Berita Bekasi Nomor Satu

Ribuan Hektare Sawah di Bekasi Gagal Panen

Illustrasi : Petani menaburkan pupuk urea yang dicampur phonska di ladang sawah garapannya Sukawangi Kabupaten Bekasi, Kamis (29/9). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ini merupakan pekan suram bagi petani di Kab Bekasi. Betapa tidak. Bencana banjir yang melanda selama sepekan terakhir telah merusak masa panen mereka. Total ada 7.800 hektar lahan pertanian masyarakat Kabupaten Bekasi terendam. Dimana 55,4 persen atau sekitar 4 ribu hektare di antaranya telah dinyatakan gagal panen atau puso.

Perlu diketahui, Kabupaten Bekasi merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Barat dengan hasil produksi rata-rata mencapai 523.024 ton gabah kering pertahun. Hal ini lah yang membuat Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pada Rabu (1/3) lalu datang meninjau lokasi sawah yang dilanda banjir di Desa Sukabakti, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi.

Turun bersama sejumlah pejabat teras Pemkab Bekasi, Syahrul mengatakan, dari hasil pantauan dari satelit terdapat 6 ribuan hektare areal pertanian Bekasi yang terdampak banjir. Dan benar saja, Syahrul menyaksikan sendiri bagaimana banjir merendam sawah di Desa Sukabakti yang luasnya mencapai 700 hektare.

Dari peninjauannya itu, Syahrul bersama Pemerintah Kabupaten Bekasi akan mengambil tiga langkah penanganan. Pertama, mendata dan mengklasifikasikan kondisi sawah yang tergenang. Dirinya berjanji akan memprioritaskan bantuan kepada para petani yang mengalami dampak terparah.

“Mendata dengan tepat untuk diklasifikasi daerah yang terparah, daerah yang sedang dan daerah yang bisa diselamatkan. Semua daerah yang terparah yang tidak bisa diselamatkan saya udah janji dengan pemerintah daerah terlebih petani di sini, akan kami siapkan bibit dan supporting system lain,” ucapnya.

Kedua, Syahrul melanjutkan, jajarannya akan memberikan bantuan pompa air kepada para petani yang lahannya tergenang. Ketiga, pihaknya bakal turut memberikan pendampingan kepada petani hingga mereka memulai menanam kembali. Pada kesempatan ini dirinya menegaskan, penanganan ini akan dilakukan segera demi mencegah kerugian petani. Dirinya berharap setiap setiap tiga hari laporan ini harus masuk, yang mana kebiasaan yang ada banjir itu kan tiga hari. Khususnya di lahan pertanian.

“Kalau jangka tiga hari padi masih bisa bertahan, sepanjang segera bisa surut dan adapula padi yang bertahan selama lima hari. Ini akan diikuti oleh dirjen terkait dari tanaman pangan. Semua dirjen di Kementan akan menyatu bersama pemrintah daerah yang terkena banjir,” tuturnya.

Semua upaya penanggulangan ini harus dilakukan dengan efektit, mengingat Kabupaten Bekasi adalah wilayah penyangga pangan bagi penduduk kota seperti Jakarta. Bahkan beras asal Bekasi juga merupakan penyangga bagi kota-kota besar lainnya di wilayah Jawa Barat.

“Kita harus jaga ini, karena Bekasi merupakan lumbung pangan kita bagi penduduk kota. Bekasi adalah wilayah subur yang memiliki potensi besar untuk menguatkan ketahanan pangan nasional. Tentu saya berharap banjir ini segera lewat dan Bekasi segera pulih,” katanya.

Saat disinggung mengenai stok pangan secara nasional, Politikus Partai NasDem ini menyatakan bahwa stok pangan nasional masih aman. Ia menjelaskan, saat ini ada sekitar 40 ribu sampai 50 ribu hektare lahan pertanian di tanah air sedang dilanda bencana. Angka itu masih relatif aman jika merunut total luasan lahan yang mencapai 7,4 juta hektare.

“Insya Allah, saya kira stok kita aman. Sebenarnya Indonesia memasuki panen raya tertinggi Maret ini, oleh karena itu tentu ini tantangan dan ujian dari tuhan kepada kita semua,” ungkapnya.

Kegagalan panen ini sangat membuat petani Bekasi merana. Seperti yang dirasakan Petani Desa Sukakerta, Sutoyo (45). Kepada Radar Bekasi Sutoyo menjelaskan, lahan pertaniannya seluas 10 hektare sudah tak mungkin lagi dipanen.

“Kerugian perhektar minimal Rp 10 juta, karena sudah mau masuk masa panen,” ungkapnya.

Ketua Harian DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar, Entang Sastraatmadja mengatakan, negeri ini memiliki jenis benih yang tahan air dan tanah kering. Petani yang menanam benih padi tidak tahan air, bisa dipastikan tanaman padinya akan rusak dalam kondisi banjir.

“Tapi kalau yang ditanamnya itu adalah yang tahan air, tergenang sampai seminggu, tergenang beberapa hari lagi, itu tidak apa-apa karena memang dia punya bakatnya seperti itu,” terang Entang.

Jenis benih tahan kering, kata dia, diperkirakan rusak jika dibiarkan tergenang air dalam empat sampai lima hari. Terlebih jika usia padi mendekati masa panen, lebih mudah rusak, sehingga gagal panen. Dengan kondisi yang ada, Entang meminta para petani untuk intens berkomunikasi dengan penyuluh pertanian di wilayahnya untuk mendapatkan informasi dan bantuan.

“Jadi mungkin pak Dani Ramdani ini juga harus diajak sering berkomunikasi dengan para petani,” tambahnya. (Pra/Sur)