Metropolis
Trending

Warga Sekitar TPA Was-was

Khawatirkan Limbah Medis Covid-19

ILUSTRASI: Sejumlah pemulung ketika melakukan aktivitasnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bantargebang Kota Bekasi. Mewabahnya Covid-19 menghantui warga sekitar hingga pemulung.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) mengingatkan pemerintah akan perhatian dan bahaya masyarakat disekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) termasuk pemulung, ditengah pendemi Covid-19.

Bahaya ini timbul dari kemungkinan tercecernya limbah infeksius Covid-19 dan virus yang bisa saja menempel pada sampah yang dibuang.

Social distancing disebut tidak berlangsung efektif di lingkungan TPA. Pasalnya, kebutuhan hidup masyarakat yang berada digaris kemiskinan tidak bisa ditahan dalam waktu yang lama, seperti pemulung dan buruh sortir sampah.

“Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Asosisi Pelapak dan Pemulung Indonesia, KAWALI Indonesia Lestari, KAWALI Jabar, dan KAWALI Bekasi Raya telah menyampaikan pernyataan sikap agar pemerintah pusat dan daerah melindungi pemulung, pelapak dan warga sekitar TPST dan TPA dari ancaman Covid-19,” ungkap Ketua KPNas, Bagong Suyoto, Minggu (29/3).

Bagong memaparkan beberapa fakta yang kerap terjadi dalam pengolahan limbah medis. Limbah medis penanganan Covid-19 disinyalir diserahkan kepada pihak ke tiga, pengelola limbah B3. Sementara, ia mengungkap kemungkinan yang terjadi limbah infeksius tersebut, sisa-sisa hasil sortir limbah berbahaya dibuang disembarang tempat.

Kedua, sampah rumah tangga berkenaan dengan penanganan Covid-19, seperti masker, pada umumnya dikumpulkan dari rumah ke rumah, dibawa ke tempat penampungan sementara, baru diangkut ke TPA. Sampah yang diangkut ke TPA tersebut langsung diambil oleh pemulung.

Virus Corona ini, dijelaskan melalui The Journal of Hospital Infection mampu bertahan pada bahan stainless lima hari, bahan metal lima hari, alumunium dan sarung tangan operasi 2 sampai 8 jam, kayu dan kaca lima hari, plastik 8 jam hingga enam hari, kertas empat sampai lima hari, PVC lima hari, dan keramik lima hari.

“Jakarta dengan jumlah penduduk 10,7 juta jiwa merupakan episentrum pandemic Covid-19 dan korbannya terbesar di Indonesia. Jakarta memproduksi sampah hampir 10.000 ton/hari, sebanyak 7.500-7.800 ton/hari dibuang ke TPST Bantargebang. Juga, sampah sekitar 1.500 ton/hari wilayah Kota Bekasi dibuang ke TPA Sumurbatu,” tambahnya.

Dirinya mengingatkan kepada masyarakat untuk memotong masker sekali pakai yang digunakan. Setelah dipotong, perlu dikemas dengan rapi untuk menghindari resiko penyalahgunaan. Sementara pemerintah diminta untuk menyediakan tempat sampah khusus masker diruang publik.

Sebelumnya, Wali Kota Bekasi, menyebut bahwa setiap rumah sakit telah bekerjasama dengan pengusaha limbah B3. Setiap rumah sakit dipastikan bekerjasama dengan pengusaha limbah B3 untuk memusnahkan limbah medis tersebut.

“Dia (rumah sakit) sudah kerjasama dengan pengusaha limbah B3 yang menghancurkan limbah itu. Pasti mereka kerjasama,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Diketahui, saat ini harga sampah hasil pungutan turun drastis. Harga sampah campuran atau gabungan saat ini Rp600/kg, dibawah harga biasanya Rp1000 sampai Rp1.200/kg. (sur)

Related Articles

Back to top button