Berita Bekasi Nomor Satu

Air Mata di Putaran Tawaf

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Langkah kaki ini akhirnya benar-benar sampai di Tanah Suci. Sebuah perjalanan yang dulu rasanya begitu jauh untuk digapai, kini menjadi kenyataan yang saya jalani sendiri.

Tahun 2026 menjadi perjalanan pertama saya menuju Makkah sekaligus pengalaman pertama melaksanakan ibadah haji dan umrah. Sampai hari ini, saya masih sulit percaya bisa menjadi salah satu tamu Allah.

Saya tergabung dalam kloter 22 rombongan 11 jemaah haji mandiri. Dalam perjalanan ini, saya dipercaya menjadi ketua regu (karu) 41 yang mengkoordinir 10 jemaah lainnya. Di atas karu ada kepala rombongan (karom) yang membawahi sekitar 40 jemaah, lalu di atasnya lagi ketua kloter yang mengkoordinir sekitar 400 jemaah. Tugas kami sederhana, membantu petugas haji agar para jemaah tetap terarah selama menjalankan ibadah.

Perjalanan dimulai dari Asrama Haji Embarkasi Jakarta Bekasi, Minggu (17/5) sekitar pukul 03.10 WIB. Malam itu suasana terasa berbeda. Tidak ada hiruk pikuk seperti perjalanan biasa. Wajah-wajah jemaah tampak campur aduk antara haru, lelah, dan bahagia. Karena penerbangan kami langsung menuju Makkah melalui Jeddah, sejak dari asrama haji kami sudah mengenakan pakaian ihram lengkap dengan niatnya.

Bagi saya, mengenakan ihram menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Dua lembar kain putih tanpa jahitan itu seperti menghapus semua perbedaan. Tidak ada lagi jabatan, status sosial, ataupun penampilan mewah. Semua terlihat sama di hadapan Allah.

Sekitar pukul 04.15 WIB, kami tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat yang kami gunakan adalah Saudi Airlines dengan nomor penerbangan SV 5376. Tepat pukul 08.40 WIB pesawat mulai lepas landas menuju Arab Saudi.

Jujur saja, saya cukup terpukau melihat besarnya pesawat Saudi Airlines. Selama ini saya hanya beberapa kali naik pesawat domestik di Indonesia, biasanya saat pulang kampung atau menjalankan tugas liputan kantor. Tapi kali ini berbeda. Perjalanan jauh menuju Tanah Suci menghadirkan rasa takjub tersendiri.

Di dalam pesawat juga tersedia musala kecil yang cukup untuk sekitar lima orang berjamaah. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan salat di atas udara. Ada rasa haru ketika berdiri menghadap kiblat di tengah perjalanan ribuan kilometer menuju Baitullah. Karena masih dalam perjalanan, saya melaksanakan salat dengan jamak takdim. Salat Ashar dikerjakan pada waktu Zuhur.

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Setelah menempuh perjalanan panjang, tepat pukul 15.05 waktu Arab Saudi, pesawat kami akhirnya mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Kalimat talbiyah mulai terdengar di berbagai sudut. “Labbaik Allahumma Labbaik…” Suara itu menggema pelan namun terasa menenangkan hati.

Dari bandara, kami langsung diangkut menggunakan bus menuju hotel di kawasan Misfalah, sektor 9, tepatnya di Soal Qasr Hotel. Lokasinya sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram. Sesampainya di hotel, kami diminta beristirahat terlebih dahulu karena malam harinya akan melaksanakan umrah wajib.

Cuaca di Makkah saat itu benar-benar panas. Suhunya mencapai sekitar 45 derajat Celcius. Karena itulah tim bimbingan ibadah haji kloter menyarankan agar umrah dilakukan malam hari saat udara lebih sejuk.

Tepat pukul 00.00 waktu setempat, kami bergerak menuju Masjidil Haram menggunakan bus shalawat nomor 20. Di sepanjang perjalanan, dada saya terus berdebar. Sulit menggambarkan perasaan saat itu. Antara tidak percaya, gugup, sekaligus bahagia.

Sesampainya di pelataran Masjidil Haram, ribuan jemaah dari berbagai negara sudah memenuhi area tawaf. Beragam bahasa terdengar bersahutan, namun semua tujuan mereka sama, mendekat kepada Allah. Lantunan talbiyah terus berkumandang mengiringi langkah kami menuju Ka’bah.

Dan momen itu akhirnya datang.

Saat pertama kali melihat Ka’bah secara langsung, langkah saya seakan berhenti. Air mata tiba-tiba mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan. Selama ini saya hanya melihatnya lewat televisi, foto, atau layar ponsel. Namun malam itu, bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam sedunia benar-benar ada di depan mata saya.

Perasaan haru bercampur syukur memenuhi dada. Bibir ini terus berdoa tanpa henti. Saya bahkan hampir lupa dengan suasana sekitar karena terlalu larut dalam perasaan sendiri.

Kami lalu memulai tawaf tujuh putaran bersama ribuan jemaah lainnya. Suasananya sangat padat. Arus manusia terus bergerak tanpa henti mengelilingi Ka’bah. Di tengah kepadatan itu, rombongan kami sempat terpisah. Sebagai karu, saya sempat khawatir memikirkan anggota regu. Namun komunikasi terus dilakukan dan kami tetap berusaha menyelesaikan tawaf hingga akhir.

Memasuki putaran keenam, posisi saya mulai terdorong keluar dari barisan utama. Tepat di putaran ketujuh, saya bahkan berada di lingkaran paling luar area tawaf. Tetapi anehnya, rasa lelah hampir tidak terasa. Mungkin karena hati sedang dipenuhi rasa bahagia.

Setelah tawaf selesai, kami melanjutkan sa’i dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah sebanyak tujuh kali bolak-balik. Langkah demi langkah di lorong sa’i terasa begitu bermakna. Saya terus teringat kisah perjuangan Siti Hajar yang berlari mencari air untuk putranya, Nabi Ismail, saat ditinggalkan Nabi Ibrahim demi memenuhi perintah Allah.

Di tempat itu, saya sadar bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati. Tentang kesabaran, perjuangan, dan kepasrahan total kepada Allah.

Setelah sa’i selesai, kami pun melakukan tahalul dengan memotong sebagian rambut sebagai tanda selesainya rangkaian umrah wajib. Malam itu, satu demi satu proses ibadah akhirnya kami lalui.

Langit Makkah masih gelap ketika kami keluar dari Masjidil Haram. Namun hati terasa sangat terang. Saya berjalan pelan sambil sesekali menoleh ke arah Ka’bah yang masih terlihat dari kejauhan.

Dalam hati saya berkata pelan, “Ya Allah, akhirnya kaki ini sampai juga di rumah Mu. (*)