RADARBEKASI.ID, BEKASI – Temaram lampu dan gema shalawat berkumandang di kantor Majelis Sahabat Shalawat, Rawalumbu. Sejarah panjang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bekasi kembali diputar.
Perayaan Hari Lahir (Harlah) ke-66 PMII pada Minggu (19/4/2026) malam bukan sekadar seremoni tasyakuran, melainkan momentum penegasan misi besar : Membumikan moderasi beragama di jantung Kota Bekasi.
Ratusan kader berbaju kuning kebesaran memadati lokasi di Jalan Pandega, Kelurahan Pengasinan. Kehadiran tokoh-tokoh sentral seperti Ketua PCNU Kota Bekasi, KH Ayi Nurdin, hingga perwakilan pemerintah Kota Bekasi, Arafat Imam (Plt Kabid Poldagri Kesbangpol), memberikan sinyal kuat bahwa PMII tetap menjadi mitra strategis sekaligus kontrol sosial bagi pembangunan daerah.
Misi Besar “Kota Aswaja”
Sorotan utama dalam malam puncak tersebut adalah pesan ideologis yang disampaikan Ustaz Waryo, Ketua Majelis Pembina Cabang PMII Kota Bekasi. Ia membedah sejarah panjang transisi PMII Bekasi hingga memisahkan diri menjadi entitas Kota dan Kabupaten.
BACA JUGA: IKA PMII Kota Bekasi Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Longsor Cisarua
Namun, poin krusialnya bukan pada romantisme masa lalu, melainkan target masa depan. PMII Kota Bekasi didorong untuk melakukan ekspansi kaderisasi di seluruh perguruan tinggi guna mewujudkan visi ambisius.
“Perjuangan utama seluruh kader PMII adalah untuk mewujudkan masyarakat Kota Bekasi sebagai Kota Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah),” tegas Ustaz Waryo di hadapan ratusan kader.
Estafet Perjuangan dari Putra Sang Pendiri
Nuansa khidmat semakin terasa saat doa penutup dipimpin oleh KH.Yunan Azkaruzaman, Lc, MPd. Kehadirannya memberikan nilai historis yang mendalam; sebagai pimpinan Majelis Sahabat Shalawat sekaligus putra dari almarhum KH.AN Nuril Huda—salah satu tokoh kunci pendiri PMII pada tahun 1960 silam.
Ketua PC PMII Kota Bekasi, Mochamad Rizki Yusa Maulana, dalam sambutannya menekankan pentingnya soliditas internal. Senada dengan itu, Ketua Kopri PMII Kota Bekasi, Almaida Martasari, juga menggarisbawahi peran kader perempuan dalam penguatan struktur organisasi ke depan.
Lebih dari Sekadar Perayaan
Acara yang diawali dengan pembacaan tahlil dan dzikir ini juga diisi dengan pembekalan dari tokoh senior seperti Dr.H Rofiqul Umam Ahmad dan Gus Mochamad Arsyad S Ubaid. Pesannya jelas : Di usia ke-66, PMII tidak boleh hanya besar secara jumlah, tapi harus tajam secara gagasan.
Bagi PMII Kota Bekasi, angka 66 adalah momentum transisi dari organisasi kemahasiswaan biasa menjadi garda terdepan penjaga nilai-nilai Islam moderat di tengah heterogenitas masyarakat urban Bekasi. (*pms)











