KH Noer Muhammad Iskandar SQ telah kembali kepada Allah SWT pukul 13.41 siang ini. Beliau ahli surga. Husnul Khotimah. Insya Allah.

Pesan duka itu dikirim Gus Mahrus Iskandar. Putra Kiai Noer. Secepat kilat, berita duka cita tersebut menyebar ke WAG Alumni Asshiddiqiyah. Ucapan doa disertai pembacaan surat Alfatihah khusus beliau pun dipanjatkan.

Sekelebat wajah Abah (panggilan kami untuk beliau) hadir. Seolah-olah ada di hadapan kami. Beliau orangtua kedua sekaligus guru kami bagi siapa saja yang pernah menimba ilmu di Asshiddiqiyah. Kami pernah di Asshiddiqiyah, Kebon Jeruk sejak 1992-1998.

Beragam kenangan pun muncul. Mulai dari dibangunkan Abah untuk Tahajud pukul 03.00 dinihari. Setiap hari. Mengaji langsung Ta`lim Mutaallim (karya Imam Burhanuddin Al-Zarnuji) dan Tafsir Jalalain (karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Syuyuthi) setiap bakda subuh. Mengaji dua kitab itu langsung di bawah asuhan Abah.

Setiap malam Jumat, para santri diwajibkan mengenakan pakaian serba putih. Mulai peci, baju hingga sarung. Khusus malam itu, bakda Magrib membaca Sholawat Nariyah dan Yasin Fadilah sampai waktu Isya tiba.

Abah juga ‘mewajibkan’ santri menjalankan puasa Daud (sehari puasa sehari tidak) di tahun terakhir, yaitu tahun keenam.

Hari Ahad pekan pertama di setiap bulan, pengajian bulanan ditunggu-tunggu para santri dan wali santri.

Selain hari tersebut merupakan jadwal kunjungan menengok santri, kesempatan ini sering dimanfaatkan untuk siraman rohani bagi wali santri sekaligus ‘hiburan’ bagi santri. Biasanya, para kiai kondang, dan artis ternama zaman itu hadir dalam pengajian akbar ini.

Sederet kiai kondang dan dikenal sebagai Singa Podium zaman itu, kerap tampil bareng Abah. KH Zainuddin MZ, KH Manarul Hidayat, Habib Idrus Jamalullail dan Abu Hanifah, termasuk ulama yang paling sulit menolak hadir, bila sudah Abah yang mengundang.

Dari kalangan artis, ada Rhoma Irama, Ida Iasha, Pangky Suwito, Yati Octavia, pelawak era 90-an Jayakarta Group seperti Jojon (alm), Cahyono (alm) dan Qomar, Eman, Ginanjar, Deri (Empat Sekawan) langganan hadir ke Asshiddiqiyah.

Sejumlah putra-putri dari keluarga dai kondang itu, juga tak sungkan-sungkan menimba ilmu di sini. Diantaranya, M Syauqi MZ, putra KH Zainuddin MZ, serta putra Yati Octavia-Pangky Suwito. Bahkan, M Syauqi pernah satu kelas dengan kami di bangku Madrasah Tsanawiyah. Dia tetap harus antre saat jadwal makan tiba. Dan tetap ditakjir bila melanggar aturan pesantren.

Dalam setiap pengajian itu, di hadapan para ulama, artis dan pejabat yang hadir, Abah sering mengingatkan para santri.

Santri tidak harus semuanya menjadi ustadz, kiai, penceramah atau dai. Silakan Anda menjadi pejabat, politisi, PNS, pengusaha, artis. Jangan pernah takut dengan urusan dunia. Takutlah hanya kepada Allah SWT.

Selain itu. Abah sering bilang. Jadi santri jangan suka minder. Rendah diri. Santri itu lentur, fleksibel. Diajak susah biasa. Diajak senang jangan kaget. Semua dijalani biasa-biasa saja.

Di tahun 90-an, deretan mobil mewah milik Abah kala itu, seperti Mercedez Benz, BMW, Pajero terbiasa terparkir di garasi pesantren.

Alasannya ini. Semua kendaraan tersebut digunakan untuk kepentingan dakwah kelas elite.

Kini, pejabat, politisi, tokoh nasional, pengusaha, dan artis, malah berlomba masuk pesantren. Apalagi bila jelang musim pilkada dan pemilu.

Tadi malam, jenazah Abah dimakamkan di samping pintu keluar pengimaman masjid pesantren Asshiddiqiyah, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Abah akan tetap bisa melihat siapa saja elite yang datang ke pondok.

Selamat jalan Abah. Alfatihah. Aamiin. (*)

Related Articles

Back to top button