RADARBEKASI.ID, TAMBAUN SELATAN– Setelah puluhan tahun berkutat di dunia birokrasi Pemerintah Kabupaten Bekasi, Kasan Abdullah, memilih kembali ke titik awal perjalanan hidupnya. Desa Setiamekar, Kecamatan Tambun Selatan, menjadi tanah kelahiran sekaligus ruang pengabdian yang kini ingin dibangunnya melalui gagasan perubahan.
Putra daerah yang lahir di Bekasi, 15 Desember 1964, itu membawa visi “Dari Pengabdian, Untuk Perubahan”. Visi tersebut menjadi pijakan Kasan untuk mendorong Setiamekar menjadi desa yang maju, sejahtera, transparan, dan bermartabat.
Kasan menegaskan, kepulangannya bukan sekadar langkah politik, melainkan dorongan untuk memberikan kembali pengalaman, kemampuan, dan jaringan yang selama ini diperolehnya ketika mengabdi di pemerintahan.
“Saya pulang bukan untuk mencari kekuasaan, melainkan untuk mengabdikan pengalaman dan kemampuan bagi tanah kelahiran. Bersama warga, mari kita wujudkan Setiamekar yang maju, adil, sejahtera, dan bermartabat,” ujar Kasan.
Optimisme tersebut bukan tanpa modal pengalaman. Alumnus FISIP Universitas Islam “45” Bekasi dan Magister Manajemen IFWIJA Jakarta ini memiliki perjalanan panjang dalam pemerintahan Kabupaten Bekasi.
Sejumlah jabatan pernah dipercayakan kepadanya. Mulai dari Lurah Wanasari, Kepala Bidang AMDAL Dinas Lingkungan Hidup, hingga Kepala Bidang Informasi Pasar Kerja Dinas Ketenagakerjaan.
Pengalaman Kasan juga bersentuhan langsung dengan pengelolaan pasar publik. Ia pernah memimpin pengelolaan Pasar Serang dan Pasar Induk Cibitung. Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam memahami persoalan pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, hingga dinamika sosial dan ekonomi masyarakat.
Di luar birokrasi, aktivitas Kasan juga tidak jauh dari kehidupan sosial kemasyarakatan. Ia tercatat sebagai Bendahara Umum Yayasan Al-Khairiyah dan Penasehat DPD Al-Khairiyah Kabupaten Bekasi. Ia juga aktif memimpin sejumlah organisasi alumni sekolah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya di Bekasi.
Berbekal pengalaman tersebut, Kasan menawarkan 10 program prioritas untuk Setiamekar. Program itu dimulai dari pelayanan publik cepat dan bersih berbasis digital, penguatan peran RT/RW, pemerataan pendidikan dan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi pemuda melalui kemitraan dengan pelaku usaha dan sektor industri.
Persoalan infrastruktur dan banjir juga menjadi perhatian. Perbaikan jalan dan drainase akan diarahkan berdasarkan perencanaan teknis yang berkelanjutan. Sementara transparansi APBDes didorong melalui keterbukaan informasi agar masyarakat dapat mengetahui dan mengawasi penggunaan anggaran desa.
Kasan juga menggagas penyediaan ruang publik berupa fasilitas olahraga dan ruang terbuka hijau, penguatan keberagamaan dan budaya, revitalisasi Karang Taruna serta Posyandu, hingga pengelolaan tempat pemakaman umum (TPU) yang lebih layak dan tertib.
BACA JUGA : BPBD Kota Bekasi Imbau Warga Waspada Abu Vulkanik Anak Krakatau
Menurut Kasan, pembangunan desa tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci agar setiap program benar-benar menjawab kebutuhan warga.
“Setiamekar harus dibangun bersama. Pemerintah desa, RT/RW, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, dan seluruh elemen warga harus menjadi bagian dari perubahan,” katanya.
Dengan kombinasi pengalaman birokrasi, pemahaman terhadap karakter masyarakat lokal, serta jaringan organisasi yang dimilikinya, Kasan optimistis Setiamekar dapat bergerak menuju tata kelola pemerintahan yang lebih terbuka sekaligus peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Baginya, kembali ke tanah kelahiran bukan berarti mengulang masa lalu. Justru, pengalaman panjang di birokrasi ingin dijadikan modal untuk membuka babak baru bagi Setiamekar.(mif/*)











