Ketua Dewan Pers: Covid-19 Mengakibatkan 50 Ribu Anak Jadi Yatim

Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh saat pembekalan daring peserta program FJPP, Kamis (8/7/2021).
Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh saat pembekalan daring peserta program FJPP, Kamis (8/7/2021).

RADARBEKASI.ID, JAKARTA-Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh mengingatkan bangsa Indonesia untuk semakin mengencangkan rasa empati dan berkolaborasi dalam mengusir pandemi Covid-19. Saat ini diperkirakan ada 49 sampai 50 ribu anak-anak menjadi yatim akibat orangtua mereka menjadi korban Covid-19.

”Rasa simpati saja saat ini sudah tidak cukup. Harus punya empati yang lebih besar menghadapi masa-masa pandemi seperti ini,” ungkap Ketua Dewan Pers M Nuh dalam webinar Pembekalan Peserta Fellowship Jurnalis Perubahan Perilaku (FJPP), Kamis (8/7/2021).


Mantan Mendikbud ini menambahkan, dalam persoalan yang komplek seperti pandemi Covid-19 ini, solusinya tidak bisa dilakukan tunggal. ”Dalam rumus matematika saja, kalau masalahnya kompleks, maka jawabannya tidak bisa tunggal,” ungkap guru besar (profesor) bidang ilmu Digital Control System dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika ini.

Karena itu dia mengajak masyarakat untuk saling berkolaborasi bukan saling salah menyalahkan. ”Saatnya masing-masing mengambil peranan untuk berkolaborasi melawan pandemi ini. Bukan lagi waktunya saling menyalahkan,” sarannya.


Mantan Rektor ITS Surabaya ini menambahkan, sikap optimistis sangat penting dibangun di tengah-tengah masyarakat, terutama tenaga kesehatan. ”Jangan sampai merasa lelah berperang melawan Covid-19. Dan ini sudah mulai terasa karena suasananya berbeda dengan di awal-awal-Covid-19 tahun lalu,” paparnya.

Apalagi, kondisi saat ini dengan jumlah kasus positif terus melonjak dan jumlah kematian terus bertambah, Nuh mengatakan ada problem baru di masyarakat. Terutama bagi anak-anak yang kehilangan ayah atau ibunya karena Covid-19.
”Saya hitung-hitung berdasarkan angka kematian yang ada kemarin, diperkirakan ada 49-50 ribu anak yatim baru. Paling tidak ada tambahan 10 ribu anak yatim baru karena mereka kehilangan ayah atau bunda yang meninggal akibat COVID-19,” ungkapnya.

 

Kondisi ini semakin memperburuk kondisi keluarga yang hanya memiliki tulang punggung dengan pendapatan Rp4 juta-Rp5 juta per bulan. ”Begitu tulang punggung keluarga itu kena Covid-19 dan meninggal, keluarga tersebut langsung kehilangan pekerjaan atau pendapatannya karena Covid,” imbuhnya.

Karena itu, dia mengajak peserta FJPP membangkitkan nilai-nilai optimistis dan semangat dalam mengusung perang melawan Covid-19. Nuh juga mengajak peserta untuk berempati terhadap para korban dan nakes.

”Saat ini bukan lagi bersikap simpati untuk kasihan kepada tetangga yang terpapar Covid-19. Namun, berempati dan membantu tetangga membelikan oksigen atau vitamin bagi nakes, tandasnya. (zar)