RADARBEKASI.ID, BEKASI – Berbagai capaian pembangunan di sektor kesehatan mulai terlihat semakin nyata di usia 29 tahun Kota Bekasi. Pemerintah Kota Bekasi terus memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat, baik melalui pembangunan fasilitas kesehatan, peningkatan kualitas pelayanan, hingga program penanganan penyakit dan gizi masyarakat.
Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah melengkapi fasilitas kesehatan di setiap wilayah kelurahan. Saat ini, hanya tersisa satu kelurahan di Kota Bekasi yang belum memiliki Puskesmas, yakni Kelurahan Jatiwaringin di Kecamatan Pondok Gede.
Untuk melengkapi program satu kelurahan satu Puskesmas, Pemerintah Kota Bekasi berencana membangun Puskesmas di wilayah tersebut pada tahun ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti, mengatakan bahwa pemerintah daerah terus berupaya memastikan seluruh warga memiliki akses pelayanan kesehatan yang mudah dan merata. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjaga keberlanjutan program Universal Health Coverage (UHC) sekaligus meningkatkan distribusi layanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Selain kita mempertahankan UHC, juga ada pengoperasian dua Puskesmas baru, kemudian redistribusi layanan kesehatan,” ujar Satia.
Menurutnya, pemerataan layanan kesehatan menjadi salah satu fokus pemerintah kota agar masyarakat di setiap wilayah dapat memperoleh pelayanan medis yang cepat dan terjangkau. Melalui distribusi ulang peserta BPJS Kesehatan ke berbagai Puskesmas, diharapkan pelayanan kesehatan tidak menumpuk di satu fasilitas saja.

Tidak hanya di tingkat Puskesmas, peningkatan pelayanan juga dilakukan di rumah sakit milik pemerintah daerah. Pada tahun 2025 lalu, sejumlah layanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) tipe D mulai mengalami penguatan, terutama dalam hal penambahan tenaga medis dan variasi layanan spesialis.
“Layanan kesehatan di Puskesmas atau rumah sakit kan sudah bertambah. Jumlah dokter spesialis di empat RS tipe D juga sudah mulai lebih bervariasi,” kata Satia.
Upaya peningkatan layanan kesehatan ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Bekasi dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat. Selain meningkatkan fasilitas, pemerintah daerah juga menaruh perhatian pada program kesehatan masyarakat yang menyentuh langsung kualitas hidup warga.
Salah satu capaian yang cukup membanggakan adalah keberhasilan Kota Bekasi dalam menekan angka prevalensi stunting. Dalam satu tahun terakhir, prevalensi stunting berhasil ditekan hingga berada di bawah angka 14 persen. Capaian ini bahkan mengantarkan Kota Bekasi meraih peringkat ketiga kategori kabupaten atau kota di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Selain itu, angka kasus tuberkulosis (TBC) juga menunjukkan tren penurunan. Pada tahun 2024, jumlah kasus TBC tercatat sebanyak 13.344 kasus. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 12.203 kasus pada tahun 2025.
Berbagai capaian di sektor kesehatan tersebut turut mengantarkan Kota Bekasi menerima sejumlah penghargaan, di antaranya UHC Awards serta penghargaan Kota Sehat dengan predikat Swasti Saba Wiwerda.
Satia menilai, berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sektor kesehatan di Kota Bekasi terus bergerak ke arah yang lebih baik.“Artinya Kota Bekasi semakin menampakkan kemajuannya,” ujarnya.
Momentum HUT ke-29 Kota Bekasi pun menjadi refleksi sekaligus dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, sehingga seluruh masyarakat dapat merasakan manfaat pembangunan secara merata.(*/sur)











