Bekasi

Usaha Ritel Anjlok

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pandemi Covid-19 ikut menggerus daya beli masyarakat. Bahkan industri ritel, menjadi salah satu sektor yang paling ikut merasakan dampaknya. Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menyatakan, hasil rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, hasil pengukuran ekonomi di Indonesia ada di minus 5,3 sedangkan untuk peritel ada di minus 5,51.

“Pertumbuhan ekonomi kita itu untuk ritelnya minus 5, 51 jadi, bila dilihat dari angka tersebut bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga sudah rendah sekali,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Rabu (9/9).

Pihaknya juga kini tengah memetakan kondisi perekonomian di sektor ritel. Dimana, peritel modern, kata dia, terdampak karena saat ini untuk wilayah di Indonesia khususnya Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi masih menghadapi suasana yang tidak terprediksi atau tidak direncanakan.

Dampaknya itu adalah kondisi, dimana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memunculkan dua permasalahan patal. Pertama, karena dengan PSBB membuat orang hawatir untuk keluar karena memang banyak yang tertular Covid-19. “Adanya tingkat penularan Corona yang masih tinggi, jadi mereka (pembeli) menahan belanja,” katanya.

Selain itu, masyarakat yang terdampak Covid-19 tidak bisa belanja. “Jadi, dua hal tadi yang menyebabkan ritel menurun hingga ke angka minus,” imbuhnya.

Roy menambahkan, saat ini sebagian besar pelaku bisnis sudah mengarah pada bisnis online. Meskipun, kondisi kaitan dengan online mengalami peningkatan hingga 35 sampai 40 persen namun pada bisnis ini tidak mempertimbangkan kualitas. “Transaksi online karena PSBB mereka kerja dari rumah atau juga bela dari rumah sehingga memesan makanan dan minuman lewat online tetapi, tapi online ini barangnya murah,” tukasnya.

Pengamat ekonomi STIE mulia Pratama, Andi Muhammad Sadli menyatakan, pertumbuhan penjualan ritel Indonesia 12.3 % pada 2020-07. “Angka ini naik dibanding sebelumnya yaitu -17.1 % untuk 2020. Ini isyarat, daya beli terpukul, dengan kata lain, terjadi demand-shock dalam perekonomian,” ungkapnya.

Jika permintaan atas sektor ritel atau aktivitas bisnis terkait transaksi barang atau jasa menurun, maka produksi akan ikut terganggu. Sehingga, terjadi deflasi karena jumlah peredaran uang berkurang. Kebalikan dari inflasi yang ditandai dengan tingginya jumlah uang beredar (JUB). “JUB yang tinggi mendorong tingkat harga naik. Sebaliknya, JUB yang kurang, maka sisi permintaan anjlok,” ucapnya.

Untuk mengantisipasi efek deflasi, dalam keadaan pandemi Covid-19 seperti ini, lajut Andi, cara yang bisa dilakukan menjaga daya beli masyarakat. Program bantuan tunai (cash program), misalnya, dengan bantuan untuk memenuhi kebutuhan pokok bisa menjadi semacam shock absorber, mengerem agar angka deflasi tidak terjun bebas.

“Peran pemerintah dalam perbaikan sektor riil dibutuhkan tidak hanya memperbaiki sisi demand tetapi juga sisi suplai atau produksi. Perbankan harus melonggarkan skema pembiayaan maupun pembayaran beban utang perusahaan. Ini semua sesungguhnya sudah dilakukan oleh pemerintah melalui serangkaian program stimulus,” jelasnya. (dan)

Related Articles

Back to top button