Berita Bekasi Nomor Satu

Tugu Bambu Runcing Cikarang Diusulkan Ditata seperti Tugu Jogja

SIMBOL PERJUANGAN: Pengendara melintasi Tugu Bambu Runcing di simpang Warung Bongkok, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, Senin (17/8). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tugu Bambu Runcing di simpang Warung Bongkok, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, diusulkan ditata menjadi bagian dari kawasan bersejarah Bekasi. Penataan dinilai bisa menjaga keberadaan monumen yang berdiri sejak 5 Juli 1962 itu tanpa mengganggu fungsi jalan nasional.

Tugu berwarna kuning dengan ujung merah tersebut merupakan simbol perjuangan rakyat Bekasi dalam mempertahankan kemerdekaan. Monumen itu lahir dari gagasan Arnaen, pejuang lokal asal Cibitung yang kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bulak Kapal Bekasi, nisan nomor 31.

Melalui pembangunan tugu tersebut, Arnaen ingin menjaga rekam jejak perjuangan masyarakat Bekasi. Terlebih, tidak semua nama pejuang sempat tercatat dalam sejarah resmi.

Penggiat Sejarah Bekasi, Agah Handoko, mengatakan keberadaan monumen itu menjadi saksi perjuangan rakyat daerah dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, kontribusi Arnaen dan kelompoknya merupakan bagian dari sejarah perlawanan rakyat Bekasi bersama sejumlah tokoh lain, seperti KH Noer Alie, Mualim, H Djole, hingga Nausan bin Rindon.

“Bagi siapa saja yang melintas di sana, tugu berbentuk bambu runcing berwarna kuning dengan ujung merah darah itu pasti tak luput dari pandangan,” kata Agah, Senin (17/8).

Pada masa perang kemerdekaan, kata Agah, Bekasi berada di posisi penting sebagai garis depan pertahanan menghadapi tentara Sekutu dan NICA. Keterbatasan persenjataan membuat masyarakat bertempur menggunakan senjata seadanya, salah satunya bambu runcing.

Menurutnya, inisiatif Arnaen mendirikan monumen di Warung Bongkok berangkat dari kesadaran untuk merawat ingatan atas pengorbanan rakyat biasa.

“Arnaen, warga asli Warung Bongkok, menyadari betul betapa berharganya perjuangan rakyat kecil tersebut,” ujarnya.

Ia mengatakan tugu tersebut tidak sekadar dibangun untuk menghias persimpangan, tetapi untuk mengabadikan perjuangan rakyat dalam mempertahankan tanah air.

“Arnaen berinisiatif mendirikan tugu ini bukan sekadar untuk menghias persimpangan, melainkan untuk mengabadikan fakta bahwa kepahlawanan bukan monopoli jenderal atau perwira. Kepahlawanan milik setiap orang yang berani mempertahankan tanah air, meski hanya bermodalkan senjata sederhana,” tuturnya.

Seiring bertambah padatnya arus lalu lintas di jalan nasional tersebut, muncul kekhawatiran mengenai rencana pergeseran atau relokasi tugu. Hal ini memicu keprihatinan keluarga dan keturunan Arnaen.

Cucu Arnaen, Eko Jatmiko, menyayangkan jika nilai sejarah perjuangan kakeknya dan rakyat Bekasi justru dianggap menyulitkan penataan jalan. Menurutnya, para pejuang telah mempertaruhkan nyawa agar generasi penerus dapat menikmati kehidupan yang layak.

“Tugu Bambu Runcing sebagai simbol perjuangan rakyat Bekasi. Kita berharap nilai perjuangannya jangan sampai terlupakan atau dianggap merepotkan karena penataan jalan,” kata Eko.

Eko mengusulkan agar tugu tidak sekadar digeser, melainkan ditata secara estetis dengan konsep bundaran seperti Tugu Yogyakarta. Menurutnya, konsep tersebut dapat membuat tugu tetap menjadi bagian dari kawasan tanpa mengganggu arus lalu lintas.
ali ada ada rencana Tugu bisa digeser,” terang Eko.

“Kalau memang harus ditata, bisa dibuat bundaran seperti Tugu Jogja yang berada di tengah. Apalagi ini berada di jalan nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Eko menilai penataan Tugu Bambu Runcing Warung Bongkok dapat diintegrasikan dengan rencana pengembangan kawasan heritage Bekasi. Koridor sejarah yang membentang dari Gedung Juang Tambun hingga Pasar Cikarang dinilai memiliki potensi untuk ditata sebagai kawasan bersejarah.

“Dulu pernah diwacanakan heritage Jalan Daendels dari Gedung Juang sampai Pasar Cikarang. Tempat-tempat bersejarah di Bekasi bisa ditata bagus, kayak kawasan Kota Tua di Jakarta,” katanya.

Eko berharap penataan lalu lintas dan pelestarian sejarah dapat berjalan beriringan. Dengan penataan yang tepat, Tugu Bambu Runcing Warung Bongkok tidak hanya menjadi penanda kawasan, tetapi juga dapat menjadi ikon sejarah dan identitas masyarakat Bekasi. (ris)