RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Bekasi mengaku tak memiliki data pasti jumlah jemaah umrah asal daerahnya yang saat ini berada di Tanah Suci maupun yang tertahan akibat memanasnya perang terbuka antara Israel–Amerika Serikat dan Iran. Minimnya laporan dari biro perjalanan umrah membuat pemerintah daerah kesulitan melakukan pemantauan.
Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Bekasi, Mulyono Hilman Hakim, mengatakan hingga kini belum ada laporan resmi terkait jumlah dan kondisi jemaah. Pasalnya, penyelenggara perjalanan umrah tidak menyampaikan pemberitahuan atau tembusan ke kantor daerah saat keberangkatan.
“Berangkatnya saja tidak ada laporan apa-apa, otomatis mereka ketika menemukan sesuatu yang dianggap masalah juga tidak ditembuskan juga ke kita,” kata Mulyono, Rabu (4/3).
Menurut Hilman, sebagian travel selama ini langsung melapor ke pusat atau melalui Forum Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) tanpa menyertakan data ke daerah. Dampaknya, saat muncul situasi darurat, Kemenhaj Kabupaten Bekasi tidak memiliki basis informasi untuk melakukan pengawasan maupun pendampingan.
Ia meminta seluruh biro perjalanan umrah berizin agar menyampaikan data jemaah, lama tinggal, serta jadwal kepulangan. Dengan begitu, kantor daerah dapat ikut memantau dan memastikan keselamatan jemaah.
“Sehingga nanti kita ikut memantau. Kemenhaj tetap akan mengawasi dan mengawal semua baik jemaah haji maupun jemaah umrah,” katanya.
Di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang tidak menentu, pihaknya mengimbau seluruh penyelenggara perjalanan umrah di wilayah Kabupaten Bekasi untuk menunda atau mengatur ulang jadwal pemberangkatan jemaah.
“Sesuai arahan Pak Wamen Kemenhaj, kami mengimbau jemaah dan penyelenggara perjalan umrah untuk melakukan penundaan atau mengatur ulang jadwal pemberangkatan,” kata Hilman.
Hilman berharap situasi di Timur Tengah segera mereda agar tidak mengganggu kelancaran ibadah jemaah asal Indonesia, khususnya dari Kabupaten Bekasi. Bagi jemaah yang sudah berangkat diminta bersabar jika terjadi keterlambatan, sedangkan yang belum berangkat agar menyesuaikan jadwal sesuai arahan pusat.
“Sehingga mereka melaksanakan ibadah dengan aman dan nyaman. Harapan kami perang segera berakhir,” pungkasnya. (and)











