BekasiBerita Utama

Bekasi Kebut Vaksinasi

ILUSTRASI : Petugas medis menyuntikan vaksin Covid-19 buatan sinovac kepada atlet saat vaksinasi massal di Stadion Wibawa Mukti Cikarang Timur, kemarin. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemerintah mempertimbangkan percepatan vaksinasi tahap kedua. Pasalnya, vaksinasi kepada masyarakat dan petugas pelayanan publik tersebut ditarget selesai akhir Juni mendatang.

Vaksinasi kali ini sudah diberikan kepada Aparatus Sipil Negara (ASN) dan non ASN petugas pelayanan publik, TNI, Polri, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), tokoh agama, dan masyarakat lain yang menjadi sasaran vaksin.

Vaksinasi kali ini masih dilakukan di Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) yang telah ditunjuk. Laporan pekan ini suntikan vaksin pertama telah diterima oleh 44 persen dari total alokasi termin satu pada tahap dua, yakni sebanyak 50.700 dosis, atau 25.350 sasaran vaksin.

“Nah ini sedang jalan semuanya, TNI, Polri, tapi baru suntikan dosis pertama, belum suntikan dosis kedua, karena belum 14 hari,” terang Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Dezy Syukrawati, Selasa (9/3).

Sejauh ini diakui tidak ada kendala dalam proses vaksinasi. Hanya saja, animo sasaran vaksin kali ini lebih tinggi, semua menginginkan untuk menjadi yang lebih dulu menerima vaksin. Konsekuensinya, petugas harus mengatur dengan cermat jadwal pelaksanaan vaksin untuk masing-masing sasaran.

Pekan ini, vaksinasi dilakuakan kepada aparatur di lingkungan kecamatan dan kelurahan, beberapa petugas di Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan pedagang pasar. Hasil vaksinasi masih menunggu laporan kegiatan untuk memperbaharui data capaian proses vaksinasi.”Jadi ternyata sampai saat ini antusiasmenya tinggi ya, jadi mudah-mudahan antusiasmenya nih terus-terusan begini,” tambahnya.

Vaksinasi bagi masyarakat Lanjut Usia (Lansia) berusia diatas 60 tahun dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 15 sampai 17 Maret mendatang. Vaksinasi bagi lansia ini dilakukan setelah menerima data jumlah lansia yang mendaftar langsung di website kemenkes.go.id, rekapitulasi form pendaftaran selanjutnya akan menjadi acuan distribusi vaksin ke Faskes.

Akhir pekan ini, proses vaksinasi akan dievaluasi oleh Dinkes. Pemerintah akan mempertimbangkan vaksinasi massal, salah satu pertimbangannya adalah jumlah sasaran di beberapa OPD dalam jumlah seribu sasaran vaksin.”Nanti kalau kita evaluasi akhir pekan ini, wah butuh kecepatan lebih tinggi, kemungkinan kita akan melakukan secara massal,” tukasnya.

Peningkatan kecepatan vaksinasi sebelumnya juga telah disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, kemarin. Target sasaran vaksin di wilayah Provinsi Jawa Barat lebih dari enam juta orang, diantaranya Lansia, profesi rawan, dan pelayan publik harus selesai bulan Juni mendatang. “Kalau kita lambat, vaksinnya bisa kadaluwarsa. Jadi kita mengejar target itu,” katanya.

Selain opsi vaksinasi massal, mobil vaksin yang sempat diwacanakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga beberapa siap difungsikan. Mobil vaksin yang paling siap difungsikan ini diselenggarakan oleh Polda Jawa Barat, rencananya mobil vaksin akan dikirim ke Kabupaten Kawarang atau Kabupaten Bogor dalam penugasan pertama.

Vaksinasi massal rencananya dilaksanakan bagi sasaran Lansia, rencananya dilaksanakan di gedung-gedung besar untuk mempercepat vaksinasi. Perbandingan progres vaksinasi di Puskesmas dengan vaksinasi massal ini menjadi pertimbangan.”Karena Puskesmas maksimal sehari mungkin 60an, tapi kalau gedung besar itu bisa seribu atau dua ribu suntikan,” ungkapnya.

Dalam proses pelaksanaan vaksinasi tahap ke dua, total kasus terkonfirmasi di wilayah Kota Bekasi menginjak 36.518 kasus, diantaranya 1.475 merupakan kasus aktif.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan, per hari satu juta masyarakat akan divaksin untuk mendorong herd immunity lebih cepat.

“Bagi yang sehat vaksinasi jadi penting sehingga vaksinasi jadi program yang didorong untuk mencapai imunitas keseluruhan. Arahan Bapak Presiden 182 juta masyarakat di luar usia 19 tahun ke bawah itu divaksinasi secara keseluruhan,” kata Airlangga dalam Rakornas BNPB Setahun Melewati Pandemi Covid-19, yang ditayangkan virtual di Youtube BNPB, Selasa (9/3)

Namun demikian, Airlangga mengatakan, tentu hal ini tidak bisa berjalan lancar. Harus ada keseimbangan mulai ketersediaan vaksin sampai vaksinatornya.”Tentu harus seimbang antara kesiapan vaksinator dan ketersediaan vaksin,” kata dia.

Selain vaksinasi, kata Airlangga, peningkatan pelaksanaan 3T harus terus ditingkatkan. Di antaranya testing seperti swab-test Antigen secara gratis untuk masyarakat di desa atau kelurahan yang difasilitasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), menggunakan faskes dan puskesmas di wilayah masing-masing.

Terpisah, Satgas COVID-19 melaporkan jumlah warga RI yang mendapatkan vaksin COVID-19 dosis pertama hingga Selasa (9/3) pukul 12.00 WIB bertambah sebanyak 239.001 orang sehingga total menjadi 3.337.026 orang.

Sementara yang mendapatkan vaksinasi kedua bertambah sebanyak 39.340 orang atau total menjadi 1.197.772 orang. Target sasaran vaksinasi sebanyak 40.349.051 orang dan sasaran vaksinasi tenaga kesehatan sebanyak 1.468.764 orang.

Vaksinasi tahap I dimulai sejak 13 Januari 2021, yang menyasar tenaga kesehatan. Sementara vaksinasi tahap II dimulai pada 17 Februari 2021, dengan total sasaran vaksinasi 38 juta orang yang terdiri atas 21 juta orang lanjut usia (lansia) dan 16 juta lainnya adalah pelayan publik.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan vaksinasi lansia hingga sebanyak 21,5 juta hingga Juni 2021.Pelayan publik termasuk di antaranya pejabat negara, pegawai pemerintah, tokoh agama, pedagang pasar, guru dan dosen, atlet, wartawan dan pelaku sektor pariwisata.

Pada hari yang sama, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan persetujuan izin penggunaan darurat atau ‘emergency use authorization’ (EUA) terhadap produk Vaksin AstraZeneca untuk penanganan COVID-19.

Proses pemasukan juga sudah disetujui oleh BPOM dengan diterbitkan surat persetujuan pemasukan vaksin secara khusus.

EUA sudah dikeluarkan BPOM pada 22 Februari 2021 dengan nomor EUA 2158100143A1. Indonesia menerima pengiriman vaksin AstraZeneca pertama yang diperoleh dari skema kerja sama global untuk vaksin dan imunisasi (GAVI) COVAX Facility. (sur/fin)

Related Articles

Back to top button