Koki

Puasa Rajab

Oleh: Chotim Wibowo

KH Jamalullail (kiri), pakar ilmu hadis asal Kaliabang, Bekasi Utara dalam pengajian rutin kitab Shahih Bukhori di Masjid Nurul Islam, Islamic Center, Bekasi, Senin (15/2/2021) malam.

SUDAH beberapa hari memasuki bulan Rajab. Alhamdulillah. Banyak nian karunia yang kita terima. Harus kita syukuri.

Karunia juga, saya masih bisa ikut mengaji hadis bersama KH Jamalullail Lc. Ahli hadis di Islamic Cantre Bekasi, Senin (15/2/2021) malam. Kebetulan juga, bahasannya tentang puasa Rajab.

Ini menarik, karena di media sosial sedang berseliweran statemen ustaz kalau hadis terkait bulan Rajab itu dhoif dan bahkan palsu. Saya -tadinya, takut mau berpuasa.

“Benar memang beberapa hadis terkait Rajab dan keutamaannya berkisar antara dhoif dan palsu. Tapi jangan kemudian salah memahami,” katanya.

Mari kita bedah dari awal, lanjutnya. Alquran menyebutkan, ada 4 nama bulan yang ‘حرم’, (dimuliakan). Dalam tafsir Ibn Katsir, disebutkan jika maksud untuk diagungkan.

Kemudian, dijelaskan dalam Sohih Bukhori (3197), bahwa keempat bulan yang disebutkan dalam QS. Ataubah:36 tersebut adalah Bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah telah memuliakan keempat bulan tersebut, termasuk Bulan Rajab.

Dijelaskan, bagaimana cara memuliakan bulan tersebut. Salah satunya dengan berpuasa. Dengan jelas disebutkan dalam hadits Sohih Muslim (1157), bahwa ada seorang tabiin Utsman bin Hakim bertanya kepada Imam Said bin Zubair tentang puasa Rajab. Kemudian dijawab, aku mendengar Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah berpuasa sampai aku tidak tahu kapan beliau berbuka, dan beliau berbuka seperti tidak pernah berpuasa. .

Imam Nawawi dalam Syarah Al Minhaj terhadap hadits ini menjelaskan tidak ada larangan berpuasa. Apalagi jika dikembalikan asalnya puasa itu adalah ‘مندوب’ (dianjurkan). Jelas.

Lalu, bagaimana sikap kita? Ya, kalau mau berpuasa itu baik karena sunnah. Dan berarti memuliakan bulan yang dimuliakan Allah dengan memperbanyak ibadah, termasuk berpuasa.

Bulan Rojab adalah bulan untuk menanam. Bulan Syaban, adalah bulan untuk menyiram. Dan Bulan Ramadan, adalah bulan untuk memanen tanaman.

Mari kita persiapkan Ramadan melalui peningkatan ibadah di Bulan Rajab, dipupuk di bulan Syaban. Agar dalam Ramadan nanti kita bisa tinggal memanennya.

Jadi, sayang saja kalau yang viral di medos, tidak diimbangi informasi yang lengkap dan utuh terkait keagungan Bulan Rajab. Semoga tidak gagal faham. (*)

Related Articles

Back to top button