Koki

Haji Lahir Batin

Oleh: Zaenal Aripin

Mumpung bulan Dzulhijjah. Bulan haji. Mumpung ibadah haji tahun ini amat sangat dibatasi oleh Arab Saudi. Indonesia pun mengambil ‘cuti’ mengirim jamaah tahun ini. Itu semua, apalagi kalau bukan karena ancaman virus Corona atau Covid-19 yang belum ada tanda-tanda mereda.

Mari merenung. Haji bukan sekedar rangkaian ibadah formal. Diawali niat ihram, mengelilingi (thawaf) Kakbah, berlari-lari kecil (sa`i) di bukit Safa-Marwah, berdiam diri (wukuf) di Padang Arafah, menginap (mabit) di Padang Masy`aril Haram Muzdalifah, melempari simbol berhala dengan jamaarat di Mina, dan diakhiri dengan mencukur beberapa helai rambut kepala (tahallul).

Sejatinya, setiap ibadah bukan sekedar ritus formal belaka. Bagi umat Islam, sejak mengucapkan kalimat syahadat, menegakkan salat lima waktu, mendirikan puasa di bulan Ramadan, mengeluarkan zakat hingga menunaikan haji, semuanya harus mengandung ibadah lahir dan batin.

Ibadah adalah segala bentuk kecintaan disertai ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Hanya karena Dia. Bukan karena selain-Nya. Orang barat sering menyebut ibadah dengan istilah ‘Religious Service’. Ibadah tanpa efek samping.

Ibadah haji merupakan ‘Teater Spiritual’-nya umat Islam. Pertunjukan evolusi manusia menuju Allah SWT. Demonstrasi simbolis dan penuh falsafah. Mulai Adam, proses ‘penciptaan’, ‘sejarah’, ‘keesaan’, ‘ideolog Islami’ dan transformasi kepada umat.

Sutradaranya Allah SWT. Pemeran utamanya jamaah haji itu sendiri. Peran antagonisnya setan. Alur ceritanya Adam, Ibrahim, Hajar. Lokasi pertunjukannya Masjidil Haram, Mas`a, Padang Arafah, Padang Masy`ar Muzdalifah dan Mina. Simbol-simbol ceritanya; Kakbah, Safa-Marwah, siang-malam, matahari terbit, matahari terbenam, berhala, kurban, kain ihram dan mencukur sebagian rambut kepala.

Tiap-tiap episode dalam rangkaian haji, sejatinya harus penuh perenungan mendalam. Hasilnya, akan membawa jamaah pada maqam berbeda-beda. Setidaknya kan ada empat dimensi yang dipetik; yaitu sufisme, filsafat, kebudayaan, dan Islam.

Semua perenungan itu harus diawali sejak niat. Sebelum berangkat ke tanah suci, ‘gugat’ dulu niatnya. Tidak cukup hanya niat. Tapi juga amat sangat baiknya bila juga ‘menggugat’  perangkat dan perilaku jiwa sebelum berhaji.

Sudah benarkah niatnya?Halalkah uang yang digunakan untuk membiayai keberangkatan haji? Jiwa mana yang dibawa saat berhaji nanti? Apakah jiwa yang hendak bertekuk lutut dan mengakui kehinaan di hadapan Tuhan? Ataukah jiwa yang hendak ‘memperalat’ Tuhan demi status baru, sebagai manusia yang gila hormat dan sanjungan? Atau hanya sekedar memperpanjang gelar?

Sebaiknya juga, selami dulu jiwa yang akan berangkat haji. Bunuhlah tikus-tikus busuk yang ada di dalamnya. Renungkan hakikat haji yang sesungguhnya. Agar dapat memetik keagungannya. Lalu memancar dalam relung kehidupan sebagaimana ‘Singa Padang Tauhid’ Nabi Ibrahim alaihi salam.

Dengan niat yang mantap, benar-benar karena memenuhi panggilan-Nya, Labbaik Allahumma Labbaik. Mulailah mengawali prosesi haji dengan niat itu sambil menanggalkan pakaian biasa, lalu beralih mengenakan kain ihram yang putih tanpa jahitan sedikit pun. Ihram dengan ‘kain kafan’ ini menandakan sebuah kematian. Simbol dikuburnya sifat individual, kesombongan, kemewahan.

Menggunakan pakaian ihram berarti meninggalkan segala macam perbedaan. Menghapuskan segala keangkuhan karena sebab status sosial. Melambangkan persamaan derajat kemanusiaan. Psikologisnya, ya semacam itulah seharusnya seseorang  menghadap Tuhannya saat kematian tiba.

Segala kesenangan dunia dan kepemilikan tidak berlaku lagi pada saat ihram. Semua harus dilepaskan. Dikembalikan kepada pemiliknya yang sejati. Pikiran yang larut dalam delusi. Keinginan yang masih tertarik pada materi dan perbuatan yang jauh dari kewaspadaan, hanya akan menyisakan haji yang sia-sia.

Setelah menggunakan pakaian ihram, perenungan berlanjut di Miqot. Di miqot ini semua ego dan kecendrungan yang mementingkan diri sendiri dikubur. Saksikan sendiri ‘mayatnya’.  Sekaligus ziarahi sendiri ‘kuburnya’.

Di miqot ini setiap orang ‘meleburkan’ dirinya dan mengambil bentuk baru sebagai ‘manusia’. Semua ego dan kecendrungan individual telah terkubur. Semua orang telah menjadi satu ‘bangsa’. Semua keakuan mati. Yang ada hanya ‘kita’.

Di miqot ini, lepaskan semua ras dan suku. Lepaskan pakaian yang sehari-hari digunakan. Pakaian serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan. Pakaian tikus yang melambangkan kelicikan. Pakaian anjing yang melambangkan tipu daya. Atau pakaian domba yang melambangkan penghambaan. Tinggalkan semua itu di miqot. Dan berperanlah sebagai manusia yang sejati.

Dari miqot, bergeraklah menyambut uluran tangan Allah SWT yang telah memangil-manggil. Jawablah panggilannya saat tawaf. Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaik Kalaa Syarikala Kalabbaik. Innal Hamda. Wanni`mata. Laka wal Mulk Laa Syariikalak.

Genggamlah erat ‘tangan kanan’-Nya. Dengan cara begini, hanya Allah SWT menjadi sekutu satu-satunya dalam kehidupan. Bukan harta, penguasa, pejabat, kaum aristokrat. Engkau telah merdeka!

Tawaf mengajarkan manusia bergerak ke arah ‘menjadi’. Menjadi (becoming) bergerak menuju kesempurnaan. Moment ini menjadi asas melajunya kemanusiaan, yaitu senantiasa proses mengalir ke arah kesempurnaan. Lewat proses ini, tawaf mengajak manusia mengikuti perputaran waktu dan peristiwa. Dengan senantiasa mempertahankan jarak yang konstan dengan Kakbah (Allah SWT). Kondisi ini berlaku bukan hanya individu, tapi juga bergerak bersama umat.

Semakin mendekati Kakbah semakin banyak kebesaran yang dirasakan. Semakin dekat dengan Allah SWT. Ali Syariati, intelektual terkemuka Iran, menulis begini. ’’Dalam suasana penuh keharuan yang tidak terbendung itu. Engkau seolah-olah dipaksa untuk bergerak ke satu arah saja. Engkau tidak bisa mundur. Dunia ini bagaikan sebuah jantung yang berdenyut-denyut. Ke mana pun engkau memandang yang engkau saksikan hanyalah Allah SWT’’.

Saat tawaf, di maqom (tempat berdiri) Ibrahim renungi lebih dalam. Peran Nabi Ibrahim alaihi salam dalam pertunjukan simbolis ini. Maqom Ibrahim adalah ‘cermin’ tahap-tahap bersejarah kehidupan Ibrahim yang penuh perjuangan menegakkan tauhid. Menghancurkan berhala, perang melawan Namrud, terjun dalam kobaran api, melawan iblis, mengorbankan Ismail, hijrah, terlunta-lunta, kesepian dan menanggung siksaan. Perjuangan dari fase kenabian ke fase kepemimpinan. Dari ‘individualitas’ ke ‘kolektivitas’ dan dari rumah Azar ke pembangun rumah tauhid (Kakbah).

Perjuangan fisik keluarga ‘Singa Padang Tauhid’ ini masih berlanjut di bukit Safa-Marwah. Resapilah perjuangan Hajar dalam episode ini dengan apik.  Perjuangan ibunda Ismail dalam mencari air hingga tujuh kali bolak balik di bukit itu melambangkan keseimbangan fisik dan metafisik dalam pencarian kehidupan materi di atas bumi.

Berlari-lari kecil tujuh kali itu mengisyaratkan kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan dan keterpaduan. Kalau tawaf menggambarkan larut dan leburnya manusia dalam Hadirat Ilahi, maka Sa`I menggambarkan upaya manusia mencari hidup. Harus disadari, bahwa air tidak ditemukan melalui jerih payah, tetapi melalui kasih-Nya setelah berjerih payah.

Simbol keseimbangan dunia dan akhirat tidak akan tercapai tanpa memiliki pengetahuan. Nah, wukuf di Padang Arafah menjadi simbol menyongsong pengetahuan. Arafah adalah simbol ‘pengetahuan’ dalam bentuk jamak `arafaat (QS. Albaqarah: 198).

Arafah melambangkan fase pengetahuan dan sains, hubungan objektif antara berbagai pemikiran dan fakta-fakta yang ada. Visi yang jelas sangat diperlukan. Karena itu diperlukan cahaya (siang hari). Wukuf di Arafah menjadi gerakan pertama saat menunaikan ibadah haji. Berlangsung siang hari. Dimulai tengah hari 9 Dzulhijjah saat matahari memancarkan sinarnya yang paling terik.

Padang Arafah lokasi pengetahuan pertama Adam dan Hawa. Pengetahuan mengenal diri masing-masing. Sejak keduanya diturunkan dari surga ke bumi. Sadar dan memahami keduanya berbeda. Dikomunikasikan pemikiran mereka hingga tercapai saling pengertian. Terbangunlah kehidupan sosial paling pertama di dunia lewat sebuah keluarga Adam-Hawa.

Dari Padang Arafah (pengetahuan) bergerak menuju Masy`aril Haram melalui mabit (menginap) di Muzdalifah. Masy`aril Haram ini adalah simbol kesadaran dan instuisi. Dilakukan pada malam hari. Ini adalah fase kedua setelah mendapat pengetahuan, yaitu kesadaran/intuisi. Kesadaran lebih mudah diperoleh dengan cara berkonsentrasi dalam kegelapan dan keheningan malam.

Dari Muzdalifah bergeser ke Mina untuk beristirahat lebih lama. Di sinilah simbol cinta dan kesyahidan dipertontonkan. Tidak ada cinta tanpa pengorbanan. Cinta adalah fase terakhir setelah pengetahuan (Arafah) dan kesadaran (Masy`ar). Di Mina pula, cinta Ibrahim diuji. Begitu pun jamaah haji. Mengikuti perintah Allah SWT atau menuruti godaan setan. Sebagaimana Ibrahim yang memilih tunduk mutlak mematuhi panggilan Allah SWT, maka jamaah haji pun seharusnya mengikuti ketundukannya Ibrahim alaihi salam.

Di Mina menjadi front pertempuran melempar jumroh kepada tiga simbol berhala yang melambangkan setan yang senantiasa berusaha menggoda manusia.

Pertama, Jumrotul Ula. Berhala ketamakan lawan dari arafah. Disimbolkan oleh Firaun. Kedua, Jumrotul Wusto. Berhala yang senantiasa mementingkan diri sendiri. Lawan dari Masy`ar. Simbolnya Qorun. Ketiga, Jumrotul Uqba/Aqabah. Berhala ketidakikhlasan, segala sesuatunya bukan karena Allah. Lawan dari tahap Mina. Simbolnya Bal`am.

Tak ada cinta tanpa pengorbanan. Begitu pula yang dialami Ibrahim. Kecintaannya terhadap Ismail yang membuatnya lupa terhadap tanggung jawab. Maka Allah SWT pun mengujinya dengan memerintahkan untuk mengorbankan Ismail. Ujian pamungkas!

Inilah perang paling besar di muka bumi. Perang melawan diri sendiri. Ibrahim dihadapkan pada konflik batin. Pilih Allah SWT atau diri sendiri? Keterikatan atau kemerdekaan? Kesenangan atau kesempurnaan? Kedamaian atau keyakinan dan perjuangan? Mengikuti sifat alamiah atau kehendak sadar? Meneladani perasaan atau keimanan? Menjadi bapak atau nabi? Mempertahankan sanak keluarga atau melaksanakan pesan? Terakhir, pilih Allah SWT atau anak?

Marilah, meneladani pengorbanan Ibrahim. Demi kebenaran, Ibrahim rela melepaskan segala kepentingan yang menguasai pikiran dan menghalangi dari dekat dengan Tuhan.

Perenungan fase haji mulai dari Arafah (pengetahuan), Masya`aril Haram Muzdalifah (kesadaran/intuisi) hingga Mina (cinta) satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan.

Jika hanya sampai di pengetahuan (Arafah) saja, itulah kehidupan yang bersifat materialistis dan ilmiah. Tapi tidak punya spirit dan kemajuan arah. Bila mengantongi kesadaran (Masy`ar) yang mendahului pengetahuan (Arafah) inilah cara pandang  ideologis teologis dan metafisis. Kebalikannya, bila hanya memiliki kesadaran (Masy`ar) dan cinta (Mina) saja tanpa pengetahuan (Arafah), maka hidup tanpa pemahaman agama.

Hiduplah bermula dari Arafah menuju Masy`ar dan berakhir di Mina.

Wallahu A`lam Bisshawab. (*)

Close