Berita Bekasi Nomor Satu

18 Warga Kabupaten Bekasi Jadi Korban Tabrakan Kereta, Pemkab Jamin Biaya Pengobatan

KUNJUNGI RUMAH DUKA: Plt Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja mengunjungi rumah duka Nurlaela salahsatu korban tabrakan kereta api di Stasiun Bekasi Timur di Cikarang Timur, Selasa (28/4). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah 18 warga Kabupaten Bekasi menjadi korban tabrakan antara KRL Commuter Line Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam. Jumlah itu berdasarkan pendataan Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Dari jumlah itu, tiga orang terkonfirmasi meninggal dunia, yakni Nurlaela warga Cikarang Timur, Ristuti warga Sukatani, dan Adelia warga Cibitung.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengatakan pemerintah daerah menjamin seluruh biaya pengobatan dan tindakan medis bagi korban yang masih menjalani perawatan.

Ia menyebut, Pemkab Bekasi bersama dinas terkait telah turun ke sejumlah rumah sakit di Kota Bekasi untuk memastikan kondisi korban sekaligus memverifikasi data di lapangan. Menurut dia, kendala administratif tidak boleh menghambat penanganan medis.

“Kita khawatir nanti penanganannya. Ya itu kan ada tindakan operasi, ada tindakan apa, yang kita jaminkan pemerintah Kabupaten Bekasi dalam hal ini. Siap menjaminkan apapun,” kata Asep, Selasa (28/4).

Asep mengakui proses identifikasi korban sempat mengalami kendala karena sebagian korban dalam kondisi tidak sadar dan tidak membawa identitas. Berdasarkan pendataan sementara, dari 18 korban asal Kabupaten Bekasi, tiga meninggal dunia, 13 dirawat, dan dua lainnya dirujuk, termasuk dua ibu hamil.

“KTP-nya nggak ada, namanya di tasnya bertebar kemana aja, belum bisa diajak komunikasi karena efek trauma. Makanya hari ini saya jalan ke RSUD Kota Bekasi, RS Bella, dan RS Primaya untuk identifikasi,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan duka mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Asep menyebut sebagian korban merupakan pekerja yang setiap hari bergantung pada transportasi kereta api untuk bekerja, termasuk seorang aparatur sipil negara di Jakarta Timur.

“Kita berikan motivasi, kesabaran, ketabahan untuk yang ditinggalkan. Semoga husnul khotimah karena beliau ini sedang bekerja,” tutur Asep.

Tragedi ini, kata Asep, menjadi perhatian serius pemerintah daerah untuk mengevaluasi keamanan perlintasan kereta api. Pemkab Bekasi berencana melakukan pemetaan jalur rawan kecelakaan, termasuk di kawasan Lemahabang.

“Ada pemetaan. Jalur-jalur kereta api sekarang sangat rawan, contohnya di Lemahabang. Itu perlu kita antisipasi ke depan. Apa nanti perlu kita bikin flyover? Ini gambaran kita ke depannya demi keamanan masyarakat,” tutup Asep. (ris)