Nonton TV Makin Sulit

STOK KOSONG : Pedagang melayani pembeli set top box di Toko Aneka Listrik Jalan Alexindo, Medan Satria, Kota Bekasi, Senin (7/11). Permintaan masyarakat terhadap pembelian Set Top Box meningkat drastis seiring kebijakan pemerintah menyuntik mati siaran TV Analog ke TV Digital. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI –¬†Sejak kebijakan migrasi TV analog ke TV digital di wilayah Jabodetabek ditetapkan, sebagian masyarakat Kota Bekasi kesulitan menonton TV. Pasalnya, sebagian warga belum berhasil membeli Set Top Box (STB) lantaran persediaan langka. Selain langka, harga jual STB juga meroket, belum lagi jika masyarakat diharuskan membeli satu paket dengan antenanya.

Persediaan STB di toko dewasa ini tidak bisa bertahan lama, warga akan tetap membeli meskipun persediaan yang bukan kategori murah. Diketahui, harga STB yang bersertifikasi Kominfo harganya bervariasi, di kelompok termurah harganya mulai dari Rp155 ribu sampai Rp189 ribu.


Tapi di Bekasi, harga termurah saat ini Rp200 ribu.”Sudah beli kemarin Rp200 ribu, (pilih beli di toko) soalnya kalau di online rata-rata Rp220 atau Rp230 ribu,” Kata warga Bantargebang, Lukmanul Hakim, Senin (7/11).

Biaya yang dikeluarkan untuk dapat menikmati siaran TV ini bertambah saat ia harus juga mengganti antena TV, karena informasi yang ia dapat antena di rumah tidak bisa menangkap sinyal TV digital.


Penelusuran Radar Bekasi di laman siaran digital.kominfo.go.id, antena untuk siaran TV digital tidak memiliki kriteria khusus yang harus dipenuhi. Masyarakat tetap bisa menggunakan antena biasa, atau antena Ultra High Frequency (UHF) indoor maupun outdoor.

Lukman mengakui bahwa siaran TV digital ini memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan siaran TV analog. Namun, ia menyayangkan hal ini tidak dibarengi kesiapan perangkat, akibatnya masyarakat harus merogoh kocek dalam-dalam.

“Cuman tidak dibarengi dengan kesiapan perangkat yang disiapkan, soalnya ya tadi nyarinya susah, harganya agak lumayan, dan kadang kita harus ganti satu set sama antena baru buat nangkep sinyal,” tambahnya.

Hari ini sudah memasuki hari ke enam TV di rumah salah satu Warga Pondok Gede, Ida (50) dibiarkan mati lantaran ia belum memiliki STB. Sehingga, untuk menikmati siaran TV tertentu, keluarganya terpaksa streaming melalui telepon genggam.

Sudah beberapa kali ia juga kehabisan stok STB di toko langganannya. Belum sampai 20 menit sejak STB tersedia untuk para pelanggan, persediaannya sudah habis terjual seluruhnya.

Sudah beberapa hari ini Ida memantau status aplikasi pesan singkat toko langganannya supaya tidak kehabisan.”Terus dia buat status kan, lumayan banyak lagi kalau aku liat itu stoknya, terus aku siap-siap mau jalan, tiba-tiba lima menitan sold out, baru juga aku mau jalan dari rumah,” katanya.

Dalam satu hari ia memantau, persediaan baru bisa datang sampai tiga kali, semua habis dalam waktu singkat. Yang yang sengaja ia sisihkan untuk membeli STB masih tersimpan rapi, jika tidak kunjung mendapatkan STB, ia khawatir uangnya terpaksa harus digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.”Aku belum dapat STB, paling kalau nonton TV itu streaming,” tambahnya.

Hal serupa juga dialami oleh warga Bekasi lainnya, Nurdiansyah (20), ia bahkan harus merogoh kocek hingga Rp350 ribu untuk membeli STB satu paket dengan antena baru. Dua hari yang lalu, ia membeli STB di toko online untuk memastikan keluarganya di rumah bisa tetap menikmati siaran TV.”Rp350an, soalnya harus sama antena juga,” ungkapnya.

Pantauan Radar Bekasi di kawasan pertokoan di Bekasi Timur, nampak pemilik toko memberikan informasi STB kosong. Sementara di toko lain yang masih menyediakan STB, harga termurah dimulai dari Rp230 ribu sampai yang termahal Rp300 ribu.

Penjual mengaku stok menipis sejak dari distributor.”Ya karena harga dari sananya (distributor) sudah tinggi, kita juga jual di kisaran Rp230 ribu sampai Rp300 ribu per unit,” kata salah satu pemilik toko, Sony (35).

Bahkan untuk membeli STB dari distributor, ia mengaku harus bersaing dengan penjual lain. Akibatnya, ia tidak bisa menyediakan STB dalam jumlah banyak.

Toko online maupun offline memang sedang diserbu pembeli, masyarakat berburu STB lantaran siaran TV analog sudah tidak bisa lagi dinikmati. Fenomena pembelian STB secara online ini nampak dari tingginya paket pengiriman barang berisi STB di perusahaan jasa ekspedisi.

“Nah sekarang paket puncaknya itu paling banyak pengiriman STB,” kata salah satu karyawan perusahaan ekspedisi, Isal (20).

Informasi yang ia dapat selama berkomunikasi dengan pelanggan, rata-rata mengaku kesulitan untuk membeli STB lantaran persediaan langka. Sebagian besar paket yang saat ini diantar adalah STB plus antena.

“Lebih dominan yang plus antena, cuma selisihnya nggak jauh sih (dengan paket hanya berisi STB),” ungkapnya.

Satu hari setelah siaran TV analog resmi dinonaktifkan oleh pemerintah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membuat beberapa posko STB bagi masyarakat yang belum mendapatkan STB geratis, salah satu ya berada di Kota Bekasi. Posko tersebut berdiri selama dua hari, tepatnya tanggal 3 dan 4 November.

Sementara itu, Kota Bekasi pada saat persiapan migrasi TV digital mendapatkan 30.305 STB gratis , diperuntukkan bagi kelompok masyarakat kategori miskin ekstrim. Pada hari H TV analog dinonaktifkan, 100 persen STB geratis disebut sudah dibagikan kepada masyarakat.

Saat ini belum ada rencana tambahan STB gratis bagi masyarakat.”Sementara belum ada (rencana tambahan STB gratis), karena barang semua dari Kominfo, dan sudah didistribusikan sesuai data dari Kominfo juga,” ungkap Kepala Diskominfostandi Kota Bekasi, Hudi Wijayanto. (Sur)