Berita Bekasi Nomor Satu

17 Calon Jemaah Haji Gagal Berangkat

PERSIAPAN: Calon jamaah haji berjalan di area miniatur Ka’bah di Asrama Haji Embarkasi Bekasi, Kota Bekasi, Senin (18/5). PPIH Embarkasi Bekasi mengimbau jamaah menjaga kondisi fisik dan mewaspadai cuaca ekstrem di Arab Saudi. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sebanyak 25 kelompok terbang (Kloter) jamaah haji sudah diberangkatkan dari Embarkasi Bekasi menuju Arab Saudi hingga Senin (18/5).

Kepala Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Bekasi, Sedya Dwisangka mengatakan, dari jumlah tersebut sebanyak 17 calon jamaah haji batal berangkat karena sakit.

Tim kesehatan menemukan sejumlah calon jamaah yang dinilai tidak layak terbang karena kondisi medis tertentu yang berpotensi membahayakan keselamatan jamaah saat menjalani ibadah haji.

”Sampai tadi pagi kita sudah memberangkatkan 25 kloter. Yang gagal berangkat ada 17 orang. Variatif, tapi paling banyak karena demensia” ujar Sedya saat ditemui di Embarkasi Bekasi, Senin (18/5).

Sedya menjelaskan, dari total 17 calon jamaah yang batal berangkat, lima orang mengalami demensia atau penurunan fungsi kognitif yang menyebabkan gangguan daya ingat dan kemampuan berpikir.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena ibadah haji memerlukan kesiapan fisik, mental, serta kemampuan memahami rangkaian ibadah yang cukup kompleks.

“Ada beberapa kasus demensia yang kita temukan di sini dan terpaksa gagal berangkat. Kemungkinan besar tidak bisa langsung diberangkatkan kembali karena pemulihan demensia biasanya cukup lama,” katanya.

Selain demensia, empat calon jemaah lainnya dinyatakan gagal berangkat akibat diabetes melitus yang tidak terkontrol. Pihak kesehatan menilai kadar gula darah yang tinggi berisiko memicu komplikasi serius ketika jamaah berada di Arab Saudi dengan kondisi cuaca ekstrem dan aktivitas fisik yang berat.

Meski demikian, Sedya menyebut jamaah dengan diabetes masih memiliki peluang untuk diberangkatkan kembali apabila kondisi kesehatannya membaik.

“Kalau diabetes dan kondisinya sudah membaik, bisa berangkat lagi di kloter akhir. Ada beberapa yang sebelumnya dipulangkan, sekarang kondisinya lebih baik dan kembali diberangkatkan,” jelasnya.

Selain itu, petugas kesehatan juga menemukan satu kasus gangren dan satu calon jamaah perempuan dengan kondisi kehamilan risiko tinggi.

“Kehamilannya sudah kehamilan ke-10 dan disertai hipertensi. Ini sangat berisiko untuk penerbangan maupun bagi ibu dan bayinya,” ujar Sedya.

Ia menyebut mayoritas calon jamaah yang mengalami gangguan kesehatan berusia di atas 50 tahun, dengan rentang usia terbanyak antara 60 hingga 70 tahun. Sementara berdasarkan jenis kelamin, jumlah laki-laki dan perempuan disebut relatif seimbang.

“Mayoritas usia di atas 50 tahun, paling banyak 60 sampai 70 tahunan,” ucapnya.

Di sisi lain, PPIH Embarkasi Bekasi juga mencatat adanya satu jamaah haji yang meninggal dunia pada musim haji tahun ini. Jamaah tersebut berasal dari Kloter JKS 7 asal Kabupaten Bogor, berjenis kelamin perempuan dan berusia 55 tahun. “Sampai saat ini status meninggal dari JKS baru satu orang,” katanya.

Sedya mengatakan, penyakit yang paling banyak ditemukan pada jamaah haji tahun ini masih didominasi hipertensi dan diabetes melitus.

Menurutnya, kondisi tersebut menggambarkan bahwa mayoritas jamaah merupakan kelompok lanjut usia dengan penyakit penyerta yang membutuhkan perhatian khusus.

“Penyakit terbanyak rata-rata hipertensi dan diabetes melitus. Artinya kita harus siap mengendalikan itu,” ujarnya.

Ia menilai langkah pemerintah dalam memperluas program pemeriksaan kesehatan gratis di puskesmas dan rumah sakit menjadi sangat penting untuk mendeteksi kondisi kesehatan jemaah sejak dini sebelum keberangkatan.

“Makanya pemerintah sekarang melakukan cek kesehatan gratis dan ditindaklanjuti di fasilitas kesehatan. Karena pola penyakitnya memang terlihat seperti itu,” katanya.

Selain persoalan penyakit bawaan, tantangan lain yang dihadapi jamaah haji tahun ini adalah cuaca ekstrem di Arab Saudi. Sedya mengatakan suhu udara di wilayah tersebut saat ini berkisar antara 43 hingga 50 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban yang sangat rendah dibanding Indonesia.

“Di Indonesia suhu sekitar 31 sampai 35 derajat dengan kelembaban 60 sampai 70 persen. Di Arab Saudi kelembapannya hanya sekitar 10 sampai 12 persen, jadi sangat kering,” jelasnya.(rez)