Cikarang

Raup Untung Puluhan Juta dari Budidaya Lobster

PERLIHATKAN LOBSTER: Seorang warga memperlihatkan lobster air tawar di Desa Wangunharja, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Senin (28/12). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga yang melakukan pembudidayaan lobster air tawar di wilayah Cikarang Utara, Kabupatenn Bekasi, bisa meraup keuntungan puluhan juta rupiah dalam kurun waktu satu tahun.

Salah satu warga pembudidaya lobster, Yusup Kamil mengungkapkan, pemeliharaan lobster ia lakukan di halaman rumahnya yang berada di Desa Wangunharja, dan sudah berjalan selama tiga tahun belakangan ini.

“Dalam waktu satu tahun, lobster betina sudah bertelur tiga sampai empat kali. Bahkan, sekali bertelur, bisa mencapai 200 hingga 600. Kemudian, 70 persen telur itu bisa berkembang biak (hidup),” terangnya kepada Radar Bekasi saat ditemui di tempat budidaya lobster miliknya, Senin (28/12).

Sementara untuk penjualan lobster-lobster itu, kata Yusup, melalui teman yang ada di komunitas. Biasanya, penjualan lobster ke restoran maupun tempat lain, ketika usianya sudah di atas delapan bulan.

“Untuk lobster yang siap jual, minimal usianya delapan bulan ke atas. Penjualannya per kilo, harga mulai Rp150 hingga Rp300 ribu, per kilonya. Sekali jual bisa 500 hingga 600 ekor,” ucap Yusup.

Ia juga menceritakan saat memulai budidaya lobster, hanya membutuhkan modal sekitar Rp2 juta, apabila dihitung biaya keseluruhan selama proses membudidaya. Namun, jika budidaya bisa berjalan dengan baik, hanya membutuhkan modal sekitar Rp500 ribu per pasang.

“Sebenarnya, kalau modal awal hanya Rp500 ribu per pasang. Tapi keuntungan per tahunnya, bisa sekitar Rp30 juta,” beber Yusup.

Dia juga mengaku, kegiatan yang sudah ditekuni selama tiga tahun belakangan ini tidak berjalan mulus. Sebab, pada tahun pertama memulai budidaya, harus mengalami kegagalan karena beberapa kendala dalam prosesnya.

“Saya sempat mengalami kegagalan dalam budidaya lobster ini pada tahun pertama, karena ada beberapa kendala. Kerugiannya sekitar Rp2 juta lebih,” ujarnya.

Kemudian, Yusup kembali melakukan budidaya pada tahun kedua. Saat itu, Yusup mengaku proses budidaya mengalami perkembangan, karena lobster betina (indukan) sudah mulai bertelur. Walaupun sebenarnya, jika dilihat dari perkembangan budidaya lobster ini, Yusup mengaku belum berjalan stabil.

“Dengan tekat kuat, saya kembali mencoba, dan akhirnya di tahun kedua, beberapa induk lobster mulai bertelur, walaupun belum stabil. Lalu saya mencoba cara lain, dan memasuki tahun ketiga ini, sudah mulai stabil,” terangnya.

Yusup menjelaskan, jenis lobster yang dia budidayakan ini seperti Red Clarkii dan Red Claw. Untuk sekarang, sebanyak 300 lobster yang sedang dibudidayakan. Perkembangan lobster terus berjalan setiap dua minggu sekali, mengingat induknya ada sebanyak 30 sampai 40 ekor.

“Setiap dua minggu sekali, pasti ada saja yang bertelur. Apalagi betinanya juga banyak. Dan saat ini, sudah ada sekitar 300 ekor lobster,” tandasnya. (pra)

Related Articles

Back to top button