Berita Bekasi Nomor Satu

Suara dari Gerbong KRL Ringsek: “Pak, Saya Selamat Tidak?”

EVAKUASI: Petugas Damkar Kota Bekasi mengevakuasi korban yang terjepit di dalam gerbong kereta usai kecelakaan di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4). Proses penyelamatan berlangsung dramatis hingga berjam-jam, di tengah jeritan korban yang meminta pertolongan. RAIZA SEPTIANTO /RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – “Pak, Saya Selamat Tidak?”

Drama pengevakuasian korban kecelakaan kereta di kawasan Stasiun Bekasi Timur, beberapa waktu lalu, menjadi pengalaman yang sulit dilupa bagi para petugas penyelamat. Selain proses evakuasi yang panjang dan penuh tekanan, ada momen yang tak mudah dilupakan. Seperti apa kisahnya?

Malam di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4), berubah dalam hitungan detik. Dentuman keras memecah suasana. Gerbong kereta yang semula penuh penumpang, seketika berubah menjadi ruang sempit yang dipenuhi kepanikan.

Di antara rangka besi yang ringsek, suara minta tolong terdengar bersahutan. Namun, satu kalimat justru paling membekas di ingatan para petugas.

“Pak, saya selamat tidak?”

BACA JUGA: 36 Saksi Diperiksa Polisi Terkait Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur

Kalimat itu datang dari korban yang terjepit di dalam gerbong. Lemah, bergetar, namun penuh harapan.

Tim Damkar Kota Bekasi yang tiba di lokasi hanya beberapa menit setelah laporan masuk, langsung dihadapkan pada pemandangan memilukan. Korban terjepit di antara besi. Sebagian menjerit kesakitan, sebagian lainnya hanya bisa menatap meminta pertolongan.

Danru Rescue Disdamkarmat Kota Bekasi, Sopian, mengatakan momen tersebut menjadi yang paling berat selama dirinya bertugas.

“Korban panik, kesakitan, dan terus bertanya apakah bisa selamat. Itu yang paling membekas,” ujarnya, Rabu (6/5).

Berpacu dengan Waktu di Tengah Keterbatasan

Proses evakuasi berlangsung tidak mudah. Petugas harus bekerja ekstra hati-hati agar tidak memperparah kondisi korban yang terjepit di antara rangka besi gerbong.

BACA JUGA: KAI Siap Tutup 200 Titik Perlintasan Sebidang Tak Penuhi Standar Keselamatan

Peralatan pemotong besi digunakan untuk membuka celah. Setiap langkah dilakukan perlahan dan terukur.

Salah satu momen paling membekas terjadi saat petugas mengevakuasi seorang perempuan yang terjepit cukup parah.

Dengan kondisi lemah, korban terus menatap petugas dan mengulang pertanyaan yang sama.

“Pak, saya selamat nggak?”

Di tengah tekanan, petugas berusaha menenangkan.

“Ibu pasti selamat, yang penting sabar,” kata Sopian.

Proses evakuasi korban tersebut memakan waktu hampir satu jam. Besi harus dipotong sedikit demi sedikit agar tidak membahayakan.

“Kalau salah bisa memperparah kondisi korban, jadi harus pelan-pelan,” jelasnya.

Jeritan yang Menguras Emosi

Di dalam gerbong, suasana begitu mencekam. Jeritan kesakitan, tangisan, dan suara minta tolong bercampur menjadi satu.

Bagi petugas, situasi itu bukan hanya soal teknis penyelamatan, tetapi juga ujian mental.

Danru Disdamkarmat Kota Bekasi, Hendrick, mengaku kejadian ini menjadi salah satu pengalaman paling menguras emosi selama dirinya bertugas.

“Kalau kebakaran mungkin sudah sering. Tapi ini di dalam gerbong, korban banyak, jeritan di mana-mana. Itu benar-benar berat,” ujarnya.

Ia bahkan mengaku sempat tak kuasa menahan air mata saat berada di lokasi.

Menjaga Harapan di Tengah Duka

Proses evakuasi berlangsung hingga 12 jam. Petugas gabungan dari berbagai instansi dikerahkan untuk mengevakuasi seluruh korban.

Di tengah keterbatasan, para petugas tak hanya mengevakuasi, tetapi juga berusaha menjaga harapan para korban.

“Yang penting kami kasih semangat. Jangan sampai mereka putus asa,” kata Hendrick.

Kini, beberapa hari telah berlalu. Namun bagi para petugas, kejadian itu masih membekas.

Masih ada wajah yang teringat.

Masih ada jeritan yang terngiang.

Dan masih ada satu kalimat yang terus hidup di ingatan.

“Pak, saya selamat tidak?”

Hingga data terakhir, jumlah korban dalam kecelakaan kereta di kawasan Stasiun Bekasi Timu mencapai 106 orang. Sebanyak 16 korban dinyatakan meninggal dunia, sementara 17 korban lainnya masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit di Kota Bekasi dan sekitarnya.

Sebagian korban mengalami luka berat akibat terjepit di dalam gerbong, sementara lainnya mengalami trauma akibat benturan keras saat insiden terjadi.

Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan kereta paling memilukan dalam beberapa tahun terakhir di wilayah Bekasi. Selain menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, kejadian ini juga meninggalkan trauma bagi para penyintas dan petugas yang terlibat dalam proses evakuasi. (rez)