10 Persen Sekolah Swasta Tutup Pendaftaran

ILUSTRASI: Sejumlah siswa SDI Al-Alaq Kota Bekasi mengikuti pembelajaran di kelas. BMPS Kota Bekasi menyatakan bahwa saat ini baru sekitar 10 persen sekolah swasta yang menutup pendaftaran PPDB tahun ajaran 2022/2023. ISTIMEWA

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Bekasi menyatakan bahwa saat ini sekitar 10 persen sekolah swasta sudah menutup pendaftaran dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2022/2023. Penutupan pendaftaran karena sudah terpenuhinya daya tampung siswa baru.


Sekretaris Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Bekasi Ayung Sardi Dauly menyampaikan, rata-rata sekolah swasta sudah membuka pendaftaran PPDB sejak November 2021. Hingga saat ini, baru 10 persen sekolah yang sudah menutup pendaftaran.

“Kalau dihitung persentase secara menyeluruh, baru ada 10 persen sekolah swasta elit yang sudah menutup proses pendaftarannya,” ujarnya kepada Radar Bekasi Minggu (26/6).


Penutupan pendaftaran siswa baru oleh sebagian sekolah jenjang SD hingga SMA, SMK, itu sudah dilakukan terhitung Maret- Mei 2022. Berdasarkan data yang dihimpun, satuan pendidikan di Kota Bekasi berjumlah 756 sekolah terdiri dari 301 SD, 243 SMP, 85 SMA, dan 127 SMK.

Lebih lanjut dikatakan Ayung, setiap jenjang pendidikan sekolah swasta memiliki daya tarik tersendiri. Pada satuan pendidikan jenjang SD, daya tariknya paling tinggi.

“PPDB SD swasta itu daya tariknya cukup tinggi, karena tumbuh kembang siswa di sekolah swasta itu sepertinya lebih cepat. Jadi peminatnya juga lebih tinggi,” katanya.

Berbeda halnya dengan jenjang SMP. Untuk PPDB SMP, sekolah harus memberikan promosi yang lebih menarik agar dapat menerima siswa baru lebih banyak.

“Kalau SMP daya tariknya ada di promosi, semakin banyak keuntungan yang diberikan kepada siswa maka sekolah tersebut akan jadi incaran bagi siswa baru,” ucapnya.

Sedangkan jenjang SMA, lanjut dia, bagaimana sekolah dapat mencetak lulusan yang berhasil melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi.

“Untuk SMA swasta, orangtua akan lebih banyak melihat prestasi sekolah. Mereka akan melihat seberapa banyak hasil lulusannya lanjut ke perguruan tinggi, tapi yang kedua adalah tetap promosinya,” terangnya.

Kemudian daya tarik SMK, sekolah swasta akan dicari sesuai dengan kebutuhan dan peminatan yang diinginkan siswa. “Kalau SMK sesuai keinginan atau peminatan siswa saja, mereka akan mencari yang sesuai kemampuan dan keinginannya,” ujarnya.

Dikatakannya, sekolah swasta bisa tutup karena tidak menerima siswa kemungkinan dapat terjadi pada jenjang SMP, SMA, maupun SMK. Hal itu tidak terjadi pada sekolah jenjang SD.

“Kalau SD sepertinya cukup aman karena peminatnya masih cukup besar sekali,” katanya.

Sementara, Kepala SDI Al-Alaq Kota Bekasi Zulfa Maulida mengatakan, daya tampung siswa baru di sekolahnya berjumlah dua rombongan belajar. Saat ini, SDI Al-Alaq sudah menerima 38 siswa baru.

“Alhamdulillah sebentar lagi kuota kami terpenuhi dan dalam waktu dekat ini mungkin proses pendaftaran kami akan tutup,” ucapnya.

Dikatakan, SDI Al-Alaq memiliki daya tarik yang cukup kuat. Selain menjadi Sekolah Penggerak angkatan pertama, SDI Al-Alaq juga merupakan sekolah Islam yang memiliki visi “Being a superior Islamic educational institution to create a generation of Moslem who qualifies”.

“Hal ini kami wujudkan dengan pola pendidikan yang mengedepankan akhlak sebelum ilmu, mendidik anak sesuai zaman, dan pendidikan yang seimbang antara IQ, EQ, SQ dan AQ. Menurut saya ini merupakan salah satu daya tarik orangtua siswa untuk menyekolahkan anaknya di sekolah kami,” pungkasnya. (dew)