Berita Bekasi Nomor Satu

Nala Institute Bersama Temu Moment Dorong Warga Binaan Menata Diri dan Masa Depan di Lapas Cipinang

RADARBEKASI.ID, BEKASI– Upaya mendukung proses pembinaan Warga Binaan terus dilakukan melalui berbagai program yang berorientasi pada pengembangan kepribadian dan kemandirian.

Salah satunya melalui kegiatan Seminar Pembinaan Kepribadian dan Kemandirian yang diselenggarakan Nala Institute di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang dengan mengusung tema “Menata Diri, Menata Masa Depan.”

Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam tersebut diikuti Warga Binaan dan menghadirkan dua perspektif pembinaan, yaitu psikologi serta pengenalan usaha dan kewirausahaan.

Dari sisi psikologi yang disampaikan oleh Dr. Ridfa Chairani, S.Psi., M.M., M.A.B., selaku CEO Nala Institute, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya mengenali diri, membangun pola pikir yang lebih positif, mengelola diri, serta menumbuhkan motivasi untuk melakukan perubahan. Materi tersebut diharapkan dapat membantu Warga Binaan melihat proses pembinaan sebagai kesempatan untuk melakukan evaluasi dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Tidak hanya berfokus pada aspek kepribadian, seminar juga memberikan wawasan mengenai usaha dan kewirausahaan, dengan bidang fotografi sebagai salah satu contoh keterampilan yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif.

Sesi ini menghadirkan Vigo Satrio, S.Kom., M.M., selaku CEO Temu Moment, yang memberikan pemahaman bagaimana sebuah keterampilan dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikembangkan dengan kreativitas, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar.

Kegiatan turut dihadiri Kepala Bidang Pembinaan Lapas Kelas I Cipinang, Bambang Setiawan, yang mewakili Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani. Dalam kesempatan tersebut, Bambang mengajak Warga Binaan untuk tidak memandang seminar sekadar sebagai kegiatan yang harus diikuti, tetapi sebagai ruang untuk mengevaluasi diri dan mulai menentukan arah kehidupan ke depan.

“Tema ‘Menata Diri, Menata Masa Depan’ memiliki pesan yang sederhana, tetapi sangat dalam. Kita mungkin tidak dapat kembali dan mengubah apa yang sudah terjadi kemarin, tetapi kita masih memiliki hari ini untuk menentukan seperti apa kehidupan kita esok. Perubahan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar.

Bisa dimulai dari keberanian mengevaluasi diri, memperbaiki kebiasaan, mengendalikan emosi, menambah keterampilan, menghargai orang lain, dan mengatakan kepada diri sendiri: saya ingin menjadi lebih baik,” ujar Bambang.

Menurutnya, pembinaan di Lapas tidak hanya berbicara tentang keterampilan yang dapat dimiliki Warga Binaan, tetapi juga tentang bagaimana mereka membangun kembali karakter dan kesiapan diri ketika nantinya kembali ke masyarakat.

“Karena itu, pembinaan kepribadian dan kemandirian harus berjalan beriringan. Keterampilan penting sebagai bekal, tetapi karakter, pola pikir, dan kemampuan mengelola diri juga menentukan kesiapan seseorang untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat,” tambahnya.

Pesan tersebut selaras dengan tema “Menata Diri, Menata Masa Depan” yang menempatkan perubahan sebagai proses yang dimulai dari keberanian mengenali diri dan menentukan arah kehidupan.

Pembinaan kepribadian menjadi fondasi dalam membangun kesiapan mental, sementara pembinaan kemandirian memberikan wawasan mengenai peluang dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan di masa depan.

Bagi Nala Institute, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kontribusi dalam mendukung proses pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada masa pembinaan saat ini, tetapi juga pada kesiapan Warga Binaan untuk kembali ke masyarakat dan membangun kehidupan yang lebih produktif setelah menyelesaikan masa pidana.

Melalui kolaborasi antara Lapas Kelas I Cipinang dan Nala Institute, program pembinaan seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan sehingga setiap proses pembinaan menjadi langkah nyata menuju perubahan yang lebih positif. (adv)