RADARBEKASI.ID, BEKASI — Senin malam (27/4) semestinya menjadi akhir hari yang biasa bagi Suyatno (43). Ia bersiap menjemput istrinya di Stasiun Cikarang, seperti rutinitas harian. Namun malam itu berubah menjadi awal duka mendalam.
Istrinya, Ristuti Kustirahayu (37), warga Perumahan Sukamanah Residence, Kecamatan Sukatani, menjadi salahsatu korban meninggal dalam tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line Cikarang di Stasiun Bekasi Timur.
Sebelum kabar duka itu datang, sekitar pukul 21.00 WIB Suyatno sudah menunggu di titik penjemputan. Waktu terus berjalan, namun Ristuti tak kunjung keluar dari pintu stasiun. Kegelisahan pun mendorongnya bertanya kepada petugas keamanan.
“Suaminya tanya ke satpam, dapat info ada kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur,” ungkap Ponco (28), tetangga yang mendampingi keluarga korban, Selasa (28/4).
Mendengar kabar itu, Suyatno sempat pulang untuk menitipkan anaknya, lalu bergegas menuju lokasi bersama Ponco. Mereka mencari informasi hingga akhirnya mendapat kabar bahwa Ristuti berada di Rumah Sakit Bella Kota Bekasi.
Namun harapan itu pupus. Setibanya di rumah sakit, Ristuti dinyatakan telah meninggal dunia, diduga sesaat setelah benturan terjadi.
“Syok berat, karena meninggalnya akibat kecelakaan. Saya berusaha tenangin dan bantu urus kepulangan jenazah,” tambahnya
Ketua RT setempat, Prio Budiarto (59), mengatakan Ristuti dikenal sebagai pribadi santun dan pekerja keras. Setiap hari ia menggunakan KRL untuk bekerja di Jakarta, dengan suaminya setia mengantar dan menjemput.
“Kerja di Jakarta, setiap hari naik KRL. Yang antar jemput juga suaminya. Saya komunikasi sama suaminya juga syok, enggak nyangka. Enggak ada firasat apapun,” tuturnya
Meski tenda dan kursi pelayat telah disiapkan di rumah duka di Sukatani, keluarga memutuskan jenazah tidak disemayamkan di Bekasi. Pada Selasa pagi sekitar pukul 07.00 WIB, jenazah langsung diberangkatkan ke kampung halamannya di Wonogiri, Jawa Tengah, menggunakan ambulans bantuan PT KAI.
“Informasi tadi pukul 07.00 WIB langsung dibawa ke kampung halamannya. Dimakamkan di sana (Wonogiri,red),” pungkas Prio. (ris)











