Berita Bekasi Nomor Satu

Suasana Sepi Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Langkah kaki para calon jemaah haji masih terdengar pelan di pelataran Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi. Saya berdiri di antara lorong gedung penginapan yang kini terasa lebih lengang dibanding musimmusim haji sebelumnya.

Tak banyak suara riuh keluarga pengantar. Tak lagi terlihat lautan koper memenuhi sudut gedung. Musim haji 2026 menghadirkan suasana yang berbeda lebih tenang, lebih sunyi, namun tetap menyimpan haru yang sama.

Sore itu, suara roda koper sesekali memecah keheningan. Kursi-kursi yang dulu nyaris tak pernah kosong kini tertata rapi tanpa penghuni. Saya masih mengingat betul bagaimana suasana Embarkasi ini beberapa tahun lalu. Lorong dipenuhi antrean jemaah, keluarga saling berpelukan sambil menahan tangis, dan pengeras suara nyaris tak pernah berhenti memanggil rombongan kloter yang datang silih berganti. Kini pemandangan itu berubah.

Musim haji tahun ini menjadi babak baru penyelenggaraan haji di Jawa Barat. Asrama Haji barkasi Jakarta Bekasi hanya menerima 28 kelompok terbang dari delapan kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Sementara sebagian besar daerah lainnya diberangkatkan melalui Asrama Haji Indramayu dan Bandara Internasional Kertajati. Perubahan pola embarkasi itu membuat denyut aktivitas di Bekasi tak lagi sepadat dulu. Bahkan aroma khas musim haji ampuran parfum arab, minyak kayu putih, dan kopi hangat dari keluarga pengantar tak terlalu kuat memenuhi udara seperti biasanya.

Di tengah suasana yang lebih tenang itu, para petugas tetap menjalankan tugas seperti biasa. Mereka menyambut jemaah dengan senyum hangat, membantu proses administrasi, hingga memastikan kebutuhan keberangkatan terpenuhi.

Kepala Seksi Haji Kementerian Agama Kota Bekasi, Sularto, mengakui perubahan suasana sangat terasa dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dulu sehari kita bisa menerima empat hingga lima kloter. Kalau sekarang hanya satu kloter,” kata Sularto.

Meski lebih sepi, pelayanan terhadap jemaah tetap dilakukan maksimal. Pada musim haji tahun ini, Kementerian Agama Kota Bekasi memberangkatkan sebanyak 4.382 jemaah yang terbagi dalam 12 kelompok terbang. Di tengah persiapan keberangkatan itu, perhatian terhadap kesehatan jemaah juga menjadi hal yang sangat ditekankan.

Cuaca panas ekstrem dan tingginya mobilitas jemaah dinilai berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan selama berada di Tanah Suci. Saya sempat mengikuti pengarahan kesehatan bagi jemaah Kloter 22 Kota Bekasi. Di hadapan para calon tamu Allah yang duduk rapi sambil menggenggam buku doa dan paspor, dokter pendamping kloter, Fuad, mengingatkan pentingnya disiplin menjaga kesehatan sejak sebelum keberangkatan. Dengan suara tenang namun tegas, ia meminta seluruh jemaah untuk selalu menggunakan masker selama berada di keramaian maupun saat beraktivitas di luar ruangan.

“Masker jangan dilepas sembarangan. Ini penting untuk mengantisipasi penularan berbagai penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan, flu, hingga hantavirus,” ujar Fuad.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca, kepadatan manusia, serta kelelahan fisik dapat membuat daya tahan tubuh jemaah menurun. Karena itu, penggunaan masker menjadi salah satu langkah sederhana namun penting untuk melindungi kesehatan selama menjalankan ibadah.

Selain memakai masker, jemaah juga diimbau rutin mencuci tangan, menjaga pola makan, memperbanyak minum air putih, dan tidak memaksakan diri saat kondisi tubuh menurun.

Saya memperhatikan wajah-wajah para jemaah yang mendengarkan arahan itu dengan serius. Sebagian mengangguk pelan, sebagian lainnya sibuk memasukkan masker cadangan ke dalam tas kecil yang akan dibawa selama perjalanan ibadah.

Di balik suasana Embarkasi yang kini lebih sepi, ada perasaan haru yang tetap terasa sama. Mata para jemaah masih menyimpan cahaya harapan yang tak berubah sejak dulu harapan untuk tiba dengan selamat di Tanah Suci dan pulang membawa haji yang mabrur. (*)