Terendam, Ratusan Warga Mengungsi

TIGA HARI BANJIR: Foto udara perumahan warga yang banjir di Desa Buni Bakti Babelan Kabupaten Bekasi, Kamis (20/1). Sejak Selasa (18/1) banjir melanda Desa Buni Bakti Babelan. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BABELAN – Ratusan Kepala Keluarga (KK) di Kecamatan Babelan terpaksa harus meninggalkan rumah untuk mengungsi. Ya, sejak tiga hari rumah mereka terendam air sehingga tak bisa digunakan untuk beraktivitas. Ratusan KK tersebut yakni di Perum Leticia 2 Rt 28/15, Desa Buni Bakti, dan Kampung Wates RT 001/006, Desa Kedung Jaya, Kecamatan Babelan.

Tingginya debit air yang merendam Kampung Wates RT 001/006, Desa Kedung Jaya, Kecamatan Babelan, membuat warga harus mendirikan posko pengungsian sendiri dengan barang-barang seadanya.


“Bikin gubuk buat ngungsi sudah tiga hari, setelah banjir merendam rumah. Belum ada bantuan,” ujar warga Kampung Wates, Nalih (70), salah satu warga yang harus mendirikan gubuk untuk mengungsi, Kamis (20/1).

Sementara itu, Ketua RT 28 Desa Buni Bakti, Supratno mengatakan banjir yang melanda kediamannya ini sudah terjadi dari tiga hari yang lalu, dengan ketinggian air 60 Cm. Menurutnya, sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah setempat. Dirinya berharap agar pemerintah bisa mengevaluasi tentang penurapan kali dan gedung pompa untuk mengantisipasi banjir, karena disini setiap tahun dilanda banjir.


“Banjir sudah tiga sampai empat hari, dengan ketinggian air mulai dari 50 sampai 60 cm, jumlah KK 145. Banjir ini disebabkan karena curah hujan yang tinggi dan normalisasi kali,” ungkapnya.

Pantauan di lokasi, puluhan rumah warga di Kampung Wates, banjir akibat luapan sungai serta curah hujan yang tinggi sejak Selasa (18/1). Sebagian warga memilih untuk membuat tenda darurat dari terpal di bibir jalan karena rumahnya terendam banjir. Berbeda dengan warga Perumahan Taman Leticia 2, warga memilih bertahan di rumahnya karena takut kehilangan barang berharga.

Berdasarkan data yang ada di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, di Perum Leticia 2 Rt 28/15, Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, warga yang terdampak 200 KK. Sementara di Kampung Wates RT 001/006, Desa Kedung Jaya, Kecamatan Babelan, warga yang terdampak sebanyak 55 KK. Penyebabnya, karena tingginya intensitas hujan yang menyebabkan meluapnya air kali Tambun.

Terpisah, Warga Perumahan Puri Nirwana Residence, Desa Sukaraya, Kecamatan Karang Bahagia, Gazya, harus menunggu lama untuk mendapat bantuan evakuasi, setelah kediamannya terendam banjir sampai sepaha orang dewasa. Pasalnya, Gazya menderita stroke dan tidak bisa berjalan.

“Menunggu perahu karet atau mobil masalahnya kaki saya sakit, nggak bisa jalan. Saya menunggu sudah ada setengah jam, saya mau mengungsi ke rumah anak,” ucapnya.

Menurutnya, banjir di tempatnya ini sudah sering terjadi, tapi paling parah baru sekarang. Dia berharap, pemerintah memperbaiki saluran air. Walaupun sebenarnya, pembuangan air memang sudah ada, tapi tidak berfungsi maksimal.

Kepala BPBD Kabupaten Bekasi, Henri Lincoln menjelaskan ada sebelas kecamatan yang terendam banjir. Sebelas kecamatan tersebut yakni Kecamatan Tarumajaya, Babelan, Sukawangi, Muaragembong, Sukakarya, Tambun Utara, Karang Bahagia, Cikarang Utara, Cikarang Barat, Cikarang Timur, dan Cabang Bungin. Banjir disebabkan karena hujan yang deras.

Saat ini kata Henri, kondisinya mulai surut seperti di Karang Bahagia dan beberapa kecamatan lainnya. Sekarang ini pihaknya sudah melakukan evakuasi di beberapa titik banjir, rata-rata yang minta dievakuasi ketinggian air 80-100 cm. Banjir tersebut disebabkan karena curah hujan terus menerus, sementara saluran tidak bisa menampung, makanya terjadi genangan.

“Banjir tersebut karena curah hujan yang tinggi dua hari belakangan ini. Itu curah hujannya terus menerus, saluran tidak bisa menampung, makanya terjadi genangan. Jadi karena intensitasnya saja tinggi,” tuturnya.

Saat ini warga masih memanfaatkan kantor desa, kecamatan, maupun sekolah, untuk tempat pengungsian sementara. “Kalau masih ada kantor desa, kecamatan, maupun sekolah, yang terdampak banjir kita fungsikan. Misalkan itu nggak ada, baru kita mendirikan tenda pengungsian,” jelasnya. (pra)