RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di saat sebagian orang memilih beristirahat bersama keluarga usai bekerja, anggota Disdamkarmat Kota Bekasi, Eko Budi Santoso alias Eko Uban justru melesat menembus malam demi menyelamatkan seorang nenek pemulung yang menjadi korban gigitan ular berbisa. Seperti apa kisahnya?
LAPORAN: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI
Malam itu jarum jam hampir menunjuk pukul 21.00 WIB saat telepon masuk ke ponsel Eko Budi Santoso. Di ujung sambungan, seorang rekannya menyampaikan kondisi darurat.
Seorang nenek yang akrab disapa Mak Opah alias Mak Iyas (60), warga Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, menjadi korban gigitan ular berbisa pada Senin (18/5) malam.
Saat itu Eko sebenarnya sedang libur piket. Bahkan di rumah, anak bungsunya tengah mengalami panas tinggi. Namun laporan mengenai kondisi korban yang mulai membengkak membuat pria yang akrab disapa Eko Uban itu tak bisa tinggal diam.
“Kalau selagi orang butuh bantuan, jam berapa pun saya jalan bang, di mana pun,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Senin (19/5).
Sebelum berangkat, Eko sempat memantau kondisi korban melalui video yang dikirim rekannya. Awalnya keluarga korban belum mengetahui jenis ular yang menggigit sang nenek.
Peristiwa itu terjadi selepas Magrib. Saat sedang berada di rumah kontrakannya, korban disebut hendak memeriksa benda yang jatuh dari atas lemari makanan. Namun ketika toples digeser, seekor ular tiba-tiba menggigit tangannya.
“Katanya cepat kejadiannya. Korban cuma bilang berdarah, belum tahu itu ular apa,” kata Eko.
Karena belum terlihat gejala serius, Eko awalnya meminta keluarga korban melakukan pemantauan. Ia mengingatkan, apabila muncul pembengkakan dalam satu hingga dua jam, maka korban harus segera mendapat penanganan.
Benar saja. Sekitar pukul 21.00 WIB keluarga korban kembali menghubungi Eko. Tangan korban mulai membengkak.
Tanpa pikir panjang, Eko langsung berangkat dari Rumahnya di Bekasi Timur menuju lokasi yang berada dekat Stadion Mini Pilar.
Perjalanan sekitar 30 menit ditempuhnya malam itu demi menyelamatkan nyawa seorang nenek yang hidup seorang diri sebagai pemulung botol dan gelas plastik.
“Kasihan bang, nenek janda ngontrak. Penghasilannya cari botol sama gelas plastik,” ucapnya.
Pengorbanan Eko malam itu tak berhenti di situ. Di rumah, anak bungsunya masih terbaring demam tinggi. Namun ia memilih tetap pergi karena merasa kondisi korban lebih genting.
“Padahal semalam anak saya yang bontot lagi panas tinggi dan saya tinggal, karena ini lebih dekat dengan nyawa urusannya. Di rumah ada istri yang urus anak panas,” katanya lirih.
Setibanya di lokasi, Eko bersama seorang rekannya yang bekerja di ruang ICU Rumah Sakit langsung melakukan observasi terhadap korban. Penanganan dilakukan secara hati-hati agar racun tidak cepat menyebar ke seluruh tubuh.
Luka gigitan dibersihkan, lalu dilakukan imobilisasi di sekitar area luka dengan metode menyerupai penanganan patah tulang. Bagian tubuh korban dibuat seminimal mungkin bergerak agar aliran racun melambat.
“Golden time penanganan itu sebenarnya 20 menit. Kalau terlalu banyak gerakan, racun cepat menyebar,” ujar Eko.
Selama tiga jam penuh, Eko bertahan di rumah korban untuk memastikan kondisi sang nenek stabil. Ia memantau pernapasan, denyut jantung, hingga memastikan korban tidak muntah atau kehilangan kesadaran.
Di sela-sela penanganan, Eko juga beberapa kali mengajak korban bercanda. Cara itu sengaja dilakukan agar korban tetap tenang dan tidak panik.
“Kalau panik jantung berdetak cepat malah bahaya,” katanya.
Bagi Eko, penyelamatan korban gigitan ular bukan pengalaman pertama. Ia mengaku sudah puluhan kali menangani kasus serupa. Namun setiap kejadian selalu menjadi pertarungan dengan waktu.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan keliru saat terkena gigitan ular berbisa.
“Jangan dihisap, jangan diikat. Posisi luka harus di bawah jantung lalu lakukan imobilisasi dan segera bawa ke rumah sakit yang ada serum anti bisa ular,” tegasnya.
Menjelang tengah malam, kondisi korban akhirnya mulai membaik. Napasnya stabil, denyut jantung normal, dan pembengkakan berhasil dikendalikan. Setelah memastikan keadaan aman, Eko baru meninggalkan lokasi.
Namun tugasnya belum selesai. Keesokan harinya, ia berencana kembali mendatangi rumah korban untuk memantau perkembangan kondisi sang nenek seperti yang biasa ia lakukan selama tiga hari setelah penanganan.
Di balik seragam damkar yang sehari-hari identik dengan api dan kebakaran, malam itu Eko Uban menunjukkan tugas kemanusiaan tak mengenal jam kerja. Saat banyak orang terlelap, ia memilih berpacu dengan waktu demi memastikan satu nyawa tetap terselamatkan. (*)











