Berita Bekasi Nomor Satu

KDM Gagas Penataan Lima Desa di Cibarusah dan Bojongmangu Bekasi Pertahankan Karakter Sunda

PERMUKIMAN: Foto udara pemukiman warga di Bojongmangu, Rabu (12/8/2026). ARIESANT RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Lima desa di Kecamatan Cibarusah dan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, bakal ditata dengan mempertahankan karakter budaya Sunda dan lingkungan perdesaan. Konsep tersebut digagas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi,  sebagai upaya membangun wajah Kabupaten Bekasi yang tidak hanya identik dengan kawasan industri.

Gagasan itu disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bekasi dalam rangka tasyakuran Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi di Gedung DPRD Kabupaten Bekasi, Kompleks Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Sabtu (15/8/2026), dikutip dari laman Pemkab Bekasi.

Dedi mengatakan, Kabupaten Bekasi memiliki karakter wilayah yang beragam, mulai dari kawasan industri, pertanian, pesisir hingga perdesaan. Keragaman tersebut, menurut dia, perlu dipertahankan dan menjadi bagian dari identitas daerah.

“Sudah semestinya kita meletakkan dasar yang kuat di mana ibu kota Kabupaten Bekasi. Sehingga kita bisa membangun brand, bahwa ada sebuah wilayah yang dibangun oleh pemerintah kabupaten ini, ada kultur yang dibangunnya, dan tidak terlalu identik dengan sebuah kompleks industri,” kata Dedi.

Salah satu kawasan yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan dengan konsep tersebut berada di Cibarusah dan Bojongmangu. Lima desa di wilayah tersebut akan ditata tanpa menghilangkan karakter lokal yang masih terlihat dari bentuk rumah, lingkungan, hingga kehidupan masyarakatnya.

Dedi menegaskan, rumah warga yang masih mempertahankan karakter tradisional tidak perlu diubah secara keseluruhan. Penataan cukup dilakukan pada bagian-bagian yang diperlukan agar wajah perdesaan tetap terjaga.

“Rumahnya tetap, hanya ditata. Karena dia ingin menyatu dengan alam,” ujarnya.

BACA JUGA: Di Balik Rumah Bilik Bambu di Bojongmangu Bekasi, Ada Kearifan Lokal

Dedi juga menilai kawasan tersebut memiliki potensi lingkungan yang perlu dipertahankan, mulai dari pertanian, kolam, sungai, pepohonan hingga ruang terbuka. Karena itu, pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada perubahan fisik, tetapi harus mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem.

Ia menyebut penataan lima desa tersebut nantinya akan didukung Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemerintah Kabupaten Bekasi diminta menyiapkan perencanaan melalui mekanisme penganggaran dan mengidentifikasi desa-desa yang akan masuk dalam program tersebut.

Menanggapi gagasan tersebut, Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja mengatakan Pemkab Bekasi akan memasukkan wilayah Bojongmangu dalam rencana penataan, selain Cibarusah yang sebelumnya menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat.

“Tadi Pak Gubernur berbicara dengan saya. Dia ingin dibangun lima desa itu dengan karakteristik Sunda. Karena Sunda itu, rumahnya enggak boleh diubah, rumahnya tetap, cuma nanti ditata,” kata Asep.

Asep mengatakan, dirinya akan segera berkoordinasi dengan dua kecamatan tersebut untuk melihat langsung lokasi yang dinilai memiliki potensi dikembangkan melalui konsep desa berbasis karakter lokal dan lingkungan.

Ia menilai konsep tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan wajah Kabupaten Bekasi yang berbeda dari citra kawasan industri. Terlebih, wilayah Cibarusah dan Bojongmangu memiliki kondisi alam yang masih relatif asri dan berada di kawasan perbatasan dengan Kabupaten Bogor.

“Karakter Bekasinya harus ada, asrinya jangan pernah diubah,” ujarnya.

BACA JUGA: Warga Bojongmangu Bekasi Pilih Belanja ke Cariu Bogor karena Jalan Lebih Mulus

Asep mengatakan, rencana penataan desa tersebut juga akan berjalan beriringan dengan pembangunan jalan provinsi menuju kawasan perbatasan. Dengan akses yang semakin baik, penataan desa diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus tetap menjaga karakter lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.

Gagasan pembangunan berbasis karakter lokal tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan Kabupaten Bekasi untuk memiliki identitas yang lebih kuat. Selama ini, Kabupaten Bekasi dikenal luas sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Jawa Barat, sementara karakter perdesaan, pertanian, dan budaya lokalnya belum banyak menjadi bagian dari citra daerah.

Asep menilai pembangunan identitas tersebut penting agar masyarakat memiliki ruang yang mencerminkan karakter daerahnya sendiri. Menurutnya, Kabupaten Bekasi membutuhkan kawasan yang dapat menjadi ruang interaksi masyarakat sekaligus merepresentasikan identitas sebagai sebuah daerah kabupaten.

Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Ade Sukron mengatakan pembangunan identitas daerah menjadi salah satu hal penting yang perlu dirumuskan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD.

“Kita butuh identitas. Mana sih ikon kita? Ikon itu yang menjadi cerminan,” kata Ade.

Menurut Ade, identitas daerah tidak hanya berbentuk bangunan atau monumen, tetapi juga ruang interaksi masyarakat yang dapat menjadi tempat berkumpul dan mencerminkan karakter Kabupaten Bekasi.

Ade mengatakan upaya membangun ruang interaksi masyarakat juga akan dikembangkan secara bertahap dengan memanfaatkan kawasan Stadion Wibawa Mukti sebagai salah satu pusat aktivitas masyarakat. Pemkab Bekasi berencana menghadirkan kegiatan hiburan sekaligus pelayanan publik di kawasan tersebut pada malam akhir pekan.

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bekasi dalam rangka tasyakuran Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi di Gedung DPRD Kabupaten Bekasi, Kompleks Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Sabtu (15/8/2026). FOTO: DISKOMINFOSANTIK KAB BEKASI

Melalui berbagai gagasan tersebut, pembangunan Kabupaten Bekasi ke depan diharapkan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga mampu menjaga identitas, lingkungan, serta karakter masyarakat di setiap wilayah.

Penataan lima desa di Cibarusah dan Bojongmangu dengan mempertahankan karakter Sunda menjadi salah satu langkah awal untuk menunjukkan bahwa kemajuan Kabupaten Bekasi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan lingkungan. Dengan demikian, pembangunan tidak harus menghapus wajah lama sebuah daerah, tetapi justru dapat menjadikannya sebagai kekuatan baru bagi masa depan Kabupaten Bekasi. (oke)