Samsung Terdampak Krisis Ekonomi Global Tahun 2022, Laba Merosot 70 Persen

Samsung dilaporkan mencatat kinerja yang kurang baik di 2022. (Samsung)

RADARBEKASI.ID, KORSEL – Produk smartphone papan atas Samsung mulai merasakan dampak krisis ekonomi global sejak 2022. Laba kuartal keempat tahun 2022 merosot 70 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2021.

Berdasarkan laporannya, kinerja keuangan Samsung untuk kuartal terakhir tahun 2022 dilaporkan jauh di bawah ekspektasi.


Musim libur Natal dan Tahun Baru tampaknya tak cukup mampu mendongkrak kinerja Samsung. Untuk Natal, perusahaan berharap dapat menjual banyak smartphone kelas atas, tetapi tampaknya publik tidak begitu antusias.

Hasil Samsung buruk dilaporkan karena tidak lepas dari krisis ekonomi global. Selain itu, kinerja Samsung juga disebut berada di titik terendah dalam delapan tahun terakhir.


Dilansir dari Gizchina, ekonom raksasa teknologi Korsel itu mengklaim bahwa kenaikan suku bunga dan biaya hidup adalah penyebab lemahnya penjualan sektor teknologi.

BACA JUGA: Awas, Krisis Pangan Mengancam

Konsumen berhenti berinvestasi pada perangkat elektronik baru ketika harus memprioritaskan pembelian mereka.

Selain itu, mengacu pada data keuangan triwulanan yang ditampilkan di situs web Samsung, kuartal keempat laba tahun 2022 berjumlah sekitar EUR 3,2 miliar atau berkisar Rp 52,9 triliun.

Tahun lalu, di kuartal yang sama, Samsung sukses mencatat angka laba sebesar EUR 10,7 miliar atau berkisar Rp 177 triliun lebih.

Akibatnya, laba menurun sebesar 70 persen antara satu tahun dan tahun berikutnya. Untuk menemukan laba yang rendah tersebut, kita harus melihat kembali ke tahun 2014.

Samsung menyalahkan permintaan smartphone dan komponen semikonduktor yang lebih sulit dari perkiraan untuk statistik yang sangat mengecewakan ini.

Menurut perusahaan, permintaan yang melemah dari klien server, pusat data, dan produsen telepon menyebabkan penjualan chip menurun karena keadaan ekonomi eksternal diperkirakan masih belum jelas.

“Semua bisnis Samsung mengalami masa sulit, tetapi prosesor dan smartphone khususnya,” klaim seorang analis. Apakah situasinya akan menjadi lebih baik atau lebih buruk pada 2023? Kita tunggu saja. (jpc)