BekasiBerita Utama

Pencaker Tertipu Packing Bansos

GUDANG KOSONG : Pengendara melintas didepan gudang yang rencana akan digunakan untuk pengepakan bansos di RT 02/RW 01 Jalan Cikunir, Jatiasih, Kota Bekasi, Minggu (7/3). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Puluhan warga Pencari Kerja (Pencaker) Kota Bekasi menjadi korban penipuan. Mereka dijanjikan bekerja sebagai pengemas atau packing paket bansos bentuk Sembako. Ironisnya, sebagian dari mereka sudah menyerahkan sejumlah uang, namun pekerjaan tak kunjung datang.

Setelah menanti satu bulan, sedikitnya 45 warga Kota Bekasi meminta uang mereka yang sempat diserahkan untuk biaya pembuatan seragam dan ID Card dikembalikan. Meskipun sempat diulur, kemarin akhirnya yang dikembalikan.

Tepat pada 11 Februari kemarin, tawaran datang kepada warga untuk bekerja sebagai pengemas paket bansos Sembako. Awal pekan setelah mendaftar dan menyerahkan uang, dijanjikan Senin awal pekan sudah mulai bekerja, namun urung dirasakan. Mereka dijanjikan bekerja dengan gaji Rp600 ribu per pekan.

Akhirnya calon pekerja packing bansos menyerahkan uang dengan jumlah bervariasi, mulai dari Rp160 ribu, Rp180 ribu, sampai Rp280 ribu. Jumlah ini diluar biaya lain-lain mereka seperti transportasi untuk bepergian ke rumah bagian rekruitmen dan biaya rapid tes yang diminta sebagai persyaratan.

“Duit mah nggak seberapa, cuma geregetan aja, nggak semua orang bisa digituin. Kita dari sebulan yang lalu katanya pembagian shift nggak selesai-selesai,” kata salah satu calon pekerja, Euis Ustiah, Minggu (7/3).

Beruntung, uangnya berhasil kembali, dikembalikan langsung oleh perekrut setelah dimediasi oleh ketua RT dan RW setempat Kamis pekan lalu. Setidaknya, sampai siang kemarin kurang lebih sudah 30 orang calon pekerja menerima uang mereka.

Sudah sepekan mereka meminta uangnya kembali, meskipun sempat molor dan dijanjikan mulai bekerja tanggal 5 Maret lalu. Di hari yang dinanti pada 5 Maret tidak ada tanda-tanda pekerjaan dimulai. Beberapa kali calon pekerja menghadapi ketidakpastian membuat mereka resah dan meminta mundur sebagai calon pekerja.”Sudah (diterima kembali uangnya). Yasudah, Bu Ani dan suaminya sudah minta maaf, kita intinya yang penting uangnya balik,” katanya bersyukur.

Sebelumnya, Kamis lalu, Radar Bekasi ikut datang ke rumah kontrakan milik Zaenal dan istrinya, Ani di Kampung Rawa Bugel, Kecamatan Bekasi Utara. Mereka adalah sosok yang merekrut calon pekerja. Di sana nampak setumpuk berkas para pelamar kerja yang dijanjikan. Namun, mereka tidak bisa memaparkan jenis Bansos apa yang akan dikemas oleh calon pekerja, berikut dengan lokasi dimana calon pekerja akan bekerja, sampai dengan siapa masyarakat yang akan menjadi sasaran Bansos.

“Kalau itu kita kurang paham mas ya, saya kan hanya bagian perekrutannya. Untuk masalah pekerjaan nya sampai ke sananya itu kan (urusan) dia (atasan), jadi itu orang-orang dia lah,” kata Zaenal saat dijumpai di rumahnya bersama dengan calon pekerja yang meminta uang mereka kembali beberapa waktu lalu.

Keduanya hanya mengaku dimintai tolong untuk merekrut calon pekerja, dengan rincian biaya di dalam formulir Rp160 ribu untuk biaya pembuatan seragam dan ID Card, plus Rp20 ribu uang untuk membeli materai yang tidak tercantum dalam formulir. Mereka mengaku tidak pernah menambah jumlah pungutan uang kepada calon pekerja.

Dalam perbincangan di lokasi, tersirat beberapa nama dan perusahaan yang diakui sebagai perusahaan penyalur Bansos beserta vendor-vendornya. Mereka merekrut pekerja dari salah satu vendor, yakni PT Prabu Kurnia Jaya, dengan beberapa lokasi gudang yang dimiliki di kawasan Jatiwarna, Jatiasih, Narogong, dan Tambun. Dalam perekrutannya, mereka lengkapi dengan formulir untuk mendapatkan seragam dan formulir berisi ketentuan Protokol Kesehatan (Prokes).

Diakui, mereka sudah merekrut karyawan sejak tahun 2020 lalu, pekerjaan sementara terhenti lantaran Menteri Sosial ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, di awal tahun mereka mengaku mendapatkan kepastian bahwa program Bansos Sembako kembali dilanjutkan, lalu diminta untuk merekrut pekerja.

“Terus begitu kita mau jalan, kan menterinya ketangkep pak, disetop dulu Bansosnya. Nah pas kemarin Januari, kan menterinya sudah baru lagi, diadakan lagi, pas diadakan lagi kita mulai perekrutan lagi,” tambahnya.

Saat ditanya kepastian waktu calon pekerja memulai pekerjaannya sebagai pengemas paket Bansos Sembako, keduanya tidak bisa memastikan. Mereka juga tidak memberitahukan informasi perusahaan dan orang yang bertanggung jawab atas para calon pekerja.

Di hari itu juga, keduanya menyanggupi untuk mengembalikan uang puluhan calon pekerja. Informasi jumlah paket yang akan diberikan sebanyak 28 juta paket, berisi beras, minyak, sarden, teh celup, dan sabun batangan. Sedikitnya ada seribu pengemas paket Bansos yang dibutuhkan, diyakinkan tidak ada unsur penipuan.”Jadi tidak ada unsur sedikitpun dari kita untuk yang namanya penipuan itu nggak ada. Semuanya sama, bapak dilindungi hukum, saya pun dilindungi hukum,” ungkapnya.

Sementara itu, sang istri yang dikenal dengan nama Ani mengaku bahwa ia merupakan mantan karyawan PT Prabu Kurnia Jaya. Rekruitmen dilakukan setelah diminta membantu perekrutan calon pekerja kemas paket Bansos Sembako.”Kalau saya mah emang dulunya karyawan, karena kawan-kawan saya banyak yasudah kalau ini rekrut saja,” kata Ani.

Terkait dengan sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh calon pekerja, ia mengaku tidak menambah jumlahnya yang ditotal Rp180 ribu. Yang tersebut disetorkan kepada sosok yang ia sebut sebagai atasan, lalu menerima seragam yang akan digunakan oleh calon pekerja, kemudian oleh ke duanya diberikan kepada calon pekerja.”Makanya dari sananya segitu ya segitu, dua puluh ribunya buat materai,” tukasnya.

Dua hari berlalu, puluhan calon pekerja di Kota Bekasi mendapatkan kembali uangnya, keresahan juga dialami oleh warga dari daerah lain. Kemarin, Radar Bekasi bertemu dengan dua calon pekerja yang datang ke Kota Bekasi untuk memastikan pekerjaannya, sudah beberpaa kali mereka datang ke Kota Bekasi, mereka berasal dari Indramayu dan Pamanukan.

Bukan seratus atau dua ratus, Rp2 juta keluar dari kantong pribadi untuk dapat bekerja sebagai pengemas Bansos Sembako. Hari ini seharusnya mulai bekerja.”Mending dua ratus, ini dua ribu (Rp2 juta), memang beda-beda (uang yang diminta),” kata calon pekerja yang datang dari Indramayu berinsial M.

Agar tak pulang pergi ke Kota Bekasi, ia terpaksa menyewa kontrakan untuk dua pekan dengan biaya Rp1 juta. Pekerjaan sebelumnya sebagai pedagang ditinggal untuk bekerja sebagai pengemas paket Bansos Sembako, informasi yang diterima dari M setiap calon pekerja dimintai uang dengan jumlah berbeda-beda.”Banyak, ada 500an (calon pekerja). Yang belum masuk aja banyak, karena dia bilang butuhnya 1.300an orang,” tambahnya.

Hal serupa juga dialami oleh warga dari Kabupaten Subang berinisial W . Ia telah mengeluarkan uang Rp2 juta, ia sudah empat kali datang ke Kota Bekasi dengan perkiraan biaya hidup yang sama selama pulang pergi untuk memastikan pekerjaannya.”Saya sih nggak masalah, cuma itu uang dari orang tua,” katanya.

Tahun lalu, ia sempat bekerja, namun harus rela dikeluarkan dari pekerjaannya lantaran pandemi Covid-19. Setelah keluar dari pekerjaan sebelumnya, ia sontak menerima tawaran untuk bekerja sebagai pengemas Bansos selama belum mendapatkan pekerjaan kembali.Tawaran upah setiap bulannya Rp2,8 juta.

Informasi yang diterima oleh Radar Bekasi, salah satu gudang milik perusahaan yang menjanjikan para calon pekerja ini berada di kawasan Jalan Cikunir Raya, Kecamatan Jatiasih Kota Bekasi. Hingga saat ini, calon pekerja yang belum mendapatkan pekerjaan sesuai janji dan belum menerima pengembalian uang masih berharap titik terang sehingga uang yang mereka keluarkan tidak sia-sia. (sur)

 

Catatan:

Redaksi menghilangkan sejumlah kalimat dan merubah nama narasumber atas permintaannya. Terima Kasih

Related Articles

Back to top button