Bekasi

IPM Turun, Ekonomi Bangkit

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dibutuhkan kebijakan matang mulai perencanaan hingga pengendalian dalam pembangunan di Kota Bekasi, dari Sumber Daya Manusia (SDM) hingga infrastruktur. Pada sektor ekonomi, Kota Bekasi terus mengembangkan kemudahan pelayanan, investasi menjadi hal penting.

Pembangunan manusia pada masa pandemi menurun dibandingkan tahun sebelumnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bekasi tahun 2020 81,50 persen. Menurun 0,09 persen dari tahun sebelumnya 81,59 persen, nomor dua se Provinsi Jawa Barat. Hal ini terjadi lantaran sederet kendala yang dihadapi selama pandemi.

Beberapa aspek dalam penyusunan IPM masih menunjukkan peningkatan, kecuali pengeluaran per kapita penduduk. Angka harapan hidup masyarakat Kota Bekasi masih berada di 75,01 tahun, dibandingkan tahun sebelumnya 74,89 tahun.

Pada sektor pendidikan, harapan lama sekolah naik menjadi 14 tahun, rata-rata lama sekolah naik menjadi 11,16 tahun. Sedangkan, pengeluaran per kapita penduduk tahun lalu Rp15,7 juta, dibandingkan tahun lalu Rp16,1 juta.

“Dalam kondisi begini kan kondisi ekonomi kita rata-rata turun, IPM kita rata-rata turun, tapi kita bersyukur di sela-sela kondisi seperti ini kita masih mampu menciptakan pertumbuhan,” terang Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi.

Di tubuh pemerintah, kondisi keuangan daerah mampu melalui 10 bulan masa pandemi. Setelah dilakukan refocusing anggaran, pendapatan daerah masih mampu didongkrak naik 10 persen.

Kota Bekasi disebut berhasil keluar dari keterpurukan ekonomi dampak masa pandemi. Tahun 2020 telah berlalu, masa pandemi masih mengurung Kota Bekasi tahun 2021 ini, menurutnya perlu kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan daerah.

Pada sektor pendidikan, diakui kualitas pendidikan menurun selama masa pandemi. Salah satu faktornya perbedaan antara metode pembelajaran daring dan metode pembelajaran tatap muka pada situasi normal. Angka harapan lama sekolah dan rata-rata sekolah optimis tidak akan turun, hal ini didukung oleh kebijakan wajib belajar pemerintah.

“Masih bisa (dipertahankan), sekarang kan persoalannya karena tidak bisa belajar dengan tatap muka saja, harus menggunakan alat, daring atau vidcon. Mungkin penurunan kualitas iya, pasti, karena berbeda antara daring dengan tatap muka,” ungkapnya.

Satu lagi masalah menahun yang tengah dimulai penanganannya yakni banjir, dua hal yang harus diselesaikan adalah penanganan di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan banjir di daerah dataran rendah.

Sementara itu, penanganan banjir di sepanjang DAS Kali Bekasi dimulai dengan pengerjaan Normalisasi Kali Bekasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Masalah yang kompleks menunggu untuk ditangani yakni banjir pada wilayah dataran rendah, wilayah yang dulu difungsikan sebagai rawa dan lahan bercocok tanam berubah menjadi area permukiman.

Diprediksi, 30 sampai 40 tahun yang akan datang, dampak wilayah banjir diprediksi akan semakin parah lantaran ruang serapan air berkurang.”(Volume) airnya pasti sama, tapi ruangnya yang berkurang. Pemanfaatan ruangnya ya hari ini harus ada keberanian, memfungsikan kembali saluran sekunder, tersier. Kalau disitu terjadi penyempitan, ada bangunan, nah itu yang harus kita lakukan restoratif justice,” terangnya.

Opsi yang harus dilakukan untuk penanganan banjir di wilayah ini, adalah membuat folder, penampungan air sementara. Opsi ini diyakini setelah melakukan kunjungan ke daerah lain, penanganan yang dilakukan dengan membuat seribu folder air. (sur)

Related Articles

Back to top button