Implementasi Kurikulum Merdeka Mandiri di Kota Bekasi Belum Optimal

ILUSTRASI: Sejumlah siswa SDN Jatiasih IV Kota Bekasi mengikuti ujian tengah semester, belum lama ini. IKM jalur mandiri yang diterapkan sejumlah SD di Kota Bekasi belum optimal. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI  – Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) jalur mandiri yang diterapkan sejumlah SD di Kota Bekasi belum optimal. Guru masih perlu penyesuaian.

Pengawas SD Gugus I, II, dan IV Supyanto menjelaskan, sekolah yang menerapkan IKM mandiri tak mendapatkan pendampingan seperti halnya Program Sekolah Penggerak.


“Kalau Program Sekolah Penggerak (PSP) kan ada pendampingan yang diberikan oleh pelatih ahli, sedangkan IKM mandiri ini tidak ada pendampingan khusus yang diberikan. Jadi penerapannya masih membutuhkan banyak belajar,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Minggu (30/10).

Saat ini, satuan pendidikan yang menerapkan PSP berjumlah 44 sekolah terdiri dari angkatan pertama 15 sekolah dan angkatan kedua 29 sekolah. Sedangkan satuan pendidikan yang menerapkan IKM mandiri lebih banyak.


Sepengetahuan Supyanto, jumlah sekolah yang menerapkan IKM mandiri hampir separuh dari total SD sebanyak 662 sekolah dengan rincian 357 sekolah negeri dan 305 sekolah swasta. Ia menyebut, IKM mandiri belum berjalan dengan baik.

“Banyak sekolah yang belum bisa mengoptimalkan IKM mandiri dengan baik,” ucapnya.

IKM mandiri yang belum optimal lantaran guru masih menerapkan metode pembelajaran seperti biasanya. Seharusnya tenaga pengajar sudah diterapkan metode pembelajaran berbasis proyek.

Selain itu menurutnya, penerapan IKM mandiri harus efisien. Oleh karena itu, dibutuhkan keseriusan dan kesungguhan guru maupun kepala sekolahnya untuk terus belajar.

“Harus ada keseriusan dan kesungguhan untuk belajar, karena IKM mandiri itu tidak bisa berjalan efisien jika sekolahnya tidak mau belajar. Jadi memang masih dibutuhkan banyak belajar untuk penerapan yang lebih efisien,” ucapnya.

Dikatakan Supyanto, guru dapat belajar melalui Platform Merdeka Mengajar yang diberikan secara luas melalui program Merdeka Belajar. “Guru harus mau belajar jangan menunggu arahan terus agar penerapan IKM mandiri ini bisa benar-benar efektif,” katanya.

Terpisah, Kepala SDN Jatimekar VI Agam mengungkapkan, sekolah yang dipimpinnya sudah menerapkan IKM mandiri. Namun belum diterapkan menyeluruh bagi siswa.

Diakui, penerapan IKM mandiri tanpa adanya pendampingan membutuhkan kesungguhan dan keseriusan. “Memang kalau mandiri itu gurunya harus banyak belajar, jadi butuh kesungguhan dan keseriusan untuk mau belajar,” tuturnya. Lebih lanjut dikatakan, efektivitas penerapan IKM belum berjalan dengan cukup baik sehingga masih butuh penyesuaian.

“Masih dibutuhkan penyesuaian dalam penerapan IKM ini agar pelaksanaan dan penerapannya bisa lebih efektif,” tukasnya. (dew)