Berita Bekasi Nomor Satu

PKS Bekasi Tanggapi Santai Hasil Survei, Pede Lampaui Ambang Batas Parlemen  

ILUSTRASI: Sejumlah kader PKS saat mengikuti kampanye Pilpres 2024 lalu di Kabupaten Bekasi. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID,BEKASI Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi menanggapi santai hasil survei yang dirilis Poltracking Indonesia periode 14-20 Agustus terkait elektabilitas partai Rabu (23/9).

Hasil survei menempatkan PKS di posisi terbawah dibandingkan partai-partai lainnya yang bertengger di Senayan dengan angka 3,3 persen.  Saat dikonfirmasi, Ketua DPD PKS Kabupaten Bekasi, Akhmad Hisyam, mengatakan, hasil survei memang kecil setiap Pemilu, namun pada faktanya selalu finish di angka 8 persen.

“Biasa saja hasil survei itu, bicara kepercayaan nanti syirik kalau percaya sama survei, percaya sama Allah SWT saja, contohnya begitu. Kalau dari pengalaman lima Pemilu ke belakang, setiap ada survei itu selalu menempatkan kita di bawah 3 persen, ini sudah agak bagusan 3,3 persen, biasanya di bawah 3 persen. Tapi faktanya dari pemilu ke pemilu kita di atas 8 persen,” ujar Akhmad Hisyam, kepada Radar Bekasi, Kamis (24/9).

Dirinya menilai, hasil survei tentu membuat partai mawas diri, lebih prepare menghadapi Pemilu mendatang. Namun dia menegaskan, angka yang dikeluarkan oleh lembaga Poltracking Indonesia itu tidak terlalu mengkhawatirkan.

Bahkan, mereka pede apabila pembahasan perihal ambang batas untuk di Pemilu mendatang benar-benar naik menjadi 5 persen. Kenapa demikian, karena pimpinan partainya ditingkat pusat sepakat dengan kenaikan batas ambang batas menjadi 5 persen.

“Kita (PKS) yang setuju dengan 5 persen, karena kita pede. Makanya di dalam koalisi saya lihat Pak Sekjen kita setuju dengan 5 persen. Tadi saya bilang pengalaman kita dari Pemilu ke Pemilu kita dikasih angka segitu, tapi faktanya kita di atas 8 persen,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini, dirinya mengungkapkan, PKS merupakan partai yang terbilang stabil perolehan suaranya dibandingkan partai-partai lainnya. Padahal, sejumlah partai berusaha merobek ceruk pemilih PKS.

“Kalau kita lihat tren dari Pemilu ke Pemilu, kita termasuk yang stabil, sedangkan partai lain turun terus pasca reformasi. Pertama 1,3 persen waktu masih PK. Kemudian naik 7 persen, lalu naik menjadi 8 persen. Memang naiknya enggak signifikan, tapi konstan, tumbuh, itu yang membuat kita pede,” jelasnya.

“Meskipun ada huru hara di dalam, seperti munculnya Partai Gelora dan segala macam, tapi tetap saja dengan suara yang tumbuh. Dinamika internal, eksternal, itu biasa. Kita jadi punya imun yang kuat,” sambung Hisyam.

Sementara itu, Sekretaris DPD PKS Kota Bekasi, Adhika Dirgantara, mengatakan berapapun hasil yang dikeluarkan oleh lembaga survei mengenai perolehan suara partainya, itu dijadikan masukan positif, baik itu hasilnya positif maupun negatif.

“Setiap hasil survei tentu kami menjadi semacam cermin. Kalau dianggap posisi kita positif, tentu akan terus berupaya meningkatkan positif tersebut. Misalkan posisi kita katakan disebut rendah, tentu menjadi refleksi buat kita untuk terus hadir di tengah masyarakat,” katanya.

Menurutnya, sudah cukup banyak pengalaman juga terhadap survei-survei, karena yang paling penting apapun hasil survei akan selalu menjadi masukan positif buat PKS. Anggota DPRD Kota Bekasi ini tak menampik, bahwa rasa khawatir tetap ada, namun bukan karena hasil survei yang hanya di angka 3 persen.

“Jadi kita itu terus khawatir apakah kerja-kerja kita ini berdampak positif terhadap masyarakat, apakah kita menjadi bagian dari upaya negara ini mensejahterakan rakyatnya. Kekhawatiran itu akan terus muncul,” katanya.

“Kalau kita bicara ambang batas tentu itu ranahnya pusat. Berapa pun ambang batasnya, kita punya pengalaman, apapun nanti yang diputuskan, Insya Allah PKS akan selalu siap. Hasil survei itu akan mendorong kita untuk lebih mempersiapkan diri,” sambungnya, saat disinggung pembahasan ambang batas yang akan dinaikan menjadi 5 persen.

Diketahui berdasarkan hasil survei lembaga Poltracking Indonesia yang dirilis Rabu (23/9) menempatkan Partai Gerindra dengan elektabilitas tertinggi sekitar 23,2 persen.

Disusul PDI-P dengan perolehan 11,6 persen. Posisi ketiga ada Golkar dengan perolehan 10,4 persen. Sementara di posisi selanjutnya, ada dua partai politik yang nyaris sama yakni, PKB sebesar 6,2 persen dan Partai Demokrat 6,1 persen.

Selanjutnya, Partai NasDem dengan elektabilitas sebesar 4,4 persen. Kemudian PAN sebesar 3,4 persen dan PKS di angka 3,3 persen. Sementara PSI hanya meraih 2,3 persen elektabilitas dan PPP sebesar 1,9 persen. (pra)