BekasiBerita Utama

Rawit Makin Pedas

Harga Cabai Tembus Rp130 Ribu/kg

MERANGKAK NAIK : Pedagang memilah cabai rawit merah di Pasar Baru Bekasi, Kamis (4/3). Harga cabai rawit merah dipasaran tembus 130 kg. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Harga cabai rawit merah saat ini makin pedas. Di Kota Bekasi harga cabai tembus Rp130 ribu per kilogram nya. Kondisi ini membuat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) makin terjepit. Mereka harus rela keuntungannya berkurang, bahkan menanggung kerugian.

Ya, harga cabai mulai melonjak naik sejak akhir tahun kemarin, harga beli yang diyakini akan turun nyatanya justru meroket semakin tingg. Badai silih berganti harus dihadapi oleh para pelaku, mulai dari industri rumahan tempe yang sempat berhenti berproduksi akibat harga kedelai naik, pedagang daging memilih mogok lantaran harga daging meroket, hingga kali ini harus menghadapi tingginya harga cabai.

Tingginya harga komoditas pokok yang selama ini menjadi bahan baku mengganggu aktivitas usaha pelaku UMKM, beserta UMKM turunannya. Situasi tingginya harga cabai ini berdampak pada pelaku usaha Warung Tegal (Warteg) dan pedagang mie ayam bakso.

Belum lama ini, Paguyuban Pedagang Mie dan Bakso (Papmiso) bisa bernafas legas setelah turunnya harga daging. “Sekarang tinggal cabe (yang belum ada solusinya). Tidak pernah stabil (situasi bisnis), kemarin kita sempat kesulitan daging, sekarang harga cabai,” kata Ketua Papmiso Kota Bekasi, Maryanto, Kamis (4/3).

Situasi ini dialami oleh 600 pedagang mie ayam dan bakso. Pada kondisi normal, harga cabai berkisar Rp30 ribu, dewasa ini berkisar diangka Rp120 sampai Rp130 ribu.Untuk menjaga usahanya tetap berjalan, mereka terpaksa mencampur bahan baku sambal antara cabai rawit lokal dengan cabai impor.

Bahan baku cabai impor diakui cukup meringankan modal yang harus dikeluarkan, cabai rawit lokal didapatkan dengan harga kisaran Rp60 ribu.”Solusinya, sambelnya kita buat encer, temen-temen juga ada yang pakai cabe impor,” tambahnya.

Hal serupa juga dialami oleh pedagang Warteg di Kota dan Kabupaten Bekasi, harga cabai disebut berdampak langsung pada kegiatan bisnis yang berlangsung. Cabai dijelaskan sebagai bahan baku utama masakan di rumah makan milik masyarakat ini.

“Kalau saya cerita istilahnya sudah remuk lah, masalahnya sebelum harga cabai naik juga kan harga cabai naik juga kan omset kita juga sudah menurun akibat Covid,” terang Koordinator Wilayah (Korwil) Komunitas Warteg Nusantara Bekasi, Tafsir Qosim.

Harga mulai melambung tinggi sejak awal tahun, laporan terakhir harga cabai berkisar Rp120 ribu. Kebutuhan bahan baku utama, bervariasi sesuai omset Warteg, warteg dengan omset besar minimal membutuhkan cabai lima sampai enam kg.

Situasi ini dikeluhkan oleh 150 pengusaha Warteg di Bekasi, jumlah pengusaha Warteg ini merupakan anggota warteg yang bergabung dalam Komunitas Warteg Nusantara. Diluar itu, masih banyak pengusaha Warteg yang terdampak.

“Kalau bahan baku (yang tersedia dan bisa didapatkan) di toko itu (harganya) masih standard. Tapi kalau sayur mayur, seperti kol, daun bawang, itu kan naik juga, walaupun kenaikannya tidak signifikan,” tambahnya.

Tidak banyak yang bisa dilakukan dalam situasi ini, pedagang Warteg berada di persimpangan jalan. Jika pihaknya menaikkan harga masakan di Warteg, maka konsekuensinya kehilangan pelanggan.

Namun, jika bertahan dengan seperti ini, maka konsekuensinya ditinggalkan pelanggan. Atau jika mereka mengurangi takaran cabai sebagai bahan baku pokok, maka konsekuensinya merubah rasa setiap menu.

Pilihan satu-satunya, keuntungan dikesampingkan, dengan harapan kemudian hari harga cabai beranjak turun. Para pedagang Warteg saat ini menunggu aba-aba dari ketua umum Komunitas Warteg Nusantara untuk mendorong perbaikan harga cabai.”Ya harapan saya sih ada ikut campur pemerintah, dengan adanya (kebijakan) yang memangkas distribusi biar lebih murah atau apa gitu,” tukasnya.

Radar Bekasi mendatangi salah satu pedagang bahan masakan, salah satunya menjual cabai di area Pasar Baru, Bekasi Timur, Rustam (40). Harga cabai diatas Rp100 ribu ini menurut pengakuannya sudah terjadi sejak satu pekan yang lalu.

Informasi yang diterima oleh para pedagang, kenaikan harga cabai ini terjadi lantaran cuaca buruk dan bencana banjir di sejumlah daerah. Bencana banjir yang terjadi membuat petani gagal panen.”Paling satu bulan lagi (harga cabai beranjak turun), prediksi saya itu,” kata salah satu pedagang ini.

Kenaikan harga tertinggi dialami oleh jenis cabai rawit merah, dijual dengan harga Rp120 ribu, jauh dibanding harga sebelumnya Rp15 ribu. Harga cabai termurah biasanya terjadi pada pertengahan tahun, saat musim kemarau.”Sama saja jumlah pelanggannya, karena kan cabai kebutuhan sehari-hari, paling mereka ngakalinnya nurunin jumlah. Yang tadinya beli lima kilo, sekarang jadinya dua kilo,” tambahnya.

Untung atau rugi sudah tidak menjadi perhitungan, uang penting barang dagangan cabainya terjual. Dipaksakan bertahan di harga Rp120 ribu, konsekuensi jika tidak habis terjual maka cabai menjadi busuk. Dalam kondisi tersebut, harga jual cabai bisa lebih rendah, bahkan dibawah harga beli dari pasar induk.

Tidak jarang, cabai yang sudah dipisahkan lantaran dalam kondisi busuk tetap dibeli oleh konsumen. Alasan konsumen membeli bahan baku makanan dengan kondisi seperti ini untuk bibit.

Tidak banyak yang dapat diperbuat oleh Pemerintah Kota Bekasi. Pasalnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) hanya bertugas untuk memantau perkembangan harga kebutuhan pokok di pasar.

Selama ini, pergerakan harga kebutuhan pokok di pasar bergerak berdasarkan hukum pasar. Semakin sedikit persediaan barang dagang, maka harganya akan melambung tinggi. Begitupun sebaliknya.

“Kalau untuk pengendaliannya kita tidak ada, kita hanya sebatas monitoring saja,” kata Kepala Bidang Pasar Disperindag Kota Bekasi, Endang Supratman beberapa waktu lalu.

Sementara ini tingginya harga cabai ditengarai oleh cuaca hujan, pada saat seperti ini disebut mengganggu kestabilan harga cabai disebabkan oleh berbagai faktor. (Sur)

Related Articles

Back to top button