RADARBEKASI.ID, SUKABUMI – Gerakan Anak Negeri (GAN) kembali menunjukkan kepeduliannya dengan memberikan bantuan terhadap warga Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, yang terdampak kebakaran besar pada Juli 2026 lalu.
Dalam kegiatan tersebut, GAN menyalurkan puluhan paket bantuan berisi kebutuhan pokok, seperti bahan makanan dan air mineral, untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari warga terdampak kebakaran.
Hampir sebulan setelah peristiwa kebakaran terjadi, kondisi Kampung Adat Ciptamulya masih menyisakan duka mendalam. Musibah yang diduga dipicu korsleting listrik itu meluluhlantakkan sebagian besar kawasan permukiman adat.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu (17/8/2026), hamparan puing bangunan yang hangus terbakar masih terlihat jelas. Bekas kebakaran menyisakan pemandangan memilukan di sejumlah titik kampung adat tersebut.
Sebagian besar bangunan hanya menyisakan pondasi, serpihan tembok, serta struktur beton yang masih berdiri di tengah tanah yang dipenuhi abu dan material sisa kebakaran.
Tak hanya bangunan, vegetasi di sekitar kawasan juga terdampak. Sejumlah pohon terlihat mengering dan menghitam akibat terpapar panas kebakaran. Jejak rumah-rumah yang terbakar masih dapat dikenali dari sisa pondasi dan potongan dinding yang tertinggal.
Peristiwa kebakaran yang terjadi pada Sabtu (25/7/2026) itu menghanguskan 51 rumah adat milik warga. Selain itu, sebanyak 49 leuit atau lumbung pangan tradisional masyarakat adat juga ikut musnah dilalap api.
Kepala Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik, menjelaskan bahwa keberadaan leuit memiliki fungsi vital bagi kehidupan masyarakat adat karena menjadi tempat penyimpanan cadangan pangan keluarga.
“Satu leuit itu untuk satu keluarga. Ketersedian pangan di leuit itu bisa untuk satu tahun kebutuhan keluarga,” jelasnya.
Abah Hendrik mengaku terharu atas kepedulian yang diberikan GAN kepada masyarakat adat. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti di tengah keterbatasan yang masih dirasakan warga pascakebakaran.
“Saya mewakili masyarakat adat sangat berterimakasih atas kepedulian dari saudara-saudara GAN. Kami memang membutuhkan karena untuk kebutuhan sehari-sehari,” kata dia didampingi Kepala Desa Sirnaresmi, Jaro Iwan.
Ia mengungkapkan pemerintah telah memberikan dukungan untuk proses pembangunan kembali rumah-rumah warga yang terdampak. Namun, hingga kini belum ada bantuan khusus untuk pembangunan kembali puluhan leuit yang terbakar.
“Alhamdulillah dari pemerintah sudah ter-cover, tapi yang lainnya yang belum ini leuit. Belum ada yang bantu kalau untuk leuit, jumlahnya itu 49,” katanya.
Meski demikian, proses pembangunan rumah warga belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Hal itu disebabkan adanya aturan adat yang mengatur waktu pelaksanaan pembangunan di lingkungan Kasepuhan Ciptamulya.
Menurut Abah Hendrik, pembangunan kembali permukiman diperkirakan baru dapat dimulai sekitar dua pekan mendatang setelah berakhirnya bulan Maulid atau Rabiul Awal.
“Membangunnya mungkin sekitar dua mingguan lagi. Karena di sini ada larangan, bulan Safar-Mulud di-off dulu. Nanti kalau sudah habis bulan Mulud baru mulai membangun rumahnya,” jelasnya.
Sementara itu, Penasehat Gerakan Anak Negeri, Hazairin Sitepu, mengatakan bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pangan untuk membantu warga selama masa pemulihan. Ia berharap bantuan tersebut dapat sedikit meringankan beban masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
“Kami dari Gerakan Anak Negeri datang ke Kasepuhan Ciptamulya untuk memberikan bantuan sekadarnya untuk saudara-saudara kita di sini yang mengalami kebakaran. Satu kampung adat terbakar semuanya, 51 KK habis,” kata Hazairin.
Ia berharap seluruh bantuan yang telah dijanjikan berbagai pihak dapat segera direalisasikan agar proses pembangunan bisa berjalan tepat waktu.
“Mudah-mudahan semua yang sudah menjanjikan bantuan dapat memberikan tepat waktu, sehingga mereka bisa membangun rumah-rumah mereka dan selesai tepat waktu,” ujarnya.
Selain pembangunan rumah, Hazairin menilai kebutuhan mendesak lainnya adalah pembangunan kembali 49 leuit yang selama ini menjadi pusat ketahanan pangan masyarakat adat.
Bagi warga Kasepuhan Ciptamulya, leuit tidak sekadar berfungsi sebagai bangunan penyimpanan hasil panen. Keberadaannya menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan pangan keluarga selama satu tahun penuh.
“Bantuan yang sangat diperlukan tadi bagaimana supaya bisa membangun lumbung kembali. 49 lumbung yang terbakar dan mereka ini hidupnya sangat tergantung ke lumbung,” ungkap dia.
Hazairin menjelaskan, hasil pertanian yang diproduksi warga selama ini disimpan di leuit sebagai cadangan pangan. Kehilangan puluhan lumbung tersebut berarti warga juga kehilangan tempat penyimpanan kebutuhan pokok mereka.
“Kalau itu sudah terbakar, ya mereka kehilangan tempat penyimpanan pangan,” katanya.
Lebih lanjut, GAN mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, kalangan dunia usaha, maupun masyarakat yang memiliki kemampuan, untuk bersama-sama membantu pembangunan kembali puluhan leuit yang menjadi penopang kehidupan masyarakat adat Ciptamulya.
“Kami juga mengimbau kepada siapa saja yang bisa membantu membangun lumbung, lumbung yang 49 itu, sangat mereka harapkan,” pungkas Hazairin. (zak)











