RADARBEKASI.ID, BEKASI – Layanan penukaran mata uang asing atau Money Changer di Bekasi mencatat peningkatan penukaran jual maupun beli seiring melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Peningkatan transaksi tidak hanya terjadi baru-baru ini, melainkan sejak konflik timur tengah memanas.
Hal ini dirasakan oleh salah satu Money Changer di Kawasan Bekasi Selatan.”Kalau untuk mata uang lain biasa, tapi kalau untuk dolar lebih banyak yang jual dan beli,” kata salah satu pegawai Money Changer, Denita.
Sejak konflik timur tengah memanas, ia mengaku setiap hari selalu ada penukaran, baik perorangan maupun perusahaan. Dalam satu hari, ia bisa melayani 50 sampai 70 Customer, lebih banyak dibandingkan biasanya yang berkisar 30 sampai 50 customer khusus untuk penukaran dolar. “Biasanya perusahan yang menukar untuk keperluan ekspor dan impor,” ucapnya.
Saat momen libur panjang seperti pekan kemarin, ia bisa melayani 100 customer setiap harinya. Selain untuk keperluan berlibur, customer perorangan yang datang juga mengaku menukarkan rupiah karena khawatir nilai tukarnya terus melemah.”Kemarin itu customer beli dolar karena katanya takut makin naik,” tambahnya.
Dosen Ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mulia Pratama, Andi Muhammad Sadli menyampaikan bahwa depresiasi nilai tukar membuat masyarakat lebih sensitif terhadap dolar.
Namun, meningkatnya penukaran dolar ini bukan semata-mata karena kepanikan.
“Tetapi mereka melihat dolar sebagai aset lindung, nilai jangka pendek. Mereka membeli dolar ketika nilai rupiah melemah, menahan sementara, lalu berharap menjualnya ketika kurs bergerak lebih tinggi, ini perilaku rasional dalam ekonomi,” paparnya.
Faktor berikutnya adalah kebutuhan riil, hal ini bisa terjadi saat momentum libur panjang untuk bepergian ke luar negeri. Permintaan uang asing kata dia, cenderung meningkat saat banyak orang membutuhkannya untuk berbagai keperluan mulai dari wisata, ibadah, studi, hingga belanja.
“Jadi antrian di money changer tidak selalu berarti tindakan spekulasi, sebagian memang karena kebutuhan transaksi,” ucapnya.
Berikutnya, tingginya permintaan dolar juga berasal dari perusahaan atau korporasi untuk impor energi, bahan baku industri, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan valas lainnya.
Dari sisi fiskal, depresiasi rupiah akan berdampak ganda. Penerimaan negara dari komoditas ekspor akan terbantu dalam rupiah. Sisi lain akan menambah beban subsidi dan impor energi, pembayaran bunga dan cicilan utang valas, hingga belanja pemerintah terkait barang impor.
Dalam kondisi melemahnya nilai rupiah menurut Andi, Bank Indonesia (BI) biasanya akan meresponnya dengan intervensi valas, operasi pasar, instrumen moneter, hingga menjaga daya tarik aset rupiah. (sur)











